Precedence: bulk Sidang pembaca yang terhormat, Surat Pembaca ini Redaksi terima sebagai reaksi atas posting yang kami kutip di bawahnya. Kemungkinan besar posting itu berasal dari rekan-rekan KKSP Medan karena kami sendiri tidak menerima posting aslinya. Apa pun istilah yang dipakai, ayo tundukkan kepala untuk mereka yang harus kembali ke haribaan pertiwi, adik-adik kita yang telah meninggal dalam perjuangan hidup yang sangat keras. Mereka mati muda sebagai budak di lepas pantai Sumatera Utara tanpa mendapatkan perlindungan apa pun dari negara. Jerit mereka tidak pernah terdengar di tengah gegap-gempitanya "reformasi" dan jargon-jargon yang menyertainya. Isak tangis mereka tidak akan didengar oleh sebagian besar para anggota KPU yang sekarang tengah sibuk menghitung suara dan menghitung kemungkinan untuk menjadi anggota DPR. Jas dan dasi yang mereka pakai tidak harus dinodai bau amis anak-anak jermal yang sampai saat ini masih hidup jauh dari keluarganya, sebagai budak akhir abad keduapuluh ini. Redaksi SiaR ------------ Date: 15 Jul 1999 13:58:40 -0000 Tolong jangan pakai kata 'MATI' untuk Anak Jermal (atau siapapun dia yang namanya manusia) karena mereka itu bukan binatang! Halim, Koalisi NGO-HAM Aceh (NGO's Coalition for Human Rights) --------"Setiap manusia, wajib dihargai HAK nya"--------------------------- At 20:05 15/07/99 +0700, you wrote: >>>> Satu Lagi Buruh Anak Jermal Mati! Taha Oge Hulu (16) tak sempat menikmati rasanya naik kapal patroli AL karena terkena razia, kemudian Ia juga tak sempat menikmati BLK( Balai Latihan Ketrampilan) untuk belajar elektronik atau montir, lalu ditampung di perkebunan dan mendapat upah layak sembari mungkin ia bisa bersekolah lagi. Ia tak sempat mengirimkan sejumlah uang dari hasil keringatnya bekerja untuk keluarganya yang di desa Hilitane Mayange, Kecamatan Teluk Dalam, Nias. Ia tak sempat menikmati upah di atas UMR. Ia tak sempat tahu bahwa akhir Juni 1999 seharusnya anak-anak tak ada lagi yang bekerja di jermal sebagaimana janji-janji Menaker Fahmi Idris bahwa mulai 1 Juni 1999 tidak akan ada lagi anak-anak yang bekerja di jermal Pantai Timur Sumatera Utara. Ia tak sempat menikmati itu semua karena keburu mati, umurnya yang belum genap enam belas tahun tak panjang, di jermal Lamtiong, perairan Beting Bawal Asahan, Kamis pagi tanggal 8 Juli 1999. Mati dengan kondisi yang mengenaskan, di lehernya terdapat tanda membiru seperti bekas jeratan tali. Taha Oge Hulu kini menambah daftar korban-korban yang terus berjatuhan di jermal. Kasus-kasus kematian di jermal: 1. Toni Panggabean (16), mati pada 14 Nopember 1998, di jermal Swie Kiang perairan Beting Bawal - Asahan. Keluarganya tidak diketahui. Visum dokter menyebutkan ia mati karena sakit. Tubuhnya membengkak dan biru-biru. Jenazahnya dikuburkan di Perkuburan Kristen Teluk Ketapang Tanjung Balai, oleh persatuan marga Panggabean -Tanjung Balai. Dari investigasi KKSP ditemukan fakta bahwa Tony Panggabean adalah anak jalanan, semasa hidup ia pernah di doorsmer Terminal Amplas. Sejumlah rekannya di jermal juga membenarkan bahwa ia dulu berasal dari kawasan terminal Amplas Medan 2. Jumadi (15) dan Miswan (16), mati tanggal 28 oktober 1996. Keduanya jatuh terseret ombak laut ketika sedang bekerja pada malam hari. Keduanya adalah bersaudara yang berasal dari keluarga miskin di desa Lubuk Palas Kecamatan Air Joman ?? Asahan. 3. Sebelumnya juga telah berulang kali sejumlah anak-anak melarikan diri dari jermal karena tidak tahan dengan kondisi di jermal, dengan cara merenangi lautan luas. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
