Precedence: bulk


ISTIQLAL (31/8/99) # BJ HABIBIE MENGOBRAL BINTANG UNTUK MENDUKUNG KEKUASAANNYA

Oleh: Sulangkang Suwalu

        Bila menjelang 17 Agustus 1998, B.J. Habibie menyematkan 38 bintang
Mahaputera, termasuk kepada istrinya Ny Hj Hasri Ainun Habibie dan adik
kandungnya Junus Effendy Habibie, maka menjelang 17 Agustus 1999, BJ Habibie
mengobral bintang kehormatan sebanyak 103 buah, terutama bagi orang-orang
yang berjasa bagi kekuasaannya, seperti AA Baramuli yang sedang bermasalah.
        Tentu saja "obral" 103 bintang ini menimbulkan pro dan kontra.
Marilah kita ikuti Rakyat Merdeka (17/8) melalui kolom pengamat politik
Budyatna dan Fachry Ali dalam rubrik "Latar".

ARISAN BINTANG KEHORMATAN
        Melalui "Latar" dengan judul "Antagonis", Rakyat Merdeka mengatakan:
seperti membagi-bagi oleh-oleh, BJ Habibie mengumbar penghargaan  dalam
bentuk bintang kehormatan kepada sejumlah nama. Kalau penghargaan itu
diberikan kepada mereka yang berhak, tentu kita  akan  sangat menghagainya.
Tapi yang dilakukan bung Rudy -panggilan akrab BJ Habibie, benar-benar di
luar kewajaran. Bayangkan, daftar nama penerima bintang kehormatan negara
itu sarat dengan orang yang saat ini tengah dipersoalkan "kebersihan
moralnya". Sebut saja misalnya AA Baramuli.
        Ketua DPA, yang juga bekas Gubernur Sulawesi Utara ini lagi
dikaitkan dengan skandal Bank Bali yang bernuansa money politics. Bayangkan
pula kalau Baramuli disejajarkan dengan almarhum Ny Hj Fatmawati Soekarno,
istri pertama presiden Soekarno yang dikenal bersih dan berwibawa itu.
        Kita bukan mengecilkan arti seorang Baramuli atau Harmoko (yang juga
mendapat Bintang Mahaputera), tapi kita ingin melihatnya sebagai suatu
penggambaran makna.
        Pasalnya, pemberian bintang penghargaan oleh negara seharunya
bernilai sakral dan dinanti-nanti. Sebaliknya, yang dilakukan Habibie,
dengan memberikan 103 bintang, adalah semacam penghambur-hamburan.
Ini menyebabkan makna bintang kehormatan menjadi semacam pemberian yang
diserahkan secara bergilir. Kalau sebelumnya  beberapa personel Orde Baru
belum menerimanya, maka tahun ini saatnya yang tepat bagi mereka untuk
menerima. 
        Selain sejumlah orang yang dinilai  tidak layak menerima
penghargaan, Rudy juga dianggap tak sensitif. Sebaiknya, bintang kehormatan
itu benar-benar sakral dalam artian diberikan kepada mereka yang benar-benar
berjasa, bukan orang yang bermasalah.
        Lagi pula kenapa harus sebanyak itu. Bayangkan, 103 bintang
kehormatan. Ini memberi citra bahwa Rudy ingin menanamkan jasa kepada si
penerima.
        Kontroversi penerima bintang kehormatan, bukan hanya terjadi kali
in, tapi juga tahun lalu. Ketika itu Habibie yang baru beberapa bulan
menduduki jabatan presiden, langsung mengobral Bintang Mahaputra. Karena
penerimanya juga antagonistis, orang-orang yang sebenarnya belum layak,
seperti beberapa pembantunya dan juga istrinya.
        Awalnya, pemberian bintang diberikan kepada mereka yang dinilai jasa
besar terhadap bangsa dan negara, terutama pejuang kemerdekaan. Tapi di masa
Orde Baru, kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah Soeharto pilih kasih.
        Bintang kehormatan itu hanya diberikan kepada mereka yang dinilai
sebagai anggota kelompok dan tidak untuk "outsider". Rupanya apa yang
dilakukan Soeharto, masih dilanjutkan muridnya, Habibie. Pemerintah
tampaknya ingin mempertahankan loyalitas para pendukungnya.
        Sungguh sangat disayangkan, mereka yang terbaring berkalang tanah,
yang jasa-jasanya tak terhitung, seperti dilupakan. Sementara orang-orang
yang bermasalah dengan gampangnya menerima pengharagaan. Dimanakah letak
objektvitas dan rasa keadilan pemerintah sekarang ini.
        Penilaian "Latar" Rakyat Merdeka ini diakhiri dengan kalimat:
Sementara kita mengharapkan hadirnya pemerintah yang fair, jujur dan penuh
pengabdian, di Istana Negara, justru sedang berlangsung  acara arisan
bintang bintang kehormatan. Sungguh dari hati yang paling dalam, kita tetap
memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang sangat
berhak, tapi tidak menerima bintang tersebut.

HABIBIE INGIN MENCARI DUKUNGAN SEBANYAK-BANYAKNYA
        Senada dengan penilaian "Latar" Rakyat Merdeka, Budyatna, pengamat
politik  mengatakan bahwa pemberian 103 bintang itu adalah upaya Habibie
mendapat dukungan sebanyak-banyaknya, walaupun sebelumnya hal itu tidak
pernah terjadi. Mengapa sebagian besar diberikan kepada  orang-orang yang
diduga melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme? Misalnya kepada Ketua DPA AA
Baramuli, yang dalam skandal Bank Bali disebut-sebut terlibat. Begitu juga
sejumlah pejabat yang memimpin departemen yang disinyalir sarat dengan KKN,
tapi toh diberi  bintang kehormatan. "Ini kan aneh, semestinya orang seperti
itu tidak perlu dikasih, cabut  saja Bintang Mahaputera itu. Soalnya, akan
menguranag bobot nilai bintang penghargaan itu," kata Budyatna.

PEMBODOHAN POLITIK
        Bertentangan dengan penilaian "Latar" Rakyat Merdeka serta Budyatna,
maka pengamat politik Fachry Ali, mengatakna,"Terus terang, saya tidak
melihat ada muatan politik dalam pemberian bintang terhadap 103 orang ini"
(Rakyat Merdeka, 17/8).
        Pernyataan yang terus terang dari Fachry Ali, mungkin maksudnya
untuk mengatakan bahwa dirinya bodoh dalam soal politik, atau memang Fachry
Ali hendek membodohi publik di bidang politik, seperti yang dilakukan
Soeharto selama 32 tahun, ia berkuasa. Mengapa? Sekiranya Fachry Ali faham
benar-benar politik, mustahil ia tidak tahu bahwa pemberian bintang kepada
siapapun akan diberikan hasil penilaian politik. Bintang hanya akan
diberikan kepada orang yang menguntungkang bagi kekuasaan yang memberikan
bintang itu. Tidak mungkin Habibie akan memberikan bintang kepada
orang-orang yang dinilainya akan merugikan kekuasaannya.
        Bila Habibie memberikan bintang kepada sementara orang, seperti
kepada almarhumah Ny Hj Fatmawati Soekarno, itu hanya sebuah akal-akalan,
agar jangan mencolok pemberian kepada orang-orang seperti Baramuli, yang
besar jasanya bagi kekuasaan Habibie. Pemberian bintang kepada almarhumah
Fatmawati, akan dapat digunakan Habibie, sebagai dalih untuk membenarkan
langkah pemberian bintang kepada orang-orang yang bermasalah. Ya, Fachry Ali
telah mempertontonkan siapa dirinya yang sesungguhnya, karena ia salah
seorang pendukung Habibie.

KESIMPULAN
        Tujuan pemberian bintang oleh Habibie kepada 103 orang itu, adalah
untuk memperbesar dukungan kepada kekuasaannya. Karena kedudukannya sudah
terancam, pemerintahannya telah dinilai banyak pakar sebagai pemerintahan
Orde Baru Soeharto, Orde Baru jilid II.
        Kini nilai sakral dari bintang kehormatan yang diberikan RI telah
hambar, tak berbobot lagi, karena personel Orde Baru secara arisan akan
bergilir mendapatkannya. Bila dulu bintang itu sakral sekali, dan di
nanti-nantikan sebagai penghormatan bagi yang menerimya.
        Merosotnya nilai bintang kehormatan RI karena oleh Habibie dijadikan
sebagai alat untuk memperkuat dukungan kepadanya, sehingga ia bisa berkuasa
lebih lama lagi. Habibie, sekali lagi menghalalkan segala cara demi tujuan. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke