Precedence: bulk


KANTOR MENTERI NEGARA KOORDINATOR
BIDANG POLITIK DAN KEAMANAN
REPUBLIK INDONESIA

= RAHASIA =

MEMO
----------
Nomor: M.53/Tim P4-OKTT/7/1999

Kepada Yth      : Bapak Menko Polkam
Dari            : Asmenko I/Poldagri
Perihal         : Gambaran umum apabila Opsi I gagal
Lampiran        : Nihil
Tanggal         : 3 Juli 1999

======================================

Bersama ini disampaikan dengan hormat laporan Tim Polkam di Dili, sebagai
berikut:

1. Setelah +- 23 tahun Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia, Timor
Timur kelihatan maju dengan pesat terutama di bidang fisik/materiil. Dalam
waktu singkat infrastruktur tergelar sungguh menajubkan, tetapi tidak
diikuti oleh mental spiritual masyarakatnya.

Perlawanan bersenjata GPK masih terus berlanjut dan ada kecenderungan makin
berkembang. Regenerasi berlangsung secara baik, sehingga tumbuh kelompok
perlawanan yang lebih terpelajar dan militan, mampu melaksanakan
kegiatan-kegiatan klandestin sehingga kegiatan-kegiatan terornya cukup
berhasil, mampu menarik, menciptakan opini, mempolitisir, sehingga terbangun
masyarakat anti integrasi. Secara terang-terangan masyarakat anti integrasi
ini dapat menciptakan kehidupan yang mencekam, sehingga terjadi eksodus
besar-besaran terutama di kalangan masyarakat pendatang.

2. Kelompok pro integrasi yang cukup banyak tersebar di seluruh wilayah
selama ini sedang terlena dan menjadi bulan-bulanan kelompok anti integrasi.
TNI terpojok bahkan mendapat teror dari kelompok anti integrasi. Suasana
demikian kacau sehingga pemerintah menilai tidak ada gunanya Timor Timur
dipelihara, karena sepanjang keberadaanya terus menerus membuat masalah,
sehingga lahirlah Opsi II.

Lahirnya Opsi II mengagetkan dan membangunkan kelompok pro integrasi yang
merasa bahwa mereka akan punah seandainya terlepas dari Indonesia. Karenanya
kebangkitan kelompok pro integrasi dalam sekejap bisa membalik suasana
menjadi lebih dominan. Walaupun situasi keamanan telah terkendali hingga
saat ini masyarakat pendatang belum/mungkin tidak akan pernah kembali lagi.
Kecuali nanti kalau Penentuan Pendapat dimenangkan Otonomi Khusus.

3. Opini dunia saat ini telah demikian terpengaruh, sehingga PBB mengambil
inisiatif untuk datang ke Timor Timur setelah persetujuan Tripartit di New
York sepakat untuk melakukan Penentuan Pendapat bagi rakyat Timor Timur
apakah menerima atau menolak Otonomi Khusus yang dikonsepkan PBB. Apabila
menerima rakyat Timor Timur tetap berintegrasi dengan bangsa Indonesia,
sedangkan bila tidak maka akan lepas dari pelukan Indonesia.

Tim United Nations Assesment Mission on East Timor (UNAMET) telah datang ke
Timor Timur mendahului sebelum Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Timor
Timur siap menerima kehadirannya. UNAMET disambut gegap gempita oleh
kelompok anti integrasi, karena kedatangan UNAMET mereka anggap sebagai dewa
penolong, sedangkan Pemerintah Daerah terpesona dan tidak berbuat apapun,
walau Pemerintah Pusat dengan Keppres No. 43 telah banyak melakukan
koordinasi antar Departemen.

Dengan kedatangan UNAMET, suasana kembali menjadi mengkhawatirkan karena
kelompok anti integrasi mendapat angin, sedangkan Pemerintah Indonesia yang
diberi tanggung jawab menjamin keamanan dalam upaya Penentuan Pendapat
menginstruksikan agar semua pihak (dalam hal ini yang terjangkau adalah TNI
dan kelompok pro integrasi) untuk tidak melakukan sesuatu yang berbau
intimidasi. Angin segar mendorong kelompok anti integrasi yang
mengintimidasi dan berlindung di balik UNAMET.

Pada awal kedatangan Tim Polkam (bagian dari Satgas P3TT), banyak pihak yang
melontarkan optimisme bahwa Otonomi Khusus akan menjadi pilihan masyarakat
namun setelah kedatangan UNAMET, terdapat banyak sekali faktor pendukung
yang mendorong kelompok anti integrasi untuk berada di atas angin. Terlalu
skeptis kalau kita mengatakan UNAMET memihak, tetapi dengan selalu
tertinggalnya kita di dalam merespon manuver pihak yang tidak bersahabat,
optimisme yang semula amat meyakinkan, menjadi bergeser. Ini dikarenakan
yang pertama karena ruang gerak kita demikian dibatasi, kemudian
ketidakberdayaan kita mengimbangi manuver UNAMET yang didalamnya didukung
oleh personil-personil lokal dan kelompok anti integrasi UNAMET didominir
oleh kelompok anti integrasi, dan ada kecenderungan tugasnya tidak sekedar
menyelenggarakan Penentuan Pendapat belaka, tetapi lebih jauh dari itu.

5.Tugas untuk memenangkan Otonomi Khusus untuk rakyat Timor Timur,
sesungguhnya tidaklah begitu sukar, karena yang dijadikan rebutan adalah
rakyat mengambang, yang tuntutannya sangat sederhana, yaitu tersedianya
bahan makanan dan obat-obatan. Siapa yang dapat memberi makanan dan
pengobatan pada merekalah panutannya.  Bahkan kelompok anti integrasi pun
menunggu uluran tangan ini, tetapi apa daya kita selalu terlambat, sedangkan
pihak anti integrasi mampu memanfaatkan peluang kehadiran UNAMET dengan
tugas-tugas tambahannya seolah-olah sebagai dewa menolong.

6. Di Dili ini telah menunggu sebanyak 32 LSM yang siap membantu
"pengungsi". Batasan antara pengungsi dan rakyat yang lapar tidak ada,
bahkan rakyat lapar tersebut bisa digiring dalam sekejap untuk menjadi
pengungsi di bawah tekanan kelompok anti integrasi. Banyak lagi dana-dana
yang segera akan mengalir dari luar negeri, kesemuanya dapat merubah peta
kekuatan. Dalam konstelasi demikian, rasa optimis yang tadinya demikian
besar menjadi meragukan, apalagi janji-janji dari pusat belum dipenuhi.
Pemerintah Daerah dan TNI saat ini hanya bisa menyaksikan orang lain memberi
makan rakyat kita, sedangkan kelompok pro integrasi mungkin tidak tersentuh.

Untuk menyikapi situasi seperti ini, memang masih tersedia waktu, namun
waktu berjalan terus, tanpa terlihat adanya tanda-tanda yang menguntungkan
bagi pemenangan Opsi I. Oleh karenanya tidaklah salah apabila kita
memprediksi kemungkinan paling buruk, yaitu Opsi I tidak diterima.

7. Bagaimanakah gambarannya apabila Opsi I gagal?

a. Kelompok anti integrasi akan berpesta pora, seperti terjadi pada saat
penarikan pasukan non organik dari Aceh pada bulan Agustus 1998 yang lalu.
Sementara rakyat Aceh telah merasa menang. TNI yang sedang diupacarakan
untuk kembali home base dilempari batu dan dicaci maki. Hal seperti ini bisa
terjadi di Timor-Timur dalam skala yang lebih sadis lagi. Walaupun sudah
beberapa kali digelar pertemuan-pertemuan, kesepakatan diantara
kelompok-kelompok bersenjata dengan kelompok-kelompok militan pro integrasi
baik di Pusat maupun di Daerah, tidak ada jaminan kedua belah pihak akan
saling menerima apabila Opsi I gagal. Pemerintah Indonesia mungkin merasa
terlepas dan beban berat menanggung permasalahan Timor-Timur yang tidak
pernah selesai kecuali kehilangan muka di mata dunia, tetapi kelompok pro
integrasi siap untuk mengambil posisi seperti kelompok anti integrasi siap
untuk mengambil posisi seperti kelompok anti integrasi saat ini. Pemerintah
Indonesia dalam hal ini tetap tidak bisa lepas tangan apabila pendukung
integrasi dibantai kelak. Dari monitoring selama ini, dapat diduga apabila
Opsi II menjadi pilihan masyarakat, maka  kelompok pro integrasi akan
melanjutkan perlawanan, dengan mengamankan terlebih dahulu keluarganya di
NTT. Dari aspek ini sudah dapat dipastikan pemerintah Indonesia tidak bisa
lepas tangan.

b. Bagaimana pula sikap kelompok anti integrasi terhadapa para pendatang
terutama TNI/Polri dan para Pegawai Negeri Sipil RI dan pendatang lainnya.
Apabila Opsi I menang pun TNI/Polri non Organik dan PNS non pribumi harus
meninggalkan Timtim secara terhormat. Bila Opsi II berlaku, akan terjadi
suatu  hal yang menakutkan bagi PNS RI. Suasana menegangkan adalah saat
mengumumkan hasil Penentuan Pendapat. Para kelompok pro integrasi yang
paling tegang, tanpa mengeyampingkan PNS RI. Mungkinkah PNS RI mampu tetap
melaksanakan tugasnya sampai saat pengumuman hasil Penentuan Pendapat.
Mereka akan minta jaminan pemerintah dan TNI bagi keselamatan mereka tidak
sekedar janji-janji tetapi harus dapat melihat rencana evakuasi terhadap
mereka yang tersebar di seluruh wiyah Timor-Timur.

c. Tidak bisa diabaikan bagaimana sikap para Milsas asal Timor-Timur yang
direkrut dari pendukung integrasi. Mereka adalah pahlawan integrasi. Apakah
mereka akan ikut induk pasukannya atau mungkin tidak mau meninggalkan
Timor-Timur, yang berarti akan memilih mengangkat senjata. Mereka adalah
putra derah yang mempunyai anak, isteri dan saudara-saudara di Timor Timur.
Paling tidak mereka menitipkan anak, isteri dan saudara-saudarannya di NTT.

c. Sudah dapat dipastikan bahwa kehidupan kemasyarakatan akan terganggu.
Perekonomian akan lumpuh, karena pengusaha pada umumnya adalah pendatang,
walaupun saat ini mereka masih aktif. Tapi sampai kapankah ini berlangsung.
Kira-kira hari "H" minus beberapa hari sebelumnya mereka akan menghindar ke
NTT. Sudah ada tanda-tanda kelompok anti integrasi telah membuat daftar
kepemilikan baru terhadap asset-asset yang akan ditinggal pemerintah dan
pendatang. Mereka tidak atau belum mampu mengoperasikan manajemen
kemasyarakatan, tidak akan mampu menghidupkan rumah sakit. Walaupun PNS RI
yang anti integrasi cukup bnayak tetapi umumnya tidak punya kemampuan.
Paling tinggi mereka akan dikendalikan oleh Gereja, sedangkan yang lainnya
akan dikendalikan oleh UNAMET atau Australia dengan relawannya.

8. Menyikapi hal-hal di atas kita hanya mempunyai waktu untuk memenangkan
Otonomi Khusus selama +- 6 minggu lagi, namun bila ini gagal, waktu yang 6
minggu itu sangatlah singkat untuk membuat rencana penyelamatan personil pro
integrasi beserta asset-asset lainnya. Karenanya penyusunan rencana
Kontijensi menghadapi Opsi II harus dikembangkan sedini mungkin. Pemerintah
masih terus menyisakan anggaran untuk mendukung rencana cadangan ini. Bila
pemerintah sudah kesukaran didalam mendukung pemenangan, konon menghadapi
kemungkinan yang tidak diharapkan tanpa rencana cadangan ini, wibawa
pemerintah di mata dunia akan lebih terpuruk, apalagi di mata rakyat
Indonesia umumnya.

Kemungkinan-kemungkinan yang masih dapat dilakukan oleh pemerintah adalah:

a. Tetap atas komitmennya untuk memenangkan Otonomi Khusus. Kita sudah
ketinggalan langkah didalam upaya merebut hati rakyat. Bantuan-bantuan dari
LSM asing sudah menunggu dan dapat dipastikan akan diboncengi oleh
unsur-unsur politis, dan akan dimanfaatkan oleh kelompok anti integrasi.
Oleh sebab itu komitmen pemerintah tersebut harus diwujudkan dengan lebih
memberdayakan kelompok pro integrasi. Mereka sangat mengharapkan ada sesuatu
daya baru agar dapat melakukan Operasi Simpatik.

b. Membuat rencana cadangan (Rencana Kontijensi) untuk menghadapi  situasi
apabila Opsi I tidak diterima.

1) Rencana untuk menyegerakan evakuasi PNS RI dan pendatang (sebelum
pengumuman hasil Penentuan Pendapat) ke daeah NTT.

2) Penyiagaan unsur-unsur TNI (AD, AL, AU) baik personil maupun peralatan di
dekat daerah-daerah untuk evakuasi.

3) Penyiapan daerah NTT untuk menerima pengungsi secara besar-besaran
berikut pengamanannya.

4) Merencanakan dan pengamanan rute pengunduran, kalau mungkin merusak
fasilitas-fasilitas objek vital.

5) Menurut informasi kekuatan bersenjata anti integrasi mendapat dropping
senjata yang signifikan, yang dapat dipastikan tidak akan diserahkannya,
meskipun ada kesepakatan damai. Ini menandakan bahwa apabila Opsi I berhasil
diperjuangkan, kelompok anti integrasi masih tetap memiliki rencana lain
dalam memperjuangkan  kepentingannya.

Demikian disampaikan laporan untuk bahan pertimbangan penentuan tindak
lanjut.

Asmenko I/Poldagri

(distempel dan ditandatangani)

H.R. Garnadi

Tembusan Yth.:
----------------
Bapak Sesmenko Polkam selaku Sekretaris Tim P4-OKTT

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke