Precedence: bulk
SUARA PDR JEBLOK, JUMHUR MONOPOLI DANA
JAKARTA (SiaR, 2/7/99), Perolehan suara Partai Daulat Rakyat (PDR)
yang jeblok mengakibatkan kemarahan Menkop, Adi Sasono. Sementara itu
suntikan dana sebesar Rp 50 milyar tak dapat dipertangungjawabkan oleh
pengurus. Di dalam kubu PDR konflik antara Mohammad Jumhur Hidayat dengan
Syahganda Nainggolan mengeras, berkenaan dengan pembagian uang dan proyek
yang dimonopoli Jumhur.
Agaknya, mesti didukung jajaran mantan aktivis, perolehan suara PDR tidak
layak untuk menjadi kuda hitam pada Pemilu. Begitupun suntikan dana sebesar
Rp 50 milyar yang disalurkan justru menjadi awal perpecahan di jajaran
pengurus karena rebutan proyek dan dana partai tersebut.
Klaim kosong yang diserukan Mohammad Jumhur Hidayat saat deklarasi PDR
tampaknya mulai terkuak, begitupun bocoran surat dari Syahganda Nainggolan
ke Menkop Adi Sasono. Padahal saat deklarasi, PDR menghadirkan puluhan ribu
pendukungnya yang sebagian adalah pedagang kecil, kaki lima, tukang ojek,
penarik becak dan lain-lain. Namun ternyata perolehannya tetap mengecewakan
Adi Sasono.
Menurut Latief Burhan, Ketua Umum PDR , perolehan suara mereka
anjlok karena dalam infrastruktur partainya para pengurus sibuk berkelahi
mencari proyek. "Itu adalah bagian dari kelemahan manajemen partai yang
berumur tiga bulan. Infrastruktur yang lemah itu dimanfaatkan sebagai alat
vested interest pribadi-pribadi" ujarnya.
"Bahkan setelah PDR tidak memperoleh suara mereka tidak berani
muncul ke kantor. Mereka menghilang ," aku Latief.
Konon menurut info yang diterima SiaR, perpecahan itu terjadi antara
Mohammad Jumhur Hidayat dengan kubu Syahganda Nainggolan soal penggunaan
dana partai. Soal dana itu dipertegas Jumhur, selaku Sekjen PDR, yang
menyatakan bahwa anjloknya suara PDR karena saat terakhir kekurangan dana.
"Pada saat terakhir, kita enggak mempunyai amunisi untuk membangun
jaringan itu," ujar Jumhur seperti dikutip DeTAK. "Pada saat kita
kekurangan dana bukan dalam arti uang, tapi orang bekerja kan perlu ongkos.
Akibatnya jaringan itu tak tergarap sebagaimana mestinya," lanjutnya.
Menurut sejumlah sumber, Jumhur yang sering dipanggil Denci itu memang
terkenal royal soal uang. Pertentangan Denci dengan kubu Syahganda
Nainggolan diduga karena Denci memonopoli penggunaan dana PDR.
Namun Denci membantahnya. "Saya enggak ada keturunan untuk
mengambil duit kayak begitu, takdir saya bukan soal duit," ujarnya. "Takdir
saya untuk memperjuangkan keyakinan, walau pun itu mesti masuk penjara. Ha,
ha, ha. Alhamdulilah saya pernah hidup miskin, " lanjutnya.
Jumhur yang sering mengatakan pernah dipenjara dan siap membela
keyakinannya ini tampaknya diragukan oleh para mantan temannya semasa
sama-sama dipenjara karena terlibat Peristiwa 5 Agustus. Menurut Moch
Fadjroel Rachman, "Jika Jumhur siap dipenjara, mengapa dulu ia menangis tiap
hari di penjara Sukamiskin menyesali perbuatannya." Bahkan seorang mantan
sahabatnya yang sama- sama dipenjara Kasus 5 Agustus menguraikan bagimana
Jumhur memohon maaf pada Rudini (Mendagri saat itu -red.) agar cepat
dikeluarkan dari penjara.
Menurut sumber SiaR, tuduhan Latief Burhan itu dialamatkan pada Jumhur,
yang tidak bisa mempertangung-jawabkan dana sebesar Rp 40 milyar yang
dikelolanya dalam Pemilu. Akibatnya Adi Sasono konon marah besar sampai
kambuh sakit levernya dan dirawat di Singapura. Sumber tersebut mengutip
ucapan Adi yang penuh kekecewaan, "Untung PDR tidak menang. Kalau menang,
bagaimana mereka akan mengurus rakyat kalau mentalnya seperti itu. Mereka
makan, tidur, berak di rumah saya. Sekarang saya disuruh membersihkan piring
dan kotoran mereka."
Bagaimana nasib partai yang punya semboyan "kaki lima perkasa adalah
daulat rakyat" itu. Menurut Jumhur, "PDR akan ganti nama bisa PDRI atau
PADRI yang kependekan dari Partai Daulat Rakyat Indonesia." Lantas jika
dibubarkan bagaimana? Menurutnya, tak ada masalah karena jika mengacu pada
UU Pemilu partai yang tak memperoleh suara hingga 2% tak boleh mengikuti
Pemilu. Menurut beberapa kalangan pernyataan Jumhur ini ada hubungannya
dengan soal pertangung- jawaban pada Adi Sasono perihal dana sekitar Rp 40
milyar saat Pemilu lalu.
Nasib partai yang semula dipromosikan akan jadi kuda hitam dengan Adi
Sasono sebagai kusirnya ternyata terjerembab jadi kambing hitam saat Habibie
jengkel akan jebloknya perolehan suara partai pendukungnya. Bahkan Habibie
sendiri saat ditanyai masalah Adi oleh orang dekatnya, mengatakan, "Dia
finish. Nol, nol, nol besar." Ucapan itu ditirukan sumber SiaR yang pernah
jadi Aspri Habibie. Konon hal ini membuat Adi jatuh sakit sejak selesai
Pemilu hingga merasa perlu istirahat di pulau Bali sebelum diterbangkan ke
Singapura. Di Bali, Adi istirahat di tempat Nyonya Dewi Ongko Tanjung,
pacarnya. Konon wanita pengusaha kaya itu memiliki banyak saham di BUMN dan
telah dua tahun ini menjadi pacar gelap Adi Sasono.
Di kalangan aktivis demonstran Angkatan 80-an, Jumhur dikenal sebagai orang
yang arogan dan punya kegenitan politik namun tak pernah becus mengorganisir
mahasiswa. Agaknya, kambuhnya penyakit hepatitis yang diderita Adi Sasono,
telah menunda pertanggung-jawaban para mantan aktivis yang sekarang masih
berkelahi rebutan sisa rejeki di PDR dan sibuk berkelit sana-sini.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html