Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 23/II/11-17 Juli 99
------------------------------

PDI-PERJUANGAN TAK REFORMIS

Oleh: Togi Simanjuntak

(OPINI): PDI Perjuangan tampaknya tak akan terkejar oleh partai-partai lain
untuk tampil sebagai partai pemenang pemilu. Tetapi, akhir-akhir ini wacana
demokrasi yang berkembang -teristimewa di kalangan elite dan pengamat
politik- adalah suatu situasi pengingkaran terhadap kepatutan politik di
alam demokrasi itu sendiri.Ada gejala terjadinya praktek-praktek extra
electoral process oleh sebagian elite politik yang akan menegasikan pilihan
demokratis rakyat melalui sarana pemilu sebagai praktek electoral process.

Di satu sisi, para elite itu mencoba mengutak-atik suatu formula baru
tentang suatu pilihan demokratis versi masing-masing, di sisi lainnya -untuk
kepentingan politik tertentu- dengan diperkuat argumentasi sejumlah pengamat
politik, -bak cerita di dunia wildwest- ditembakkanlah peluru-peluru dari
senapan milik mereka yang diarahkan ke partai pemenang pemilu itu. Tak
terkecuali ke diri calon presidennya, Megawati Soekarnoputri.

Terhadap berbagai upaya penjegalan -suatu terminologi yang mendadak populer
di media-massa dalam konteks munculnya suara-suara anti-Mega itu, salah
seorang pembantu Megawati, Mochtar Buchori bereaksi cukup keras hingga
sampai kepada pilihan istilah, desperate of sense -untuk menggambarkan orang
yang sudah habis akal sehingga segala macam cara ditempuh. Maksudnya tentu
untuk penggunaan isu gender dalam perspektif agama yang gencar ditimpakan
kepada diri Megawati oleh kelompok-kelompok yang tak menyetujui terpilihnya
Megawati sebagai calon presiden.

Apalagi rencana pembahasan RUU Kepresidenan, yang konon, akan memasukkan
klausul tentang pendidikan formal seorang capres minimal strata satu. 

Bahkan opini yang kemudian berkembang dan menjadi wacana publik di media
massa adalah, bahwa PDI Perjuangan itu pro-status quo. Dan mereka yang
menembakkan tudingan ketak-reformisan PDI Perjuangan adalah -believe it or
not- orang-orang yang dulunya merupakan elite dan pengamat politik
pro-Soeharto, atau -kalau tidak pro Soeharto- paling tidak pro-Habibie.

Benarkan PDI Perjuangan itu tak reformis? Cendikiawan muslim Nurcholish
Madjid (Cak Nur) menyebutkan ada dua acuan sebagai parameter atau tolok ukur
sebagai metode penilaian reformis atau tidaknya suatu partai, yakni, pertama
aspek institusional, dan disini ia menyebut Partai Golkar sebagai termasuk
didalamnya. Kedua, aspek ideal dengan berdasarkan pada substansi yang
dimiliki suatu partai, apakah itu platform, visi, dan orientasi program
suatu partai. Dari aspek inilah PDI Perjuangan banyak dipojokkan sebagai tak
reformis. Paling tidak dengan menyebut agenda-agenda reformasi antara lain;
dwifungsi ABRI; amandemen UUD '45; isu negara federal/otonomi daerah, maka
PDI Perjuangan diposisikan sebagai tak reformis.

Di luar acuan Cak Nur itu, maka menurut penulis karena masyarakat itu
berkembang atas prinsip-prinsip dialektika historis, maka perspektif
historis-empiris perlu ditambahkan sebagai tolok ukur berikutnya. 

Dengan landasan tiga acuan itu, maka untuk membangun argumentasi tentang
dimana posisi PDI Perjuangan dalam gerakan reformasi itu, diperlukan
kesahihan atas dasar kajian yang memiliki perspektif kultural dan historis
berdasarkan bukti-bukti (evidences) empirik dari perjalanan sejarah suatu
partai/kekuatan politik tertentu. Dengan melakukan kajian tekstual atas
isi-isi pidato politik sang ketua umum PDI Perjuangan, serta
membongkar-bongkar kliping media-massa tentang pandangan partai tersebut
terhadap agenda politik reformasi, ternyata partai berlambang banteng kekar
dalam bulatan itu adalah reformis. Ini bertolak-belakang dengan wacana
reformasi yang ditumbuh-kembangkan oleh para pengamat politik seperti Eep
Saefullah Fatah mengenai PDI Perjuangan!

Pertama, tentang dwifungsi ABRI. Dalam dua kali pidato politiknya [baca;
pidato politik Megawati di Kongres Bali, Oktober 1998; serta pidato politik
Megawati di acara Halal Bihalal Idul Fitri, Januari 1999], Megawati
menegaskan, bahwa ABRI perlu kembali ke jatidirinya sebagai tentara
nasional, dan tentara rakyat yang dicita-citakan Penglima Besar Jenderal
Soedirman. Untuk itu, tegas Mega, ABRI perlu melakukan redefinisi, reposisi,
dan refungsionalisasi atas peran sosial-politiknya selama ini.

"Sudah jelas, bahwa militer dan sipil memiliki perannya masing-masing,"
demikian Mega. Jika, kemudian PDI Perjuangan sepertinya mengesankan sepakat
dengan penghapusan dwifungsi secara gradual, itu adalah dikarenakan hasil
kompromi-kompromi Deklarasi Ciganjur, November 1998 yang juga disepakati
Amien Rais, dan Gus Dur. Visi PDI Perjuangan tentang dwifungsi ABRI justru
mengalami moderasi, karena adanya kompromi dengan kekuatan-kekuatan politik
lain itu, karena seperti ada tertulis dari hasil brainstorming tema-tema
pokok pemenangan Pemilu yang dicetuskan DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta,
Oktober 1998, bahwa dwifungsi ABRI harus dicabut sekarang juga sebagaimana
tuntutan mahasiswa.

Kedua, amandemen UUD '45. Megawati berkali-kali [baca pidato politik
Megawati menyambut HUT ke-XXV PDI, Januari 1998, serta peringatan dua tahun
Peristiwa 27 Juli, 27Juli1998] menegaskan pentingnya masa jabatan presiden
dibatasi dua periode saja. PDI Perjuangan sendiri tidak phobi untuk
mengamandemen batang-batang tubuh UUD '45 seperti berkali-kali ditegaskan
fungsionaris partainya. Hanya saja refleksi kritis Megawati terhadap
pemerintahan Soeharto -menyangkut UUD '45- menegaskan: "Andai saja, dengan
modal kepercayaan Rakyat yang diberikan pada para pemimpin bangsa ini,
penyelenggaraan berbangsa dan bernegara benar-benar dijalankan sesuai dengan
amanat UUD '45 dan Pancasila, saya yakin dan haqqulyakin, kita tidak akan
mengelami nasib seperti sekarang ini."

Ketiga, negara federal/otonomi daerah. Sikap PDI Perjuangan jelas, bahwa
persoalan ini dilihat dari pendekatan struktural tentang keadilan
ekonomi-politik pusat-daerah, karenanya PDI Perjuangan ingin tetap
mempertahankan negara kesatuan RI dengan; "segera dibuat UU yang menjamin
otonomi yang nyata dan luas; dengan menjamin bahwa yang mempunyai hak
otonomi itu pada hakekatnya adalah rakyat, bukan aparat (birokrasi); dengan
melaksanakan perimbangan keungan antara pusat dengan daerah secara adil dan
realistis." [baca Pappu Pusat PDI Perjuangan, Tema Pokok, Tema Umum dan Tema
Bidang dalam Kampanye Pemilu 1999]. Dan langkah untuk itu adalah dengan
mencabut UU No.5/1974, serta UU No.5/1979 tentang pemerintahan daerah.

Juga ada upaya penyebarluasan opini yang tak tepat oleh para penjegal PDI
Perjuangan, bahwa PDI Perjuangan tak terlibat dalam arus gerakan pro
reformasi yang awalnya dimotori para mahasiswa. Benarkah demikian?

Tanpa bermaksud menegasikan peran banyak elemen masyarakat pendukung gerakan
pro-demokrasi, maka PDI Perjuangan -jika didekatkan dari perspektif
historis-empiris, maka seluruh kader dan simpatisan PDI Perjuangan,
sebenarnya telah terlibat dalam suatu gerakan perlawanan terhadap rezim
oligarki militer Soeharto sejak pelaksanaan Kongres Luar Biasa PDI di
Surabaya tahun 1993, saat Mega menolak intervensi Soeharto yang coba
menggolkan Budi Hardjono sebagai ketua umum partai.

Bahkan, akhir-akhir ini ada pendapat dan opini yang dikembangkan para
penjegal PDI Perjuangan, bahwa PDI Perjuangan memenangkan pemilu hanya
karena mengeksploitir ketertindasannya. Dari pernyataan itu terkesan,
sebagai sebuah partai, PDI Perjuangan hanyalah sebagai subjek yang pasif,
bukan obyek yang aktif melakukan resistensi terhadap represi rezim Oligarki
militernya Soeharto. Orang lupa, bahwa di tubuh PDI Perjuangan karena
konsistensi sikapnya menentang Soeharto, ada kader yang gugur dan hilang [27
Juli 1996], ditangkap dan diadili [Barisan Merah-Putih/BMP, Februari 1998],
diculik dan dihilangkan [Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam, Rian dan Sonny].

April 1997, PDI Perjuangan menegaskan menolak pelaksanaan Pemilu versi
Soeharto dengan cara mengepung gedung DPR/MPR, dan Januari 1998, sebelum
terjadinya gerakan mahasiswa yang massif di seluruh kota-kota besar di tanah
air, kader-kader PDI Perjuangan yang tergabung ke dalam BMP lebih dahulu
mengadakan dua kali long march meminta pertanggungjawaban Soeharto atas
krisis ekonomi yang terjadi. Akibat aksi tersebut, ratusan kader partai yang
potensial -dari mulai ketua cabang hingga ketua ranting- se-Jabotabek
dipidana tiga bulan penjara. Itulah sebabnya mengapa kader PDI Perjuangan
seperti absen, ketika ribuan mahasiawa secara patriotik melakukan aksi demo
besar-besaran menumbangkan Soeharto.

Jadi, jika harus memilih siapa yang memimpin bangsa ini untuk ke luar dari
krisis, antara para elite dan pengamat politik yang baru sekarang rajin
berteriak-teriak menyebut dirinya sebagai reformis -bahkan menuding PDI
Perjuangan sebagai tidak reformis, atau Megawati dan PDI Perjuangannya yang
sudah teruji dengan bukti-bukti empirik perjalanan kultural-historisnya,
maka pilihannya adalah lebih menaruh harapan pada yang terakhir ini.

(*) Penulis adalah sejarawan dan anggota PDI Perjuangan

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke