Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 25/II/25-31 Juli 99 ------------------------------ PAK TUA KENA STROKE (POLITIK): Nyaris mati setelah kena serangan stroke ringan, tapi kenapa tidak dibawa ke Rumah Sakit TNI-AD? Konon takut kalau ada dokter tentara yang mbalelo. Selasa siang lalu, H.M Soeharto akhirnya diangkut ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Kebayoran Jakarta Selatan. Ia terkena serangan stroke ringan dan dirawat di kamar Very Very Important Person (VVIP), lantai 6 rumah sakit tersebut. Sehari kemudian, tersiar kabar ia meninggal dunia. Soeharto memang masih hidup. Tetapi menurut sumber Xpos di Cendana, kelanjutannya hidupnya belum bisa diketahui. Kalaupun sembuh apakah Pak Harto bisa pulih 100% lagi. "Tapi, memang serangan stroke di sebagian tubuh Pak Harto itu membuat mulut Pak Harto mletot dan Pak Harto jadi cadel bicaranya. Sedangkan bagian kiri tubuhnya sedikit kaku," ujar sumber tersebut. Maka, pihak rumah sakit yang dipimpin dr Sudjono Martoatmodjo, berusaha mati-matian mencegah akibat fatal serangan penyakit tersebut. "Pak Harto sudah menjalani Ct-Scan. Dari situ ketahuan apakah penyakit juga menyerang bagian otak Pak Harto. Mudah-mudahan sih tidak," lanjutnya. Menurut sumber tersebut, selain serangan stroke ringan, Pak Harto juga mengalami gangguan pencernaan perut. Akibatnya, itu membuat kondisi fisik Pak Harto juga makin lemah. Rabu pagi, sebelum menjalani tes T-Scan, sekretaris pribadi Pak Harto Letkol (Pol) Anton Tabah menyerahkan surat rujukan dari tim dokter kepada dokter internis. Kamisnya, direncanakan Pak Harto akan menjalani pemeriksan internis. "Sejak lengser, Pak Harto itu jadi doyan puasa Senin-Kamis. Padahal, dokter pribadinya Brigjen dr. Hari sudah wanti-wanti, melarangnya. Pak Harto kan sudah sepuh. Usianya 78 tahun. Tapi, beliau nekad saja. Akibatnya, ya begitu. Sakitnya jadi ke mana-mana," keluhnya. Untungnya, serangan strokte tersebut sudah dirasakan Soeharto sebelumnya. Jadi, waktu Selasa siang, setelah menerima pengurus Yayasan Panti Asuhan Zianni pukul 10.00-11.00 WIB, Pak Harto merasa ngelu, pusing dan lelah. Keluhannya disampaikan pada Sesprinya. Anton Tabah kemudian memanggil dokter pribadinya untuk memeriksakan tensi. Meski hasilnya baik, tapi agar Pak Harto tenang, dokter menyarankan dibawa ke rumah sakit. Pak Harto mau saja. Asal tidak konvoi ketika keluar Cendana. Anak-anaknya diminta menyusul saja. Akhirnya ia pun diantar ke RS Pertamina dengan Mercedes Jeepnya yang berwarna hijau ditemani supir, Anton Tabah, Kolonel Jamin, dan seorang pengawal pribadi. Mobil tersebut sengaja keluar dari pintu samping-belakang, yang terletak di jl. Waringin (depan rumah Arie Sigit, cucunya). "Kenapa nggak ke Rumah Sakit TNI-Angkatan Darat, saya kurang tahu pasti. Tapi, Pak Harto kayaknya memang nggak mau kalau dibawa ke situ. Mungkin takut kalau di rumah sakit tersebut ada dokter tentara yang mbalelo, terus dia disuntik mati, bagaimana? Pak Harto lebih percaya pada RSPP, karena rumah sakit itu kan dibuat oleh Ibnu Sutowo. Pak Harto lebih ada jaminan, lewat Pak Ibnu," paparnya. Di rumah sakit tersebut, memang sudah disiapkan. Kabarnya, Ibnu Sutowo mengontak sendiri Kepala RSPP dr. Sudjono. Sejumlah dokter pun siap siaga di lantai 1. "Mereka berjejer membentuk barisan sampai ke lantai VI rumah sakit," ungkap sumber tersebut. Pak Harto ditangani secara serius dan sangat istimewa. "Waktu itu, gejalanya masih pusing dan lelah saja. Belum sampai nyerang otak dan tubuhnya. Jadi, waktu itu dokter sempat memberitahu kira-kira istirahat dua atau empat hari. Ternyata, baru sehari serangan stroke itu datang." Terpaksalah Soeharto di-CT-Scan. Agar wajah Pak Harto tidak dipotret wartawan, wajahnya ditutupi bantal dan kaca di baliknya diselubungi kain putih. "Namanya serangan stroke, wajahnya jadi jelek. Masa dipotret?" Dalam pemeriksaan CT-Sacn tersebut, selain masih diinfus, Soeharto juga menggunakan bantuan pernafasan. Memang, sejak ditinggal mati ibu Tien Soeharto beberapa tahun lalu, Soeharto seperti kehilangan aura kekuasaannya. Selain sering mengeluh sakit kepala dan cepat lelah, Pak Harto juga sering terdiam dan seperti orang kebingungan. Barangkali kalau ditilik ke belakang, sejak Ibu Tien itu meninggal, sejumlah kebijakan politik dan ekonomi yang dikeluarkannya, penuh kebingungan dan ketidakpastian. Apalagi ditambah dengan datangnya krisis keuangan dan ekonomi yang melanda hampir separuh negara di muka bumi ini. Maka, politik dan ekonomi Indonesia pun terpuruk sampai titik yang paling rendah, hingga sampai saat ini. H.M. Soeharto, Jenderal Besar dengan bintang lima, memang seperti kedodoran dan bak ayam sakit. Pemilu 1997 yang nekad diselenggarakan di bulan Suro -bulan pantangan masyarakat tradisional Jawa- dilanggarnya. Pemilu pun berdarah-berdarah. Hasil pemilu juga tidak mendatangkan kebaikan. Konflik politik malah makin runcing. Sementara, bencana alam juga datang melanda. Mulai dari hama belalang, sampai banjir dan longsor. "Anak-anak kecil", yang selama ini ditekan dalam konsep NKK/BKK, tiba-tiba bangkit dan melawannya. Bukan cuma menantang rezim Orde Baru saja, tapi juga melawan Soeharto, yang selama ini dikenal sebagai pembantai sebagian rakyat Indonesia dalam sejumlah kasus, seperti G30S/PKI, Timor Timur, Irian Jaya, Aceh, Tanjung Priok dan sejumlah aktivis pro demokrasi dan HAM serta lainnya. "Anak-anak kecil" inilah yang setahun kemudian, berhasil memaksa turun Soeharto dari singgasana kekuasaannya dan terpaksa digantikan oleh kroninya sendiri BJ Habibie. Barangkali, betul seperti yang disampaikan seorang paranormal. "Aura kekuasaan itu hanya ada pada Ibu Tien. Ketika Ibu Tien meninggal, ya sudah Pak Harto kehilangan segala-galanya. Kekuatannya dan kehebatannya," ujar paranormal tersebut. Yang masih belum hilang, mungkin kepiawaiannya menutupi kebohongannya soal harta-hartanya. Kabar terakhir dari RSPP pada Kamis siang, menurut sumber Xpos, Pak Harto mulai membaik. "Sudah mulai bicara, walaupun masih belum banyak." Apakah itu tanda-tanda bangkitnya kekuatan Soeharto lagi? (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
