Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 27/II/8-14 Agustus 99
------------------------------

TIM HABIBIE BOBOL BANK BALI

(PERISTIWA): Segala cara telah dilakukan Tim Sukses Habibie untuk menggolkan
calonnya menjadi presiden. Untuk pembiayaannya, mereka memeras ke sejumlah
pengusaha bermasalah, termasuk membobol Bank Bali.

Berita skandal pembobolan Bank Bali (BB) yang sedang berkembang di
masyarakat bukanlah isapan jempol belaka. Bantahan dari Setya Novanto
Direktur EGP yang juga wakil Bendahara Golkar, Selasa (3/8) tidak bisa
menghilangkan kesan bahwa skandal itu benar adanya.

Sumber Xpos, yang juga salah seorang pimpinan Golkar sendiri mengatakan
bahwa pembobolan Bank Bali oleh Setya Novanto itu memang kenyataan. "Hanya
saja uangnya tidak untuk kepentingan Partai Golkar sebagai organisasi. Tapi
untuk pendanaan Tim Sukses "Siluman" Habibie," tegasnya.

Adapun besarnya uang jarahan yang dilakukan Setya dan kawan-kawan dari Bank
Bali itu tidak  tanggung-tanggung, Rp550 milyar! Jumlah yang cukup fantastis
untuk sebuah upah penagihan piutang yang hanya sebesar Rp900 milyar.
Sementara pemilik piutang, yaitu Bank Bali hanya mendapatkan uang sebesar
Rp350 milyar.

Xpos nomor sebelumnya pernah memberitakan,  Bank Bali dibobol Rp550 milyar
oleh sejumlah pengurus Golkar untuk kepentingan kampanye pencalonan Habibie
menjadi presiden. Ceritanya, Setya Novanto, Direktur PT Era Giat Prima (EGP)
yang juga wakil bendahara Partai Golkar dan Djoko S Candra (pengusaha kroni
Cendana, Grup Mulia) menawarkan jasa kepada Bank Bali untuk mencairkan dana
piutang bank tersebut yang masih mandeg di Bank Bira, BDNI, dan BUN sebesar
Rp3 trilyun. Setelah disetujui oleh pihak BB, Setya dan Candra ternyata juga
memakai Pande Lubis, salah seorang anggota Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (dan juga teman dekat Menneg PBUMN Tanri Abeng) untuk ikut
mempercepat pencairan piutang itu. Hasilnya, tanggal 2 Juni 1999, Bank Bali
menerima dana sekitar Rp900 milyar dari Setya dkk. Tapi sehari kemudian
(3/6) terjadi transaksi uang keluar dari Bank Bali sebesar Rp550 milyar,
yang disetorkan kepada Setya dan Candra melalui Bank BNI (Rp120 milyar) dan
Rp430 berupa tiga lembar cek melalui bank lain. Konon setoran itu sebagai
fee atas jasa pencairan. 

Fee untuk Setyo dan Djoko sebesar itu (lebih dari 50% dari jumlah tagihan
yang tertagih) dinilai oleh para ekonom sangat tidak wajar. Biasanya, fee
itu ya 5-10%. Paling banter 20% saja. 

Besarnya fee yang diperoleh Setya Novanto dkk, yang tidak wajar itu justru
akhirnya membongkar kegiatan sebuah Tim Sukses untuk dukungan terhadap BJ
Habibie sebagai presiden. Sebab, ternyata PT EGP, -dimana Setya Novanto
sebagai Direktur Utama-, diduga perusahaan akal-akalan yang tidak jelas
keberadaannya. Bukti lainnya, keluarga Prajoto, pengamat perbankan yang
membuka pertama kali kasus ini mendapatkan ancaman serius dari orang-orang
tak dikenal. Ini menandakan adanya geng kuat yang tak ingin skandalnya
terbongkar.

Sejumlah sumber mengatakan, sebenarnya banyak nama terlibat dalam skandal
ini. Dan jumlah bank yang dibobol pun jumlahnya belasan. Kabarnya bos
Texmaco, Sinivasan  juga terlibat dalam pembobolan ini. Tapi sejauh mana
keterlibatannya belum bisa dikonfirmasikan. Dan lahan garapan Tim Siluman
itu pun tidak hanya membobol Bank Bali, tetapi juga bank lainnya, melalui
tangan-tangan di BPPN. 

Sebab mereka membutuhkan dana triliunan rupiah untuk bisa mengatrol Habibie.
Termasuk rencana membeli para anggota MPR dan pengerahan massa pendukungnya
di SU MPR.

Dan yang menarik adalah pengakuan Marzuki Darusman, salah seorang pimpinan
teras DPP Golkar tentang kebenaran informasi itu. Ia menduga keras uang yang
dibobol dari Bank Bali itu masuk ke rekening Tim "Siluman" Sukses Habibie.
Untuk itu, DPP Golkar akan mengadakan penyelidikan ihwal kasus ini. Di
Golkar sendiri memang ada dua tim sukses. Tim  resminya dikomandoi langsung
Akbar Tanjung sedangkan Tim yang bergerak di luar struktur dan kemudian
diistilahkan sebagai Tim Siluman yang tidak bisa dikontrol ini dikendalikan
oleh Timmy Habibie, Hariman Siregar, Marwah Daud Ibrahim dan Dewi Fortuna
Anwar. Setya serta Pande Lubis masuk dalam jaringan mereka. 

Tim Sukses "Siluman" itu kabarnya sangat serius dalam menggarap
strategi-strategi pencalonan Habibie. Untuk meyakinkan kerja mereka, Tim ini
menyewa bekas ketua tim suksesnya pencalonan presiden Korea Selatan Kim Dae
Jung (Korsel) dan George Halmer, ketua Tim Suksesnya Konselir Jerman Helmut
Kohl dengan ongkos US$200 juta per orang -belum termasuk fasilitas hidup
selama di Indonesia. 

Tim ini bekerja secera sistematis yang dikendalikan melalui pos-pos yang
mereka bikin. Sebuah kantor yang menjadi pusat koordinasi dari para Tim
Siluman Habibie di bawah komando Fanny dan Hariman Siregar  terletak  lantai
9, apartemen Ascot (belakang Hotel Wisata) Jakarta Pusat yang disewa sejak
sebelum masa kampanye.

Kantor kedua untuk pusat koordinasi dengan Habibie, letaknya tidak jauh dari
rumah Habibie di Patra Kuningan. Di tempat ini kedua konsultan asing itu
mengolah perkembangan situasi dengan beberapa tokoh petinggi loyalis Habibie
seperti; Jimmly Asshidiqi, Achmad Tirto Sudiro, Agung Laksono, dan Fanny
Habibie. 

Pos yang lain berlokasi di Jalan Imam Bonjol No 44, Menteng , Jakarta Pusat.
Di tempat ini A.A Baramuli, Marwah Daud Ibrahim, dan Andi Mattalata sering
melakukan koordinasi lewat kaukus Irama-Suka-Nusantara (Iran Jaya, Maluku,
Ambon, Sulawesi dan Kalimantan).

Bina Graha juga dijadikan pos. Di pos ini  tim sukses langsung ditangani
Mayjen (Pur) Sintong Panjaitan (Sesdalopbang) dan Ka BAKIN, Z.A Maulani. Pos
ini berfungsi sebagai pos koordinasi para Menteri kabinet Habibie untuk
menyusun taktik dan koordinasi birokrasi. Beberapa tokoh parpol pendukung
Golkar, salah satunya Ketua Umum PPP Hamzah Haz dan Dawam Rahardjo sering
mengikuti pertemuan di ruang tersebut.

Tim Habibie ini sudah disebar ke berbagai penjuru nusantara untuk melakukan
mobilisasi dukungan. Ka BAKIN Z.A Maulani saat ini sudah mulai turun ke Jawa
Timur mendekati tokoh-tokoh pesantren. Entah Maulani terlibat atau tidak,
yang jelas di sejumlah  tempat di Jawa Timur, terutama Madura, masyarakat
sudah mulai dimobilisasi dengan cara-cara seperti pengerahan PAM Swakarsa
ketika Sidang Istimewa MPR tahun lalu.

Kegiatan Maulani ini sempat diprotes oleh para kyai setempat yang pro PKB.
Bahkan protes itu juga sudah disampaikan langsung ke Jenderal Wiranto ketika
ia berkunjung ke Jatim.

"Memang sudah banyak yang didatangi oleh pak Maulani. Pokoknya sudah banyak,
dan saya tak mau menyebutkan nama karena nanti terkesan menuduh," ungkap
Ketua PWNU Jatim, KH Hasyim Muzadi.

Sedangkan Ekky Syahcrudin dan Dewi Fortuna Anwar pada minggu ketiga bulan
Juli lalu menggalang kekuatan dengan mengumpulkan elite pengusaha dan tokoh
masyarakat dari KAHMI.

Seorang pengamat berpendapat, memang sebuah kelaziman setiap kubu calon
presiden membentuk tim sukses. Tapi yang tidak lazim adalah mengeruk dana
masyarakat di tengah rakyat yang sedang kesulitan mendapatkan sembako. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke