Precedence: bulk DIALOG, KUNCI PENYELESAIAN ACEH BANDA ACEH, (Radio Nikoya-FM Sabtu, 14/8). Upaya mencari solusi bagi persoalan di Aceh yang semakin rumit itu diterus dilakukan, adalah Forum LSM Aceh bersama YAPPIKA Jakarta, sejak 12-13 Agustus 1999 di dua lokasi, Asanus Caf� dan Jenar Restaurant Banda Aceh, telah berhasil melaksanakan Fokus Group Diskusi (FGD), semacam musyawarah terbatas untuk mengumpulkan data kualitatif dengan topik utama, menyelidiki akar permasalahan Aceh serta solusinya dengan mengundang peserta yang wakil komponen masyarakat Aceh, diantaranya LSM Advokasi, LSM Kelompok Profesi, Pengusaha Aceh, Mahasiswa Aceh, Partai Politik, Pers, Santri (Taliban), dan Korban Kekerasan di Aceh Utara, Pidie, Aceh Besar dan Banda Aceh, untuk nantinya menjadi position paper, berupa data studi riset bagi penyelesaian kasus Aceh bagi pemerintah pusat. Pimpinan Tim Studi Riset tersebut, Dr Muhammad Gade Ismail MA, kepada reporter Radio Nikoya FM, Jum�at (13/8), mengatakan, mereka telah mengumpulkan berbagai pemikiran dari berbagai pihak yang terlibat di dalam konflik Aceh ataupun tidak terlibat secara langsung dari seluruh komponen masyarakat, dibicarakan yang paling utama adalah, menyatukan visi dan menemukan akar dari konflik di Aceh, setelah itu dapat di peta-kan konflik dari berbagai aktor yang terlibat, maupun tak terlibat langsung, kemudian secara bersama mencari alternatif pemecahannya. Pada akhir studi itu menurutnya akan menghasilkan position paper atau fikiran dari berbagai kelompok yang akan di serahkan kepada MPR/DPR yang baru dibentuk nantinya. Muhammad Gade Ismail, menambahkan, dari hasil musyawarah terbatas dengan semua komponen masyarakat ini, dapatlah diperoleh sebuah gambaran nyata, bahwa akra konflik di Aceh tidaklah berakar tunggal, tetapi sangat kompleks, ada beberapa faktor yang saling mempengaruhinya, namun secara umum dapat dilihat akar konflik itu adalah, keresahan masyarakat Aceh yang dikarenakan kehilangan identitasnya sebagai orang Aceh, padahal menurut hasil analisis diawal kemerdekaan Indonesia, mengapa masyarakat Aceh menjadi pemodal bagi Republik Indonesia, mengapa orang Aceh membantu sepenuhnya dengan harta, benda dan nyawa, itu oleh karena mereka mengharapkan bahwa identitas orang Aceh yang Islami akan mendapatkan wadah didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena harapan itu tidak terpenuhi, lalu menjadikannya sebuah kekecewaan, kekecewaan inilah sebenarnya adalah akar dari prilaku yang dianggap menentang Jakarta. Akar permasalahan ke dua yang berhasil diperoleh oleh tim ini, adalah, adanya kesenjangan ekonomi dan kesenjangan politik, oleh karena penetrasi negara (State Penetration) terhadap masyarakat pada lapisan bawah sumber-sumber ekonomi, hal itu tercurah pada system pemerintahan yang sentralistik dan penetrasi negara dalam bidang politik yang telah membuang hak-hak rakyat, misalnya, dalam hal penolakan pemimpin daerah pilihan rakyat oleh negara, dan negara memiliki pilihannya sendiri.Sedangkan akar permasalahan ke tiga, terjadinya konflik di Aceh terutama pada akhir-akhir ini, disebabkan ada sejumlah masyarakat yang menjadi korban dari ekses penangan masalah Aceh yang keliru. Dari hasil musyawarah terbatas dengan elemen masyarakat Aceh yang di gelar selama dua hari itu, menurut, Dr Muhammad Gade Ismail MA, di peroleh solusi tepat terdahadap penyelesaian masalah Aceh dengan cara, berdialog, dialog yang diinginkan itu antaradua kekuatan, yaitu Pemerintah Pusat/TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pimpinan Tim Studi Riset, tersebut, mengatakan lagi, bahwa tidak bisa diharapkan konflik Aceh ini akan selesai dengan waktu sesingkat-singkatnya, karena hal ini membutuhkan waktu yang banyak. Dari musyawarah dalam menyamakan visi tersebut, lahir usulan-usulan untuk dibuat langkah-langkah jangka panjang, menengah dan pendek, namun yang lebih utama lagi daerah Aceh harus aman, agar proses dialog itu berjalan lancar dan berhasil. Jika akar permasalahan konflik di Aceh sudah diketahui secara jelas dan solusinya pun juga sudah ditemukan, yaitu, dengan cara, Berdialog, maka disinilah waktunya kita melepaskan seluruh kepentingan pribadi maupun kelompok untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, dengan hati yang tulus dan niat yang baik serta suci, jauh dari sifat-sifat arogansi dari Gerakan Aceh Merdeka maupun Pemerintah Pusat/TNI demi kesejahteraan rakyat Aceh yang cinta perdamaian dan anti kekerasan itu. Dari Banda Aceh semua komponen rakyat Aceh sudah memberikan solusi yang tepat, akankah disikapi dengan tulus oleh kedua belah pihak untuk menyelesaikannya secara arif dan bijaksana ?. Wallahualam. Team Reporter Radio Nikoya-FM, melaporkan dari Banda Aceh. ---------------------------------------------------------- News Devision RADIO NIKOYA 106.15 FM Banda Aceh Hit Radio Station URL : http://welcome.to/nikoyafm Kunjungi URL News Departemen : http://come.to/nikoyafm ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
