Precedence: bulk [DIREITO, No. 2/27 Juni '99] KASUS-KASUS YANG TERBENGKALAI (OPINI). Dalam kesepakatan 5 Mei di New York, Polisi Indonesia dipercaya untuk mengurus masalah keamanan untuk pelaksanaan Jajak Pendapat. Tugas ini juga termasuk menciptakan suasana seaman mungkin menjelang Jajak Pendapat. Meski masih ragu, masyarakat berharap Polisi Indonesia dapat menangani beberapa masalah yang selama ini menjadi penyebab ketidakamanan. Dalam kenyataannya, masih terdapat kasus-kasus yang seharusnya sudah dapat diselesaikan, namun tidak ada upaya ke arah itu. Berikut beberapa kasus yang dapat mencerminkan keseluruhan keadaan keamanan di Timor Timur belakangan ini. 6-7 April 1999: Lingkungan Gereja Liquica diserbu dan sekurang-kurangnya 50 orang penghuninya tewas. Pelakunya jelas diketahui, Milisi Besi Merah Putih dan ABRI. Polisi mengaku telah menangkap sejumlah pelakunya. Tapi sebagian besar anggota milisi BMP masih berkeliaran dengan senjata dan menakut-nakuti rakyat. 13 April 1999: Dandim Maliana, Letkol Burhanudin Siagian memerintahkan eksekusi 6 warga sipil di depan umum menyusul kematian Manuel Soares Gama. Tidak ada proses hukum untuk perintah eksekusi tersebut hingga saat ini. 17 April 1999: Rumah Manuel Carrascalao dan beberapa tempat di Dili diserbu Milisi. Jumlah korban masih kontroversial. Polisi melaporkan 13 orang tewas, dan mengaku telah menangkap sejumlah orang yang dituduh sebagai pelakunya. Tapi hingga saat ini belum ada kejelasan tentang proses hukum yang dilakukan. 20 April 1999: Dua orang guru dibunuh oleh milisi Halilintar di desa Purgoa dan desa Atudara, Kabupaten Bobonaro. Hingga sekarang kasus itu seperti di"peti-es"kan. 21 April 1999: Sesudah penandatanganan Kesepakatan Damai antara kelompok Pro Integrasi dan Pro Kemerdekaan, semua senjata yang dipegang oleh pihak-pihak yang tidak berhak, termasuk milisi, akan disita oleh polisi. Namun hingga saat ini senjata-senjata itu masih tetap dipergunakan untuk membunuh dan menteror masyarakat. 9-10 Mei 1999: Di hadapan polisi milisi Aitarak menyerbu sejumlah kampung di Kota Dili dan menewaskan sekurang-kurangnya 5 orang warga sipil. Peristiwa-peristiwa penyerangan tersebut juga disaksikan juga oleh Tim Pendahulu UNAMET, yang selanjutnya mengajukan protes keras. Tapi hingga sekarang belum ada proses hukum. 21 Mei 1999: Dalam kerumunan massa yang usai menyaksikan pengibaran bendera UNAMET di Gedung BPG, kaca mobil beberapa pejabat pemerintah Indonesia yang sekaligus tokoh pro Integrasi dipecah. Sejumlah orang yang dituduh aktivis pro kemerdekaan ditangkap, namun hingga kini tidak ada proses hukum. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
