Precedence: bulk
HAMZAH HAZ TERIMA RP 500 MILYAR DARI LOYALIS HABIBIE
JAKARTA (SiaR, 22/6/99), Histoire se repete, sejarah pasti berulang.
Ungkapan Prancis ini tampaknya layak dikenakan untuk menggambarkan
sepak-terjang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam khasanah politik
nasional.
Pada Pemilu 1997, kengototan PPP akhirnya sirna setelah para elite
partai disuap Soeharto -- melalui Golkar-- uang sebesar Rp1 trilyun untuk
meneken berita acara penghitungan suara, dan pencalonan kembali Soeharto
sebagai Presiden RI, setelah sebelumnya sibuk melempar isu akan menolak
menandatangani berita acara dan mengajukan calon alternatif di luar Soeharto.
Dari narasumber yang sama --seorang anggota DPR--, SiaR, Senin
(21/6) menerima informasi tentang telah disuapnya Ketua Umum PPP Hamzah Haz
oleh para loyalis Presiden BJ Habibie sebesar Rp 500 milyar. Menurut sumber
tersebut, penyuapan yang sebelumnya telah disepakati para elit partai
tersebut, dilakukan sebelum adanya pertemuan antara Presiden Habibie dengan
Hamzah Haz akhir pekan lalu.
Memang setelah disuap Habibie, sekonyong-konyong Hamzah Haz mengeluarkan
pernyataan pers yang sama sekali bertentangan dengan keputusan Muktamar PPP
baru-baru ini, yang menegaskan akan mengajukan calon presiden dari kader
partainya saja. Tapi setelah pertemuan dengan Habibie, mantan Meninvest itu,
kepada pers menyatakan partainya kemungkinan akan mencalonkan Habibie,
Wiranto, atau Amien Rais sebagai presiden RI mendatang.
Sumber tersebut menuturkan, para operator dan loyalis Presiden Habibie,
sebagai tim sukses untuk menghantar Habibie terpilih sebagai presiden
berikutnya hasil Pemilu, Juni 1999 lalu, kini sedang mempersiapkan dana
trilyunan rupiah untuk memenuhi ambisi tersebut.
Dana itu antara lain disokong oleh para pengusaha nasional yang
sejauh ini dikenal loyal kepada Presiden BJ Habibie, seperti adik kandung
Habibie, Timmy Habibie, Tanri Abeng, Fadel Muhammad, serta Ketua Dewan
Pertimbangan Agung (DPA) Arnold Baramuli.
Masih menurut sumber yang dulu membocorkan penyuapan Soeharto terhadap
Ismail Hasan Metareum itu, dana "tak terhingga" --meminjam istilah Kwik Kian
Gie ketika menjelang kampanye lalu membocorkan tentang kemungkinan akan
disogoknya anggota MPR dalam pemilihan presiden mendatang-- yang
dipersiapkan, selain untuk menggerilya anggota-anggota MPR mendatang, juga
disisihkan untuk ormas-ormas berkedok agama, dan gerakan-gerakan mahasiswa
pro-status quo, hingga dapat memperlicin jalan Habibie ke kursi presiden.
"Tujuannya untuk menggalang opini di luar parlemen, terutama
mendiskreditkan saingan terberatnya ke kursi presiden, yaitu Megawati
Soekarnoputri, dengan isu-isu gender dan agama," kata sumber yang kini sudah
memastikan diri untuk terpilih kembali sebagai anggota DPR dari hasil Pemilu
lalu itu.
Hamzah Haz dan para elite partai PPP, selain telah menganulir keputusan
Muktamar PPP dalam hal pencalonan presiden dari kader partainya, juga kini
gencar mengeluarkan berbagai statement yang intinya menolak calon presiden
berjenis kelamin perempuan, seperti telah ditegaskan para ulama Majelis
Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu.
Tentang adanya indikasi politik uang untuk melicinkan jalan Habibie ke
kursi kepresidenan itu, sebenarnya mulai muncul kepermukaan ketika dalam
kesempatan kampanye di Pontianak, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati
Soekarnoputri di hadapan ribuan massanya menyatakan, bahwa dirinya telah
dihubungi pihak-pihak tertentu yang menawarkan uang Rp1 trilyun, asalkan
mengurungkan diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html