Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 28/II/15-21 Agustus 99
------------------------------

PERS TERANCAM DI ACEH

(POLITIK): Rumah Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia dibom. Seorang wartawan
Medan Pos Tewas. Ancaman pembunuhan menteror para wartawan yang "dianggap"
membela GAM.

Kelopak mata Sandi belum sempat terpejam nyenyak pada pukul 02.00 WIB
dinihari (10/8), ketika tiba-tiba suara ledakan mengoyak rasa kantuknya.
Anak lelaki Sjamsul Kahar, Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia itu segera
turun dari kamarnya di lantai dua untuk melihat apa yang terjadi. Dari balik
jendela dilihatnya mobil yang terpakir di samping rumah sudah terbakar, dua
orang tak dikenal kabur naik motor dan hilang di kegelapan malam Banda Aceh.
Dengan agak berjingkat membungkuk dibukanya pintu karena khawatir ada
penembak gelap. Ternyata ada dua bom molotov membobos rumahnya, selain di
garasi samping rumah yang menghanguskan mobil dan dinding, bom juga membakar
teras depan rumah. Tidak ada korban jiwa, tetapi bom itu dengan segera
membuat shock orang sekampung.

Sjamsul Kahar sendiri pada saat itu sedang ada di kantor Serambi Indonesia
mengawasi korannya yang sedang naik cetak. Ia justru dilarang pulang ke
rumah oleh anaknya karena khawatir kalau malah terjadi apa-apa. Maklum,
situasi Aceh memang sedang sangat tegang. Tak terkecuali Serambi Indonesia
yang menjadi koran utama di Banda Aceh.

Sejak pencabutan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh pada tanggal 6
Agustus 1998, berita-berita di Serambi Indonesia makin panas, khususnya bila
menyangkut derita rakyat Aceh yang ditindas selama DOM. Banyak
kesaksian-kesaksian para korban yang dimuat secara utuh tanpa sensor hingga
memancing simpati rakyat Aceh dan sebaliknya, kemarahan TNI di Aceh. Lebih
khusus lagi tiga bulan terakhir sejak situasi Aceh memanas dengan konflik
antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berita-berita lokal di Serambi
Indonesia benar-benar membuat gusar TNI. Bila disimak sebetulnya
berita-berita di Serambi akhir-akhir ini boleh dibilang seimbang melansir
dua pihak yang bertikai, tetapi karena sebelum DOM dicabut, media tak
ubahnya adalah corong bagi penguasa maka perubahan kebijakan redaksi yang
menjadi lebih bebas agaknya dianggap mengancam 'kehormatan' tentara.

Selain menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar
juga menjadi kepala biro Harian Kompas di Aceh. Serangan bom di rumah
Sjamsul diperkirakan juga dipicu oleh reportase-reportase Kompas di Aceh
yang cukup berani. Puncaknya adalah serangkaian laporan dari Aceh yang
ditulis oleh Maruli Tobing pada tanggal 3 dan 4 Agustus 1999. Bagian kedua
yang diberi judul "Bermula dari Operasi Intelijen" tampaknya menyinggung
sosok-sosok dan institusi yang disebut dalam laporan investigasi tersebut.
Balasannya, tak ayal, adalah bom molotov yang merusak rumah dan mobil Sjamsul.

Serangan terhadap pers dan jurnalis di Aceh tampak meningkat akhir-akhir
ini. Sebelum pemboman rumah Pemred Serambi Indonesia, nasib yang tak kalah
tragis menimpa wartawan Medan Pos, Supriadi (34), yang bertugas di Kabupaten
Aceh Utara. Kamis (5/8), tubuhnya ditemukan tewas dengan kondisi jenasah
yang sangat memilukan di tanggul irigasi Desa Bukit Hagu, Kecamatan Baktya,
Aceh Utara. Bekas sayatan senjata tajam menebas lehernya hingga kepala
Supriadi nyaris putus.

Menurut Kapolres Aceh Utara Letkol (Pol) Syafie Aksal yang menangani kasus
korban, Supriadi jelas jadi korban pembantaian keroyokan karena dari visum
yang dilakukan di tubuhnya banyak bekas luka lebam akibat serangan dari
berbagai arah. Ajalnya tiba bukan karena tebasan di leher, tapi didahului
oleh tembakan yang menembus dada kanannya. Ketika dikejar dengan pertanyaan
apa jenis peluru yang menghujam di tubuh Supriadi, Kapolres mengelak untuk
menjawab.

Sementara itu, Pemred Medan Pos, Ibrahim Sinik mengaku sangat kesal dengan
pembunuhan yang menimpa anak buahnya itu. Selama ini Supriadi, menurutnya,
sangat rajin mengirim berita-berita soal korupsi di jajaran Proyek Inti
Rakyat (PIR) di Cot Girek yang melibatkan pejabat dan aparat militer Aceh.

Di tempat lain, ancaman pembunuhan juga menteror Ramadhan, wartawan Harian
Waspada yang ditugaskan di Aceh. Ia sering menerima telpon gelap yang merasa
tersinggung dengan berita-berita yang ditulis Ramadhan mengenai kerusuhan di
Aceh. Tak hanya Ramadhan, hampir semua wartawan yang menulis tentang Aceh
secara imbang kini banyak mendapat ancaman pembunuhan. Sungguh masih jauh
perjalanan menuju kebebasan pers. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke