Precedence: bulk


OPERATOR CENDANA DIORDER MENDEMO MEDIA MASSA ANTI STATUS QUO

        JAKARTA (SiaR, 9/7/99). Ongen Sangaji, seorang pemuda yang dikenal sebagai
operator keluarga Cendana dalam kerusuhan Ketapang dan Ambon, diorder untuk
melakukan serangkaian teror dan demonstrasi ke sejumlah media massa ibukota
yang pemberitaannya dinilai anti status quo. Demikian informasi yang
diperoleh SiaR, Kamis (8/7) dari seorang tokoh pemuda sebuah ormas
kepemudaan di Jakarta.

        Menurut informasi tersebut, Ongen yang dikenal dekat dengan tokoh Pemuda
Pancasila, Yapto Suryosumarno, dan Yorris Raweyai, setelah dua hari
berturut-turut mendatangi dan mendemonstrasi kantor suratkabar Harian
"Rakyat Merdeka" dan Harian "Suara Pembaruan" pada Selasa (6/7) dan Rabu
(7/7) lalu, kini, bersama ratusan orang bayarannya, sedang mempersiapkan
diri untuk mendemo Harian "Kompas", dan beberapa media massa lain yang
dinilai anti status quo, seperti Majalah "D&R", serta tabloid "DeTAK".

        Ongen Sangaji dan kelompoknya, dengan mengusung nama Gerakan Muslim
Perjuangan untuk Reformasi (Gempur) mendemo kantor-kantor media massa
tersebut dengan dalih menuntut pemberitaan yang berimbang, dengan
memperhatikan kepentingan rakyat banyak, obyektif, dan tidak tendensius.
Keinginan mereka itu diformulasi ke dalam enam butir tuntutan, dan jika hal
tersebut tidak diindahkan, dalam waktu dua kali duapuluh empat jam, Gempur
akan menduduki area kantor penerbitan serta memboikot peredaran media cetak
tersebut.

        Menurut tokoh pemuda kepada SiaR, tindakan Ongen dan kawan-kawannya itu
bagian dari teror dan intimidasi para pendukung status quo kepada
institusi-institusi --termasuk pers-- yang dinilai memojokkan kelompok
status quo. Dan Ongen, lanjutnya, telah diorder untuk melakukan tindakan
teror dan intimidasi hingga menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR mendatang.

        Seorang pengamat pers di Jakarta, kepada SiaR menyatakan, bahwa di balik
demo tersebut ada kepentingan politik dari golongan tertentu. Menurutnya ada
inkonsistensi dalam tuntutan yang diajukan Ongen dan kawan-kawan. 

        "Mengapa mereka menganggap 'Rakyat Merdeka' atau 'Suara Pembaruan' sebagai
tendensius, tak obyektif, dan kebablasan dalam pemberitaannya. Padahal
menurut pengamatan saya ada beberapa media massa lain yang justru pantas
untuk disebut tendensius, tak obyektif, dan kebablasan seperti tabloid
'Tekad', Harian 'Republika', majalah 'Media Dakwah', dan 'Sabili', atau
tabloid 'Siar', serta 'Mahasiswa Indonesia'," ujarnya.

        Menurut dia, berita-berita media massa yang disebut belakangan cenderung
partisan dan terus menerus menyerang golongan lainnya, karena kepemilikan
sahamnya memang dimiliki kelompok-kelompok pro status quo. Seperti "Tekad"
dan "Republika" yang sahamnya dimiliki kekuatan keluarga B.J. Habibie, serta
"Media Dakwah", "Siar", dan "Mahasiswa Indonesia" yang dimiliki kekuatan
keluarga Cendana.

        Hingga berita ini diturunkan, belum ada reaksi dari berbagai organisasi
kewartawanan yang biasanya kritis terhadap persoalan ini, seperti Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan lain-lain.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke