Precedence: bulk


MATI ATAU HIDUP, MERDEKA!

Pilihan Sudah Ditetapkan

Tiga hari lalu, 25 Agustus 1999, CNRT untuk pertama kalinya menyelenggarakan
kampanye terbuka secara besar-besaran di seluruh kota Dili. Dengarkan
yel-yel yang mereka pekikkan:

Mate Ka Moris, Ukun Rasik Aan! Mati atau Hidup, Merdeka!
Viva Timor Leste Independencia!
Viva Kay Rala Xanana Gusmao!
Viva Falintil Asuain!
Viva Povo Maubere!
Viva Povo Timor Leste!
Viva CNRT!

Teriakan-teriakan seperti di atas membahana di mana-mana, mencerminkan
hasrat kemerdekaan yang tertumpah ruah setelah tertahan selama 24 tahun.
Sedikitnya 100.000 orang masyarakat kota Dili, baik dengan cara berjalan
kaki, menaiki ratusan motor-motor, menumpang sekitar 620 mobil bak terbuka,
memenuhi
jalan-jalan kota Dili dan melakukan kampanye keliling yang disambut dengan
sangat antusias oleh masyarakat kota Dili.

Kampanye dipusatkan di halaman kantor CNRT. Ribuan massa pendukung
kemerdekaan melampiaskan kegembiraannya dengan berdansa melingkar diiringi
musik patrotik Timor Leste. Foto-foto dan gambar Xanana Gusmao, Presiden
CNRT, dan Taur Matan Ruak, Komandan Falintil, dalam ukuran besar diarak oleh
massa. Bendera CNRT dalam berbagai ukuran berkibar dimana-mana. Orang-orang
berpelukan, saling berciuman, ekspresi kegembiraan memenuhi udara di sana.
Besarnya massa kampanye ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya sudah dapat
ditebak siapa yang akan memenangkan jajak pendapat.

Pemandangan menarik terlihat di pertigaan markas Kompi Senapan C Yon
Infantri 744. Para prajurit TNI menonton pawai kampanye yang seperti tidak
habis-habis itu. Sementara itu massa kampanye dengan sangat bersemangat
meneriakkan yel-yel seperti di atas, ditambah yel seperti Viva Commandante
das Falintil Taur Matan Ruak! Nama yang tentunya sangat dibenci oleh para
prajurit TNI tersebut. Para anggota TNI itu benar-benar terlihat seperti
tentara penjajah, menjungkirbalikkan semua anggapan bahwa mereka datang dulu
tahun 1975 karena diundang oleh rakyat Timor Leste.

Pilihan sudah ditetapkan. Merdeka, yes, Otonomi, no. Begitu
teriakan-teriakan massa yang mewarnai kampanye terbuka perdana
pro-kemerdekaan ini. Mereka tampil penuh percaya diri, dan terorganisir
rapi. Petugas-petugas keamanan CNRT secara simpatik menjaga ketertiban
kampanye ini. Tidak seperti milisi pro-integrasi dan TNI, mereka sama sekali
tak bersenjata.

Melihat besarnya antusiasme rakyat yang secara spontan mendukung kampanye
ini, bila tidak ada manipulasi atau teror politik yang sangat masif,
mayoritas rakyat Timor Leste diperkirakan akan memilih untuk merdeka.

Teror Kembali Dilakukan

Besarnya kampanye CNRT pada tanggal 25 Agustus tersebut sangat menggusarkan
pihak pro-otonomi dan pendukung utamanya, militer Indonesia. Esoknya,
tanggal 26 Agustus 1999, mereka mencoba melakukan kampanye tandingan.
Tentunya dengan metode yang biasa mereka lakukan yaitu dengan mencoba
membeli rakyat dengan bayaran-bayaran, dan dengan melakukan teror. Banyak
orang, khususnya pegawai negeri, dirampas mobil dan sepeda motornya, untuk
dipakai pada kampanye hari itu. Pada sore hari, mulai sekitar pukul 13.00,
ketegangan makin meningkat karena milisi pro-otonomi seperti Aitarak terus
melakukan provokasi di daerah-daerah yang dikenal sebagai basis masyarakat
pro-kemerdekaan.

Sekitar pukul 15.00 bentrokan akhirnya pecah di daerah Kuluhun. Milisi
Aitarak menyerang kantor Frente Politica Internal (FPI), organ politik utama
CNRT, yang berada di daerah tersebut. Massa pro-kemerdekaan, khususnya kaum
muda, memberikan perlawanan. Bentrokan ini diawali oleh saling melempar
batu, tetapi kemudian diwarnai tembakan-tembakan dari pihak Aitarak. Pihak
Brimob yang kemudian muncul melepaskan tembakan-tembakan kepada massa
pro-kemerdekaan. 
Bentrokan kemudian menghebat, kantor FPI dihancurkan oleh Aitarak, beberapa
rumah dibakar. Bentrokan di wilayah Kuluhun ini kemudian menyebabkan
ketegangan yang mencekam di seluruh Dili. Pada  malam harinya terjadi
penyerangan lagi oleh milisi Aitarak ke wilayah Fatuhada. Beberapa rumah
terbakar, seorang dikabarkan meninggal dan beberapa terluka. Sampai Jumat
pagi tercatat 5 orang meninggal, 6 orang luka parah, dan puluhan lainnya
luka ringan.

Kembali para pejuang gugur demi kemerdekaan Timor Loro Sae. Tetapi teror
semacam ini diyakini tidak akan dapat menghentikan guliran sejarah, yaitu
rakyat Timor Leste mendapatkan kemerdekaannya.

Mate ka Moris, Ukun Rasik Aan!
Viva Timor Leste Independencia!

Leonard Simanjuntak
Yayasan PIKUL-Kupang
dari Dili

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke