Precedence: bulk
CHRYS KELANA CEKAL BERITA TEMPO
JAKARTA (SiaR, 5/8/99) SEJAK lima pekan lalu Mingguan Berita
Mingguan TEMPO menayangkan hasil jajak pendapatnya di televisi swasta RCTI.
Televisi swasta milik Keluarga Cendana itu rupanya berniat mereformasi diri
di bawah kepemimpinan Nenny Soemawinata dan komisaris M. Tachril dari Grup
Bimantara yang mewakili saham Bambang Trihatmodjo. Sumber di Tempo
mengatakan bahwa penayangan jajak pendapat itu merupakan bagian dari
kegiatan promosi Tempo. Singkatnya, penayangan jajak itu tidaklah gratis
alias ada tarifnya. Sumber ini menyebutkan angka sekitar Rp 10 juta untuk
sekali tayang.
Minggu malam pekan lalu, penayangan rubrik Monitor Tempo di acara
Seputar Indonesia (18.00-19.00) itu mengalami ganjalan setelah pihak RCTI tidak
menayangkan hasil jajak tentang "Sakitnya Soeharto". Isu sakitnya Soeharto
memang isu sensitif bagi RCTI. Karena, dalam jajak itu, responden Tempo
berpendapat bahwa penyelidikan kasus Soeharto perlu diteruskan walaupun
Soeharto sakit. Dan apabila Soeharto mangkat, maka anak-anaknya harus tetap
diusut.
Usut punya usut, rupanya bukan pihak RCTI yang membredel berita itu.
Ada Chrys Kelana yang bermain di sana. Chrys, bekas wartawan Kompas dan salah
satu pimpinan PT Sindo (PT yang berada dalam RCTI dan memproduksi acara
Seputar Indonesia), memakai berita Tempo untuk "perangnya" dengan RCTI.
Sindo dan RCTI memang tengah gencar berperang. Dan Chrys yang dianggap
anggota PT Sindo sebagai anteknya komisaris RCTI sudah mendapatkan mosi tak
percaya dari anggota Sindo (wartawan dan juga awak redaksi di RCTI). Chrys
yang sudah kehilangan kepercayaan rekan-rekannya itu mencoba mencari muka ke
komisaris dengan membredel berita Tempo itu. Paling tidak dia memakai berita
"Sakitnya Soeharto" itu untuk menaikkan posisi tawarnya di sana.
Jelaslah bahwa niat RCTI mereformasi diri ternyata diganjal oleh
wartawan senior seperti Chrys. Di Kompas, sebuah sumber yang pernah turun ke
lapangan bersama Chris, punya cerita. Sekali waktu Abdul Latief, waktu itu
Direktur Sarinah, mencoba menyuap seorang wartawan Kompas yang mewawancarainya.
Latief menyodorkan amplop (Rp 300.000) dan dua lembar naskah artikel yang
sudah disiapkannya. Judul pun sudah dipilih Latief yaitu "Dari Naik Sepeda
sampai Mercy". Amplop itu ditolak. Tapi tiga bulan kemudian, entah mengapa
keluar berita di Kompas dengan judul yang sama. Siapa penulisnya: Chrys
Kelana.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html