Precedence: bulk
ALASAN KEAMANAN JAJAK PENDAPAT DITUNDA
DILI (MateBEAN, 23/6/99), Dengan pertimbangan faktor keamanan yang
belum kondusif, serta masih adanya kekerasan yang dilakukan oleh kelompok
pro-otonomi, akhirnya Sekjen PBB Kofi Annan memutuskan untuk menunda jajak
pendapat Timtim selama dua pekan dari yang semula dijadwalkan berlangsung 8
Agustus 1999.
"Penundaan yang singkat ini memiliki beberapa keuntungan. Kita bisa
menjamin situasi keamanan yang baik dan mendukung, masalah logistik bisa
dipecahkan dan penggelaran personil PBB bisa tepat waktu," kata Annan dalam
pernyataan yang dikeluarkan di Markas Besar PBB, Selasa malam (Rabu pagi WIB).
Penundaan pelaksanaan jajak pendapat rakyat Timor Timur oleh Sekjen
PBB Kofi Annan yang semula direncanakan pada 8 Agustus menjadi akhir
Agustus 1999, karena pertimbangan keamanan di wilayah bekas jajahan Portugal
itu belum kondusif dan belum rampungnya persiapan yang dilakukan UNAMET.
Sebelumnya Wakil CNRT di luar negeri, Ramos Horta juga beberapa kali
mengusulkan agar jajak pendapat di Timtim ditunda, sampai masalah keamanan
betul-betul kondusif. Karena mendekati jajak pendapat, kelompok pro otonomi
terus menerus melancarkan aksi pemaksaan terhadap masyarakat sipil untuk
menerima opsi pertama yakni otonomi luas.
"Sangat mengutungkan bagi kelompok pro-kemerdekaan untuk melakukan
konsolidasi ke bawah, karena selama beberapa pekan ini kelompok
pro-kemerdekaan dikejar-kejar, sehingga mereka sulit untuk melakukan persiapan
dalam menghadapi kampanye jajak pendapat ini. Saya kira dengan penundaan itu
mereka bisa melakukan persiapan yang matang menghadapi kampanye jajak
pendapat ini," kata seorang mahasiswa Untim di Dili pada MateBEAN.
Bahkan menurut beberapa pihak yang ditemui MateBEAN bahwa kalau situasi
keamanan belum kondusif benar pada awal Agustus nanti, maka besar
kemungkinan bahwa Sekjen PBB bisa menunda lagi jajak pendapat hingga awal
atau pertengahan September mendatang.
"Kalau kelompok pro-otonomi masih melakukan kekerasan maka Sekjen
PBB punya kewenangan untuk menunda atau memperpanjang lagi," kata sumber itu.
Sedangkan Panglima Perang Pro Otonomi Joao Tavares yang dihubungi beberapa
wartawan mengatakan bahwa penundaan jajak pendapat itu dengan alasan yang
tidak tepat. Tapi dengan lagak sangat "bodoh" dia menjawab beberapa
pertanyaan wartawan misalnya, "Bagaimana tanggapan Anda dengan penundaan
jajak pendapat?" Joao Tavares menjawab, "Ya bagus, bagus lah. Apa? Jajak
pendapat ditunda? Sebaiknya Timtim ini jadi status KO (maksudnya status quo)
saja."
Kontan beberapa wartawan yang mendengarkan jawaban itu tertawa.
Namun karena takut kalau Tavares marah, mereka terpaksa menahan tawanya.
"Masa orang seperti ini kok dipercaya jadi bupati. Bahkan tidak bisa
menjawab pertanyaan wartawan dengan baik," kata seorang wartawan.
Kejadian lucu juga muncul ketika Joao Tavares membacakan sambutannya
pada pembukaan Front BRTT. Saat itu ia membaca saja teks yang dibawanya,
"Yang Terhaormat Bapak Gubernur Timtim, Yang Terhormat Bapak Danrem Timtim,
dan Yang Terhormat Bapak Panglima Perang Pro-Otonomi...," katanya. Banyak
orang bertanya-tanya, apakah Joau lupa atau tidak tahu bahwa panglima Perang
Pro-Otonomi adalah dirinya sendiri.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html