Precedence: bulk


Kepada:
Redaksi SiaR dan Ekspos

Salam. Saya sangat tertarik pada artikel ttg Letkol Polisi Anton Tabah, 
kolumnis yang dibesarkan Kompas. Penerbit Gramedia, milik Kompas, bahkan 
menerbitkan bukunya. 

Selain itu, polisi ini diramalkan akan punya karir cemerlang. Dia memiliki
kelebihan yang mengesankan sehingga "sekalipun polisi kelihatan brengsek,
toh lahir orang bagus model Anton Tabah!". Kalimat ini pernah diucapkan
oleh seorang Redaktur Pelaksana Kompas. Sayangnya, Anton Tabah bukan 
lulusan Akabri sehingga agak mustahil bagi dia untuk menjadi Kapolri. 

Akan tetapi, banyak orang terkecoh dengan penampilan Anton Tabah yang 
suka berdandan dandy dan tutur katanya halus ini. Ternyata, Anton yang 
sebenarnya adalah tukang peras. 

Beberapa tahun yang lalu, ketika bertukas sebagai Wakapolresta di 
Yogyakarta, Anton Tabah diketahui memeras Harian Bernas. Saat itu, satu 
artikel dari Linus Soerjadi Ag, seorang sastrawan, dianggap melecehkan 
perasaan umat Islam. Sebenarnya artikel itu biasa-biasa saja. Linus 
menulis bahwa sunat adalah tradisi Yahudi. Kontan saja, tulisan ini 
memancing amarah beberapa pihak. Harian Bernas didemo oleh mahasiswa. 
Yang ikut demo sebenarnya kurang dari 20 orang, tetapi efeknya sangat besar.

Karena didemo itulah, polisi dikerahkan. Kantor Bernas dijaga hampir tiga 
hari. Anton Tabah rupa-rupanya melihat kesempatan memanfaatkan kasus ini. 
Dia menghubungi pemilik Bernas dan mensyaratkan kasus ini akan beres 
kalau ada imbalannya. Konon saat itu, dia meminta Rp 25 juta. Tidak 
banyak sebenarnya. Tapi permintaan ini ditolak karena sebelumnya Bernas 
sudah membayar polisi lebih dari 10 juta. Belum lagi makan, minum dan 
jatah polisi yang menjaga kantor. Karena tidak diberikan, Anton mengancam 
pimpinan Bernas bahwa akan ada demonstrasi besar-besaran. 

Melihat kenyataan ini Bernas melaporkan kejadian tersebut ke Jakob Utama, 
pemilik Kompas yang juga pemilik sebagian saham Bernas. Dan Jakob pun 
menelpon Kapolri untuk melaporkan lagi kasus pemerasan oleh anak buahnya 
itu. Akhirnya, hanya dalam tempo dua minggu, Anton Tabah dimutasi ke 
Polda Jateng tanpa jabatan. Terakhir dia terdengar menjabat sebagai 
Kadispen Polda Jateng, jabatan yang jauh dari lapangan.

Yang menarik dari demo terhadap Bernas ini adalah dugaan keterlibatan 
Emha Ainun Najib. Kalangan wartawan menengarai bahwa sebenarnya Ainun lah 
yang berada dibalik demo terhadap Bernas ini. Sudah jadi rahasia umum 
bahwa Linus adalah rival Ainun di bidang sastra. Tulisan "salah" di 
Bernas ini merupakan kesempatan untuk menjatuhkan Linus. Lalu, adakah 
saling silang antara Ainun dan Anton Tabah? Tentu saja. Dari kasus ini, 
Ainun memakai Anton untuk mengancam Bernas. Antonpun melihat ini sebagai 
peluang untuk memeras Bernas.

Hampir pasti bahwa perjalanan Anton ke Cendana pun dilempangi oleh 
persahabatannya dengan Ainun. Tidak banyak diketahui bahwa Ainun 
sesungguhnya sering mondar-mandir ke Cendana. Terakhir, yang luput dari 
perhatian, adalah ketika dia dititipi pesan dari Soeharto ke Gus Dur. 
Semasa Soeharto masih berkuasa juga, Ainun sudah dekat dengan kalangan 
Cendana. Dia mendapat BMW dari Moerdiono yang saat itu menjabat sebagai 
Mensesneg. 

Tidak heran jika Anton sekarang menjadi Sekretaris Pribadi Soeharto. 
Tidak heran pula kalau dia mengarang buku yang berisi puja puji terhadap 
diktator yang sangat kejam ini.

Salam,

Kartiko <email address deleted>

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke