Precedence: bulk Jurnal Penentuan Pendapat [02]: Kasus KALAU MEREKA MENENTANG, BUNUH SAJA! Perbedaan pandangan politik atas dua opsi yang ditawarkan Pemerintah Indonesia tidak saja menjadi pertentangan antara kelompok politik, tapi juga menimbulkan kecemburuan Kepala Desa Beikala, Jesito Neves dan anggota milisi. Beberapa anggota keluarga di Desa Beikala, Hato-Udo Kabupaten Ainaro yang membiayai anak-anaknya kuliah di Universitas Timor Timur diancam akan dibunuh. Lebih memalukan lagi ketika istrinya, Martinha da Costa membela kepentingan para mahasiswa. Jesito Neves tega menyiksa istrinya hingga babak belur. Ternyata, pernyataan dalam kesepakatan antara Portugal dan Indonesia yang disaksikan PBB tentang akan dilaksanakannya penentuan pendapat, bulan Agustus mendatang tidak digubris oleh para pejabat di daerah. Kampanye dan sosialisasi otonomi luas giat dilakukan oleh para kepala desa dan camat. Sosialisasi otonomi luas dilakukan dari rumah ke rumah di wilayah kecamatan Ahto-Udo, yang dipimpin angsung Camat Agustinho Sarmento dan pimpinan Tripika lainnya. Dua tahun silam Jesito Neves diperjuangkan oleh para mahasiswa hingga mengantarkan dia menduduki kursi kepala desa Beikala. Tapi ia tak tahu membalas budi. Kini ia mengancam mahasiswa asal desanya dan keluarganya setelah kepala desa itu menerima dana sosialisasi otonomi luas dan kampanye politik dari Bupati KDH TK II Ainaro sebesar Rp 5.000.000.- akhir Juni '99 lalu. Ia mengancam keluarga-keluarga di desa itu, yang memiliki anak dan saudara kuliah di Untim, IPI, PGSD, Politeknik, PAM-KT dan STIE di Dili. Ketika memberikan pengarahan kepada para milisi di desa itu, Jesito Neves mengatakan, "Pada zaman reformasi, mahasiswa datang ke sini mengorganisir rakyat dan pemuda di desa ini agar bekerja sama dengan Falintil, karena dijanjikan kemerdekaan. Sekarang, kalian sebagai anggota Mahidi jangan tanggung-tanggung untuk menghabisi mereka (mahasiswa) berikut keluarganya kalau mereka datang untuk berkampanye tentang kemerdekaan Timtim. Kemerdekaan tidak akan terjadi di Timtim sebelum mahasiswa dan Falintil melangkahi mayat kita. Kita tidak perlu takut. Kalau Falintil punya senjata kita juga punya," kata kepala desa itu, berapi-api. Lebih jauh kepala desa itu juga meminta semua anggota milisi agar mengontrol semua penduduk di desa Beikala, terutama mereka yang memiliki keluarga mahasiswa. Sehabis ceramah, pada 5 Juli malam hari, dua komandan Mahidi masing-masing Vasco da Costa dan Aniceto da Costa yang juga guru di Sekolah Dasar Negeri 02 Beikala mendatangi rumah keluarga Germinal Guro Neves (50). Keduanya menanyakan dua anak Germinal yang kuliah di Untim. Sambil menyebut nama dua anak Germinal, mereka mengancam, "Anak-anak kamu sekolah buat politik, buat demonstrasi sambil berteriak, 'mate moris duni bapa sai' (mati hidup usir tentara). Ingat kamu jangan macam-macam, kalau berani mendukung opsi 'kemerdekaan' nyawamu akan kami antar ke surga." Lebih lanjut mereka mengancam, jika kedua anak Germinal berani menginjakkan kaki mereka di desa Beikala, maka mereka akan dikubur hidup-hidup di depan ayahnya. Dua hari kemudian tiga orang anggota milisi lain masing-masing bernama Mateus Mau Asa, Evagelino, dan Adelino Mau Kuku melakukan hal yang sama. Mereka mendatangi beberapa penduduk sipil, di kampung Bobe lalu mengancam, meneror dan mengintimidasi. Jika penduduk sipil berani menolak otonomi luas, maka akan dihabisi dan dikirim ke "Jakarta Dua" (neraka). Untuk meyakinkan bahwa penduduk di kampung Bobe mendukung otonomi luas, masyarakat diancam dan diperintahkan menghadap komandan Mahidi di desa Beikala yang juga kepala desanya: Jesito Neves. Selain bersikap bak diktator pada masyarakat, Jesito Neves juga tega menyiksa istrinya, Martinha da Costa (24). Ketua PKK Desa Beikala itu tidak tahan melihat banyak pemuda disiksa dan diancam oleh anggota milisi di desa itu. Martinha pun marah dan menentang kebijaksanaan kepala desa yang juga suaminya itu. Ia meminta agar masyarakat diajak dengan cara-cara yang persuasif, jangan diancam dan disiksa. Mendengar 'kuliah' istrinya, Jesito pun berang. Jesito marah karena setiap ada teror, intimidasi dan penyiksaan di desa itu Martinha selalu saja membela para korban. Karena merasa dilawan oleh istrinya, Jesito Neves menyiksa istrinya hingga babak belur. Martinha ditampar, dicaci maki dan kemudian diusir oleh sang komandan milisi itu. Kepada istrinya ia mengatakan, "Kita sudah diberi fasilitas oleh Pemerintah Indonesia kenapa kita masih percaya dengan mahasiswa-mahasiswa yang menuntut kemerdekaan itu. Para pemuda di sini adalah warga saya, kalau mereka menentang kebijakan pemerintah, mereka dibunuh saja. Kamu jangan sekali-sekali membela mereka. Kalau kamu terus melawan saya, kamu akan saya bunuh," ancam Jesito kepada istrinya. Ancaman Jesito semakin menjadi-jadi setelah ia tahu bahwa adik istrinya menjadi juru bahasa bagi anggota UNAMET yang bertugas di Kabupaten Same, 25 Km ke arah selatan Desa Beikala. Adik iparnya itu masih kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan Bahasa Inggris, di Universitas Timor Timur. *** Penyerangan di Kecamatan Zumalai Malang betul nasib empat warga Desa Lour, Kec. Zumalai. Benjamin (36 tahun), Pedro (35 tahun), Berismo Barreto (40 tahun, dan Afonado Gomes (28 tahun) mengalami luka-luka sehari sebelum hari pendaftaran. Warga Kampung Sahata itu diserang oleh anggota Milisi Mahidi dengan senjata rakitan. Benjamin dan Pedro luka-luka di bagian kepala, Barreto mengalami luka di bagian kaki sedangkan Afonado terluka di bagian mulut. Pada hari pendaftaran dimulai, mereka tak berani berobat ke puskesmas karena takut diburu Mahidi. Salah seorang dari ke-11 pelaku dikabarkan tewas karena dikeroyok oleh warga Desa Lour. Dalam aksi penyerangan tersebut, warga Desa Lour sempat melawan kebrutalan para milisi itu. Setelah kejadian itu, pihak kepolisian, TNI dan UNAMET langsung mendatangi tempat kejadian. Meski polisi maupun UNAMET yang bertugas di Suai telah mengetahui persoalan itu, warga Desa Lour masih tetap was-was. Kabarnya, Milisi Mahidi berjanji akan melakukan aksi pembalasan atas kematian salah seorang anggotanya itu. *** Mahidi Beraksi di Kampung Aitutu Pada 17 Juli 1999 lalu, Silva da Costa (30) mengantarkan ibundanya berobat ke Dili. Meskipun sedang berada di Dili Silvino terus memantau perkembangan keadaan di Ainaro karena ia tahu pihak Milisi Mahidi mengadakan rapat di Desa Casa dari tanggal 17-18 Juli. Salah satu agenda rapat tersebut adalah merencanakan teror terhadap penduduk sipil agar tak berpartisipasi dalam pendaftaran yang dimulai pada 16 Juli. Ternyata, masih ada agenda yang lain. Para Mahidi itu juga merencanakan akan menangkap warga yang selalu bertemu dengan pihak UNAMET. Untuk itu, Mahidi akan menyediakan 10 senjata bagi warga di Kampung Aitutu, Desa Mulo, Kecamatan Hatobeliko. Untuk apa senjata itu? "Untuk meneror dan jika ada kesempatan bisa dimanfaatkan untuk membunuh staf UNAMET yang bermarkas di Ainaro," kata sebuah sumber. Dua hari kemudian, pada 19 Juli sekitar pukul 06.30, Silva yang ketika itu akan berangkat lagi ke Dili didatangi Marito Metan. Tanpa sebab yang jelas Marito langsung memukul Silva, saat Silva tengah menunggu kendaraan di pinggir jalan. Tentu saja Silva kaget luar biasa. Apalagi Marito membentak-bentak, "Dasar pengecut. Kamu mau melarikan diri ke Dili, ya?" Ketika Silva mau menjawab, Marito pun lantas memukul dan menendang. Silva tentu saja tak bisa berkutik. Mulutnya bengkak dan gigi depannya rontok akibat pukulan Marito itu. Perkelahian tak seimbang itu baru berakhir setelah datang penduduk melerai. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
