Precedence: bulk
SOAL PENCULIKAN USTAD, MUI DINILAI MENGHASUT DAN PUTAR-BALIKKAN FAKTA
JAKARTA (SiaR, 30/6/99), Masyarakat tak henti-hentinya menyesalkan
sepak-terjang Majelis Ulama Indonesia (MUI). Setelah ulama se-Jawa,
Sumatera, Madura, Bali meminta MUI untuk tidak terlibat dalam pertarungan
politik kekuasaan, dan fatwanya yang bias gender ditolak berbagai
organisasi, kini giliran warga Tanjungpriok menyesalkan pernyataan pers MUI
yang dianggap dapat menghasut, mengadu-domba, dan memutar-balikkan fakta.
Pasalnya pekan lalu, MUI mengirimkan fax pernyataan pers ke berbagai
media-massa yang isinya tentang kasus tertangkapnya belasan ustad oleh
satgas PDI Perjuangan ketika sedang menyebarkan selebaran gelap, serta
memasang spanduk yang mendiskreditkan PDI Perjuangan pada hari tenang,
menjelang pelaksanaan Pemilu pada 5-6 Juni 1999 lalu di 5 wilayah Jakarta,
Tangerang,dan Bekasi.
Tapi, pernyataan pers MUI itu ditolak para pengurus DPC PDI Perjuangan
Jakarta Utara, dan satgas setempat, karena isi pernyataan pers tersebut
menyebutkan, bahwa seolah-olah telah terjadi peculikan dan penganiayaan oleh
pasukan satgas PDI Perjuangan terhadap belasan ulama/ustad yang dituduh
telah menyebarkan selebaran gelap itu.
Menurut Ketua Satgas DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara Tarmidi ES kepada
SiaR, Selasa (29/6) kemarin, pernyataan pers MUI itu menyesatkan, dan dapat
dikategorikan menghasut, serta memutar-balikkan fakta, karena kronologi
peristiwa yang sebenarnya tak seperti apa yang tertulis dalam versi MUI
tersebut.
"Justru, para penyebar selebaran gelap itu mestinya berterima kasih kepada
kami, karena satgas PDI Perjuangan menyelamatkan mereka dari amukan massa
yang tak senang dengan cara-cara mereka, yang dinilai telah memperalat agama
untuk kepentingan politik kelompok tertentu," ucap Tarmidi.
Untuk menghindarkan hal-hal yang tak diinginkan, kata Tarmidi, pihaknya
membawa para penyebar selebaran gelap itu ke kantor polisi di Polsek
Tanjungpriok, dan Polres Jakarta Utara. Warga Tanjungpriok yang mayoritas
pro-Megawati, lanjut Tarmidi, malam itu sudah hampir menghakimi para
penyebar selebaran gelap, sebelum atas inisiatif para satgas membawa mereka
ke kantor polisi.
Tarmidi menolak apa yang disebutkan di pernyataan pers MUI, bahwa
seolah-olah para satgas PDI Perjuangan telah menculik para ulama dan ustad.
Menurut Tarmidi, pelakunya, tak semuanya ustad, tapi ada juga pelajar,
karyawan, mahasiswa, pengangguran, guru, yang pada umumnya merupakan
simpatisan partai politik tertentu.
Menurut Tarmidi, sebagian dari penyebar selebaran gelap itu bahkan telah
mengaku dibayar seorang "boss" di kawasan Tanjungpriok yang selama ini
dikenal merupakan simpatisan Partai Golkar.
Sementara itu, menurut kesaksian beberapa tukang ojek sepeda yang
mangkal di kampung Muara Bahari, dan warga masyarakat di Kelurahan Semper yang
terlibat dalam penangkapan pada malam itu, menyebutkan, bahwa tidak seperti
keterangan pers yang dimuat di koran-koran dan tabloid, bahwa seolah-olah
para penyebar selebaran itu hanya sedang menyebarkan selebaran fatwa MUI
saja. Tapi, kata Oji, seorang tukang ojek, mereka juga tertangkap sedang
menyebarkan selebaran gelap tentang caleg non-muslim, dan sedang memasang
spanduk yang isinya juga soal caleg non-muslim-nya PDI Perjuangan.
"MUI itu kan lembaga terhormat, koq tega ya memutar-balikkan fakta?" ucap
Oji yang simpatisan PDI Perjuangan itu.
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara, Hj. Sumiyati
Soekarno menegaskan, pihaknya siap jika kasus ini dibawa ke pengadilan,
karena mereka punya bukti-bukti dan saksi-saksi yang menguatkan. Kepada
SiaR, Hj. Sumiyati menunjukkan sebuah spanduk besar yang disita dari para
penyebar selebaran gelap, dan bertuliskan: "Masya Allah Ternyata PDI Mega
itu Partainya Orang Kristen�90 % Caleg-nya Non-Muslim". Menurutnya, ada
belasan spanduk, dan ratusan jenis selebaran gelap dari berbagai versi yang
berhasil mereka sita dari para pengedar selebaran itu. Dan bukti-bukti
spanduk seperti ini, disiapkan DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara, jika jadi
berperkara ke pengadilan.
"Banyak warga Tanjungpriok menyatakan siap untuk menjadi saksi, jika kasus
ini mau dibawa ke pengadilan. MUI sebagai lembaga terhormat seharusnya
melakukan cross-check dong ke kami. Jangan terima informasi sepihak," ujarnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan MUI sangat berbahaya, dan dapat
mengakibatkan adu domba antarwarga. "Harap di-ingat pendukung fanatik PDI
Perjuangan di Tanjungpriok juga muslim. Apa MUI mau mengadu domba muslim
dengan muslim?" kata caleg PDI Perjuangan nomor urut 1 untuk DPRD DKI
Jakarta yang telah naik haji sebanyak tiga kali itu.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html