Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 25/II/25-31 Juli 99 ------------------------------ JAKARTA MENGANCAM PERANG SAUDARA (POLITIK): Sebuah dokumen yang sangat rahasia yang dikirim oleh Asisten Menko Polkam, H.R. Granadi, akhirnya jatuh ke tangan pers. Isinya, Indonesia harus siap-siap menghadapi kemungkinan besar kemenangan pihak pro-kemerdekaan dalam jajak pendapat di Timor Timur Agustus nanti. Dalam suratnya yang bocor itu, H.R. Garnadi, menulis skenario yang di satu pihak mendorong dukungan bagi kekuatan pro-integrasi, namun di lain pihak menyiapkan prasarana bagi gelombang pengungsian besar-besaran. Celakanya, dokumen Garnadi itu terungkap tepat di saat berlangsungnya pembicaraan mengenai masalah keamanan pasca jajak pendapat di New York, dan ketika PBB sendiri menyiapkan keputusan final tentang jajak pendapat itu. Dokumen itu adalah bentuk ketakutan Indonesia akan kehilangan muka bila masyarakat Timtim menolak otonomi. Sehingga mencari jalan untuk melakukan intervensi secara militer. Dan itu pun persiapannya sudah yaitu dengan mengaktifkan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai home basenya. Sikap mendua Jakarta sangat mencemaskan semua pihak. Terutama masyarakat Timtim sendiri yang sejak tahun 1976 sampai saat ini kenyang dengan konflik bersenjata. Nah, kalau ancaman itu terus menerus dilakukan oleh TNI dan milisi, maka tidak tertutup kemungkinan jajak pendapat nanti akan berjalan tidak jurdil. Apalagi saat ini militer Indonesia bersama para milisi mencoba untuk memancing kemarahan dari Falintil dengan mengintimidasi, menteror warga masyarakat sehingga terjadinya eksodus besar-besaran. Kalau sampai Falintil meladeni pancingan militer dan milisi inilah, maka konflik bersenjata akan meletus kembali, dan itu yang sekarang menjadi target militer Indonesia. Supaya, Indonesia punya alasan kuat untuk membela diri dan mencari legitimasi dari rakyat Indonesia dan dunia internasional untuk membenarkan aksi militer itu. "Indonesia sekarang menyusun skenario seperti tahun 1975 ketika mereka menginvasi Timtim," kata pengurus CNRT Dili yang tak mau disebut namanya kepada Xpos di Dili Selasa (20/7). Kalau mengikuti perkembangan Timtim saat ini, maka ada persamaan penyusunan skenario antara tahun 1975 dan sekarang. Ketika itu, pertengahan 1975, Ali Moertopo dan Benny Moerdani dalam menghadapi kemenangan Fretilin, mengirim Dading Kalbuadi dan Yunus Yosfiah untuk operasi destabilisasi Timtim, dengan dalih banjir pengungsi di Timor Barat. "Bedanya, Opsus ketika itu optimis, sedangkan Dokumen Garnadi mencerminkan pesimisme akan kekalahan pihak-pihak pro-Jakarta. Karena sekarang dengan perlakuan-perlakuan militer Indonesia yang semakin kejam, susah bagi mereka untuk merebut hati rakyat Timtim," kata seorang mahasiswa Timtim. Gertakan Indonesia, tampaknya bukan teror belaka, soalnya angkatan bersenjatanya sudah mulai disiagakan di wilayah NTT. Angkatan Darat dari beberapa batalyon saat ini bergerak menuju propinsi yang berbatasan langsung dengan Timtim itu, dalam upaya untuk mengamankan pengungsi dari prootonomi bila masyarakat Timtim tolak otonomi. Belum dengan ancaman itu, dalam sepekan terakhir ini Indonesia justru menteror masyarakat Timtim secara terbuka, artinya mereka teror dihadapan UNAMET di Timtim. Teror kali ini, justru dilakukan oleh angkatan udaranya dengan pesawat-pesawat tempur seperti HS-Hawk 100, yang baru ngutang dari Inggris itu. Selain HS-Hawk100, juga terlihat pesawat pemburu F-16 buatan Amerika. Pesawat tempur yang dilengkapi dengan beberapa rudal itu terbang rendah di sekitar Dili sambil melakukan manuver-manuver aerobatik. Tentu saja hal itu menimbulkan spekulasi bahwa Indonesia sedang mempersiapkan armada perangnya untuk menginvasi kembali Timtim, bila dalam jajak pendapat nanti masyarakat Timtim menolak otonomi. "Pemerintah Inggris secara resmi sudah memprotes tindakan provokasi itu. Karena menurut pemeritah Inggris hanya akan menghambat jajak pendapat di Timtim," kata sumber di Deplu Inggris. Pemerintah Inggris juga kabarnya sudah mengirimkan surat protes resmi kepada Pemerintah Indonesia melalui Deplu. Karena provokasi seperti itu, menurut pemerintah Inggris justru menakutkan masyarakat Timtim, dan dampaknya adalah bisa terjadi eksodus yang besar-besaran di Timtim. "Inggris juga mengancam bila AU Indonesia masih tetap mengoperasikan pesawat HS-Hawk100 di Timtim lagi, maka pemerintah Inggris akan menarik kembali pesawat itu," tambah sumber itu. Masyarakat Timtim, terutama di kota Dili sangat terkejut dengan kedatangan dua pesawat HS-Hawk 100 itu. Ada kepanikan dari masyarakat ketiga melihat dua pesawat yang dilengkapi rudal itu terbang rendah di sekitar Dili. "Kami sangat terkejut dengan kedatangan pesawat-pesawat itu," kata seorang penduduk Dili kepada Xpos. Sedangkan hingga saat ini PBB masih saja meragukan kondisi keamanan di Timtim, sehingga besar kemungkinan bahwa Sekjen PBB Kofi Annan masih terus membahas situasi keamanan di Timtim dengan Dewan Keamanan (DK) PBB, tentang perkembangan kondisi di Timtim. "Bila Indonesia masih melakukan provokasi AU-nya maka tidak tertutup kemungkinan DK PBB akan menyetujui untuk pengiriman pasukan perdamaian di Timtim," kata sumber Xpos di Markas PBB New York. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
