Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LOROSAE (4)

Dear Joko dan Riri,

Jangan kaget ya karena aku sudah mengirim kabar lagi untuk kalian. Dengan 
menuliskan apa yang aku rasakan, ternyata membuat aku jadi agak rileks. Tapi 
jangan kalian bayangkan selama aku di sini, aku jadi selalu tegang. Aku dan 
teman-temanku masih saja bercanda sebagaimana biasa, seperti yang kalian 
tahu selama kami berada di Jakarta. Tepatnya, melalui surat ini aku bisa 
mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi di sini. 

Hari Senin 30 Agustus akhirnya tiba juga. Hari itu adalah hari yang amat 
bersejarah bagi rakyat Timor Lorosae, karena mereka menunggu tibanya hari 
ini, saat untuk menentukan masa depan mereka selama  hampir 24 tahun. Sejak 
pagi-pagi aku, sebagaimana biasanya nebeng temen-temenku yang memantau ke 
beberapa 'sentru vota nian' atau polling station. Kali ini kami hanya keliling 
kota Dili. Hari ini kami tak mungkin bisa bepergian ke beberapa kabupaten 
meskipun ingin ke sana, bukan saja karena banyak kerusuhan di beberapa 
tempat di luar kota Dili. Coba tebak kenapa? Karena kendaraan umum sangat 
sulit didapatkan dua atau tiga hari sebelum referendum ini. Bahkan penduduk 
kota Dili pun sulit mendapatkan kendaraan umum. Taksi yang selalu 
berlalu-lalang pun sudah dicarter oleh para jurnalis maupun observer. 

Jujur saja aku sangat terharu ketika menyaksikan rakyat Timor Lorosae 
berbondong-bondong ke sentru vota nian. Mereka, laki-laki dan perempuan, tua 
dan muda berjalan kaki. Aku menduga mereka mengenakan pakaian yang terbaik. 
Bahkan di beberapa tempat aku menyaksikan laki-laki yang mengenakan jas, 
padahal siang itu begitu terik di sini. 

Saat aku mau beranjak dari rumah, Ronaldo datang. Sebelum ia berangkat 
menuju polling station ia ingin menunjukkan pesan dari Xanana Gusmao. Aku 
ingin kalian tahu apa pesan Presiden CNRT itu:

"Mari Kita Membebaskan Tanah Air Kita, Timor Lorosae yang Tersayang
Rakyat Timor Lorosae yang tersayang dan berani,
Hari ini, tanggal 30 Agustus, merupakan hari yang berarti dalam sejarah kita 
dan dalam perjuangan pembebasan kita.
Hari ini, rakyat Timor Lorosae akan melaksanakan  hak asasinya untuk 
menentukan nasib sendiri.

Hari ini kita, dihadapan masyarakat internasional, akan menentukan nasib, 
masa depan, pembebasan dan kemerdekaan kita. Meskipun tidak mudah, kita
berhasil mengatasi segala kesulitan, segala  penderitaan, pertumpahan darah,
rasa duka dan kesedihan. Saya tahu bahwa hari-hari terakhir ini sulit,
sangat sulit.
Akan tetapi, saya menghimbau kepada seluruh rakyat untuk mencari di dalam 
dirinya tetes-tetes terakhir keberanian dan ketabahan.

Marilah kita memilih, mari kita semua memilih. Kita tidak perlu takut. Kini 
Timor Lorosae tergantung kepada keberanian dan keyakinan yang kita buktikan 
pada hari ini.

Hari ini merupakan untuk selamanya hari terakhir penderitaan panjang kita 
dan hari ini juga kita akan menegaskan kedaulatan kita sebagai bangsa.

Marilah kita memilih, mari kita semua memilih! Tidak perlu kita takut.
Untuk mengakhiri saya ingin menghimbau kepada semua orang Timor Lorosae 
untuk segera pulang ke rumah masing-masing setelah memilih. 

Saya memerintahkan kepada para pemuda agar mengendalikan emosinya, agar 
tidak melakukan aksi-aksi provokasi dan tidak mudah terpancing oleh 
provokasi dari pihak lain. Saya menyadari bahwa beberapa pemuda telah 
kehilangan kontrol dan hal ini tidak dapat dibenarkan. Todal dapat ditolerir 
terjadinya lagi pertumpahan darah dan kematian di Timor Lorosae. Pemuda kita 
harus memainkan peranan politik dalam mengendalikan situasi. Pemuda kita 
harus bertanggungjawab untuk membantu menghindari pertumpahan darah lebih 
banyak di Tanah Air kita.

Rekonsiliasi harus sejati dan harus dilaksanakan dengan semangat dan jiwa. 
Melalui kata dan perilakunya, beberapa penanggungjawab di dalam organisasi 
perlawanan kita telah menghambat pengertian yang sebenarnya tentang proses 
rekonsiliasi. Hal ini tidak dapat dibenarkan.

Sekali lagi saya menghimbau kepada seluruh rakyat agar memilih dan agar ikut 
menciptakan suasana ketenteraman bagi seluruh rakyat!

Mari kita memilih. Mari kita membebaskan Tanah Air kita, Timor Lorosae yang 
tersayang"

Tapi antusiasme rakyat Timor Lorosae pagi itu bukan semata-mata karena pesan 
dari Kay Rala Xanana Gusmao. Aku melihat, mereka seperti mendapatkan 
kekuatan yang luar biasa untuk meninggalkan rumah masing-masing. Di semua 
pusat pemungutan suara itu mereka dengan sabar menanti giliran untuk 
memilih: apakah menerima otonomi atau menolak otonomi yang ditawarkan oleh 
pemerintah Indonesia. Mereka menanti dalam antrean yang panjang, di bawah 
panasnya matahari. Mereka seperti melupakan rasa haus dan lapar. Tak ada 
yang meninggalkan tempat barang seinci pun. Di Kecamatan Hera, sekitar 15 
kilometer dari Kota Dili, mereka harus berjalan kaki karena sejak seminggu 
sebelum referendum itu tak ada kendaraan yang melintasi kawasan itu. Bahkan, 
masyarakat di sana sangat sulit untuk pergi ke pasar. Begitu juga di 
Kecamatan Metinaro. Banyak rakyat yang sudah meninggalkan rumah sejak jam 
01.00 dini hari. Mereka berjalan kaki, tak lagi peduli pada rasa kantuk. 

Rakyat Timor Lorosae tak lagi peduli ancaman dari pihak tertentu sebelum 
referendum itu dilaksanakan. Kalian tahu 'kan, empat hari sebelum tanggal 30 
Agustus telah terjadi kerusuhan di beberapa tempat di Kota Dili, maupun di 
beberapa kabupaten. Ketika aku bertanya pada mereka di beberapa tempat 
sentru vota nian, jawaban mereka nyaris sama. "Kami tidak takut pada teror 
dan intimidasi. Kami sudah biasa mendengar suara tembakan. Hari ini sangat 
berarti bagi masa depan kami, masa depan rakyat Timor Lorosae." Jawaban ini 
bukan terucap dari pemuda atau pemudi yang jadi aktivis di kampus. Juga 
bukan aku dengar dari Manuel, Neves atau Jose. Bukan pula dari mulut 
Ronaldo. Tapi diucapkan oleh sejumlah oom dan tante yang telah beranjak tua. 
Aku agak tersentak mendengar jawaban dari "mana", sebutan bagi kakak 
perempuan yang duduk di bawah pohon sambil menyusui anaknya. Ia mengaku akan 
menanti antrean yang panjang dengan sabar. Mana Alice, nama perempuan itu 
berucap, "Kami, rakyat Timor itu pemberani, tak pernah takut. Kalau harus 
mundur, itu untuk maju kembali dua langkah. Kami bukan bangsa yang penakut." 
Ya, rakyat Timor Lorosae memang telah mempertaruhkan nyawanya untuk tanggal 
30 Agustus 1999 lalu.

Tahu enggak, aku sebenarnya bermaksud menceritakan apa yang aku lihat 
langsung pagi itu. Tapi sungguh ajaib, berkomunikasi lewat saluran telepon 
itu jadi teramat sulit. Apalagi yang namanya hubungan lewat telepon seluler. 
Tiba-tiba saja telepon nggak jadi sulit nyambung ke mana-mana. Awalnya aku 
pikir, karena banyak jurnalis yang melaporkan liputannya, tapi ternyata 
bukan. Banyak jurnalis radio yang mengaku sulit melaporkan ke kantornya. 
Hari itu kalian bisa saksikan kan liputan televisi swasta? 

Joko dan Riri, aku mendapat surat dari Luluk. Kalian masih ingat dia 'kan? 
Sebagaimana kalian, dia juga bertanya tentang banyak hal. Meski dengan susah 
payah aku menjawab sejumlah pertanyaan dari teman-teman, tapi aku senang 
sekali. Karena dengan dilangsungkannya referendum ini ternyata membuka mata 
dan hati banyak orang, mereka jadi  menyadari apa yang sebenarnya terjadi di 
Timor Lorosae ini. Kadang ketika aku menulis surat untuk kalian, aku seperti 
tengah menulis paper ketika kita kuliah dulu. Bagaimana kejadian yang 
sesungguhnya, apakah seperti yang digambarkan oleh teve, tanya Luluk. 
Beberapa hal memang digambarkan seperti kenyataannya, tapi beberapa hal lain 
tak ada beritanya. Aku nggak tahu apakah itu disebabkan jurnalisnya tak ada 
di tempat itu atau memang ada sensor di setiap media mereka. 

Teror dan intimidasi masih tetap saja marak di halaman setiap polling 
station. Kalau bukan ada orang yang masih mengenakan simbol dari kelompok 
pro-otonomi maupun pro-kemerdekaan. Tapi sepanjang yang aku tahu, banyak 
bener yang menggunakan kaos, payung atau ikat kepala dari kelompok 
pro-otonomi. Selain itu, di beberapa tempat masih saja ada aparat yang 
berpakaian preman. Putra daerah yang menjadi tentara atau polisi hari itu 
secara resmi tidak bertugas tapi penduduk kan tahu apa pekerjaan mereka. Ya, 
sama saja karena penduduk tetap saja ngeri meski mereka berpakaian preman. 
Ternyata, operasi serangan fajar juga dijalankan di sini. Ada yang 
membagikan beras dan uang. Maksudnya jelas sudah. Mereka minta agar rakyat 
memilih untuk menerima otonomi. "Ah, terlambat aksi mereka," kata temanku. 
Menurut aku, kalau mereka mau mengambil simpati rakyat ya kenapa selama ini 
menteror rakyat, ya. Ketika aku tanya pada rakyat yang akan memilih, jawaban 
mereka sederhana saja, "Kami tahu mana yang buruk dan mana yang baik." 

Kalian pasti masih ingat pada April lalu Kota Dili juga diserang setelah 
penyerbuan sebuah gereja di Liquica, 40 kilometer dari Dili. Tapi, 
penyerangan yang kemarin terjadi memang segera terkabarkan ke luar karena 
begitu banyak jurnalis yang meliput. Berbeda dengan kejadian di Dili, lima 
bulan lalu itu. Dari para jurnalis itulah kita sebenarnya bisa tahu apa yang 
sesungguhnya terjadi di lapangan. Tapi mereka sering menuliskannya sebagai 
"baku hantam antar kelompok". Padahal, seorang jurnalis foto menceritakan, 
ketika terjadi kekerasan itu, jelas-jelas terjadi penyerangan oleh pihak 
yang satu terhadap pihak yang lain. Dan pihak kepolisian tak berbuat 
apa-apa. Kenapa ya tidak berani menulis, bahwa peristiwa itu merupakan 
kekerasan yang dilakukan oleh aparat, siapa pun dia yang memegang senjata 
terhadap rakyat. Kenapa tidak dikatakan terjadi kekerasan terhadap penduduk 
sipil oleh kelompok yang bersenjata? Kalau di Kota Dili saja kekerasan 
terjadi seperti itu, lalu bagaimana kejadian yang sebenarnya di hampir 
setiap kabupaten? Kita tak bisa tahu bagaimana mereka diteror, diintimidasi 
dan dianiaya. Bahkan dibunuh secara semena-mena.

Yang aku tahu jarang jurnalis yang berani meliput ke kabupaten, apalagi 
jurnalis lokal. Seorang teman yang baru saja pulang dari Maliana mengatakan, 
ketika ada kerusuhan di sana, orang UNAMET segera berkemas-kemas. Artinya 
apa? Semua orang takut, bahkan bisa dikatakan sangat ketakutan. Bahkan 
ketika kantor UNAMET di Maliana diserang beberapa bulan lalu, polisi malah 
tertawa ketika melihat orang asing itu meninggalkan tempat itu. "Kalau takut 
ya jangan ke Timor Timur," komentar aparat yang melihat staf UNAMET meloncat 
pagar. 

Meskipun demikian aku tak berani mengatakan bahwa tinggal di Kota Dili itu 
lebih aman dibandingkan di kabupaten. Sehari setelah referendum itu, aku 
bersama teman-teman mencari tahu apa yang tengah terjadi di Ibu Kota Timor 
Lorosae itu pada waktu malam. Jam baru menunjukkan pukul 19.30 tapi jalanan 
senyap, bukan lengang. Di beberapa jalan seperti telah dikuasai milisi 
Aitarak. Ketika kami melintasi jalan yang sepi itu ternyata ada satu truk 
berhenti, dan tampak sejumlah pemuda meloncat turun. Entah dari mana mereka. 
Hampir di sepanjang jalan selalu saja ada pemuda yang bergerombol di 
kegelapan malam. Kami sesungguhnya juga berminat membeli paun [dibaca: 
paung, yang artinya roti] tapi rumah di sebuah kampung itu telah menutup 
rumahnya rapat-rapat. 

Yang aku tak bisa mengerti, belum dua jam dari penutupan referendum, aku 
menyaksikan kaum perempuan dan anak-anak yang tinggal di kawasan Becora 
berbondong-bondong meninggalkan rumahnya. Mereka membawa tikar, termos nasi, 
air dan apa saja yang bisa dibawa sebagai bekal. Ke mana mereka pergi? 
Penduduk yang ketakutan akibat ada kabar, kawasan mereka akan diserbu malam 
setelah referendum itu harus mengungsi ke hutan, di sekitar Dili. Ya, Tuhan, 
mereka lari pontang-panting mendengar suara tembakan, entah dari mana. 
Kalian tahu, tak lama setelah bunyi tembakan itu dua truk polisi melintasi 
jalanan di kawasan itu, sambil tertawa dan melambaikan tangan pada penduduk 
yang menunggu di pinggir jalan. Dan, ketika aku menulis surat ini, sekitar 
pukul 10 malam waktu Jakarta, aku mendengar beberapa kali tembakan beruntun. 
Aku nggak tahu dari mana tembakan itu diletuskan. Aku pun nggak tahu siapa 
yang ditembak. Kabarnya, tembakan itu terus saja terdengar sampai pagi hari.

Sepinya Kota Dili bukan terjadi ketika referendum telah dilaksanakan dengan 
sukses. Kalian tahu kan bahwa 98.6 persen rakyat Timor Lorosae telah 
menggunakan haknya. Tapi selama masa kampanye pun Dili seperti kota mati, 
seperti nggak ada denyut kehidupan. Apalagi kalau kelompok pro-otonomi yang 
mengadakan kampanye, tak seorang penduduk sipil berani keluar rumah, apalagi 
bepergian ke pusat pertokoan. Kampanye pro-otonomi yang paling brutal adalah 
kampanye di hari terakhir masa kampanye.  Hampir seluruh peserta adalah 
milisi yang mendukung otonomi. Pendukung mereka sangat mudah dikenali: 
mereka berrambut cepak, postur tubuhnya kekar. Bagaimana penduduk sipil 
berani menonton kampanye kelompok pro-otonomi ya, kalau kampanye selalu 
berarti akan ada teror dan kemudian terjadi kekerasan. Seorang jurnalis 
mengatakan, tampaknya kelompok pro-otonomi ingin pamer massa. Mereka tak 
ingin kalah meriah dibandingkan kampanye dari kelompok pro-kemerdekaan 
sehari sebelumnya. Kebetulan aku masih berada di luar kota ketika tengah 
berlangsung kampanye yang meriah dan tertib itu. Di sini aku hanya ingin 
menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. 

Hari Kamis tanggal 26 Agustus, adalah jadwal kampanye terakhir kelompok 
pendukung otonomi. Sejak malam sebelumnya, milisi Aitarak mulai beroperasi 
merampas kendaraan milik penduduk kota Dili, terutama mobil bak terbuka dan 
kendaraan berplat merah. Perampasan kendaraan ini terus berlangsung sampai 
pagi hari ketika kampanye akan dimulai. Hampir semua kendaraan milik pegawai 
kantor pemerintah dirampas dan pemiliknya dipaksa untuk ikut kampanye 
pro-otonomi. Pukul 09.30 masih terlihat milisi Aitarak merampas kendaraan 
apa pun yang lewat di sepanjang Jalan Colmera menuju kantor gubernur. 
Sebagian kendaraan langsung dipakai anggota milisi dan pendukung otonomi 
lainnya, sementara beberapa lainnya dibawa ke markas Aitarak di Mess Tropikal. 

Sekitar pukul 10.00 massa berkumpul di depan kantor gubernur, lalu mulai 
pawai keliling kota Dili. Dalam pawai itu terlihat sejumlah ratusan anak 
kecil, dan orang-orang Atambua, Flores, Bali dan Jawa. Menurut keterangan 
para pemantau di lapangan, asal mereka bisa diketahui dari bahasa yang 
digunakan, dan sebagian memang dikenal sebagai warga pendatang di kota Dili. 
Di sepanjang jalan para pendukung otonomi ini memaksa penduduk yang berdiri 
menonton untuk ikut. Seorang pemilik bengkel di Fatuhada asal Bali juga 
dipaksa dan diberi kaos, tapi menolak. Beberapa saksi mata melihat milisi 
pro-otonomi (kemungkinan Besi Merah Putih) membawa beberapa pucuk senjata 
rakitan di dalam kendaraan. Beberapa di antaranya bahkan secara terbuka 
menenteng senjata di pinggang mereka.

Ketika lewat di desa Kuluhun dan Becora, mereka merobek gambar-gambar CNRT 
dan Xanana Gusm�o yang dipasang di pinggir jalan. Namun warga hanya menonton 
karena takut melihat peserta pawai dalam jumlah banyak membawa senjata. 
Sekitar pukul 11.30 pawai mulai bergerak dari kantor gubernur menuju 
Lapangan Pramuka. Di sana ada ribuan orang yang sudah menunggu, dan pemantau 
juga melihat orang-orang dari luar Timor Lorosae dalam kerumunan itu. 
Beberapa saksi bahkan melihat anggota TNI (dari pos-pos BTT) yang bergabung 
di sana menggunakan atribut kampanye pro-otonomi. Beberapa di antaranya 
menggunakan kain penutup wajah agar tidak dikenali. Diperkirakan sekitar 
5.000 orang hadir dalam kampanye terbuka itu.

Di lapangan Pramuka, massa mendengarkan pidato-pidato dari para juru 
kampanye. Ketua BRTT Francisco Lopes da Cruz berpidato menjelaskan apa itu 
otonomi, dan menekankan bahwa dalam jajak pendapat tidak ada istilah menang 
atau kalah. Ketua Aliansi Sosial-Politik Timor Timur Armindo Mariano Soares 
sebaliknya memberi perintah kepada milisi untuk siap perang. "Dari Alfa 
(Lautem) sampai Sakunar (Ambeno), harus siap perang," katanya. Sedangkan 
Ketua FPDK Domingus Maria das Dores Soares, mengatakan otonomi adalah yang 
terbaik. Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) Jo�o Tavares menyebut 
dirinya sebagai Panglima Perdamaian, tapi selalu mengatakan bahwa menolak 
otonomi sama saja dengan menolak perdamaian. Sementara itu Komandan Aitarak 
Eurico Guterres mengatakan siap melancarkan perang gerilya jika otonomi 
ditolak. Dalam kampanye itu juga diumumkan kehadiran milisi dari 13 
kabupaten, antara lain Besi Merah Putih (Liqui�a), Laksaur Merah Putih 
(Covalima), Halilintar (Bobonaro), Darah Integrasi (Ermera), Aitarak (Dili), 
Tim Saka (Baucau), dan masih banyak yang lainnya. 

Dari Lapangan Pramuka massa mulai bergerak untuk pawai keliling kota Dili. 
Tapi ternyata kelompok pro-otonomi ini melanggar kesepakatan yang dibuat 
tentang rute pawai. Menurut JJ Simbolon dari Polda Timtim, pawai itu 
melanggar kesepakatan agar tidak melewati basis-basis pro-kemerdekaan, 
begitu yang ditulis harian The Jakarta Post (27/8). Dalam pawai terlihat 
ratusan kendaraan plat merah dan kendaraan TNI yang digunakan oleh massa 
kampanye. Keributan dimulai ketika pawai itu melewati kantor CNRT di Audian. 
Massa pawai meneriakkan kata-kata kotor menghina CNRT dan Xanana Gusmao, 
sambil melempari dan merusak tanda-tanda gambar yang terpasang di sana. Di 
depan kantor UNAMET mereka mencaci-maki dengan kata-kata kasar. 

Ketika melewati Kuluhun massa pro-otonomi kembali melakukan pengrusakan 
terhadap gambar CNRT dan Xanana Gusm�o. Mereka mengancam para pemuda yang 
kemudian menghindar dan melarikan diri. Saat itulah milisi pro-otonomi dan 
aparat keamanan melepaskan tembakan. Massa pro-integrasi juga merusak antara 
lain rumah milik Gilarmino Gracia dan Lai Nee Cho. Sebuah motor Honda GL Pro 
DF 2474 AA milik Elezio Vidigar dibawa lari oleh massa. Aksi brutal itu baru 
berhenti ketika pasukan Brimob sampai di lokasi. Tapi entah kenapa, tidak 
lama kemudian pasukan Brimob meninggalkan lokasi, dan suasana di Kuluhun 
kembali tegang. Ribuan pemuda keluar dari rumah-rumah mereka berdiri 
bergerombol di pinggir jalan. 

Penduduk yang sudah marah melihat tindakan milisi pro-otonomi dan sikap 
Brimob yang membiarkan mereka beraksi, akhirnya berkumpul di sekitar Kuluhun 
dan Audian. Sekitar pukul 14.00 mereka langsung menghadang sebuah mikrolet 
yang mengangkut massa pro-otonomi. Seorang penumpang yang menggunakan kaos 
berwarna merah turun dari mikrolet dan disambut dengan tusukan di dada. 
Korban kemudian dilarikan oleh dua orang suster ke Klinik Motael. Mikrolet 
itu melarikan diri dan di kampung-kampung warga pun mulai bersiaga dan 
membunyikan tanda bahaya. Keadaan makin tegang ketika warga mendengar bahwa 
kantor CNRT di Lecidere juga dirusak oleh massa pro-otonomi. 

Sekitar satu jam kemudian, polisi mulai memblokade jalan menuju Kuluhun 
dengan menempatkan puluhan personel di sana. Beberapa saat kemudian terlihat 
sebuah jip berwarna kuning mengangkut tujuh orang anggota Aitarak. Mereka 
melepaskan tembakan ke udara yang membuat penduduk lari berhamburan. Mobil 
itu kemudian menerobos blokade polisi dan anggota Aitarak melepaskan 
tembakan membabi-buta ke rumah yang memasang gambar CNRT. Mereka kemudian 
menyerbu kantor FPI/CNRT, menurunkan bendera CNRT dan membakarnya. Jendela 
dan pintu kantor ditembaki sampai rusak. Para pemuda pro-kemerdekaan 
bergegas meninggalkan tempat, tapi beberapa di antaranya sempat menjadi 
korban pemukulan. 

Menurut keterangan beberapa saksi mata, aparat Brimob yang berjaga-jaga di 
lokasi tidak berusaha menghalau para pengacau. "Ada yang malah menyuruh 
mereka masuk ke dalam," ujar seorang saksi. Beberapa warga yang melihat 
kejadian itu memprotes sikap polisi, tapi seorang perwira Polri yang hadir 
di lokasi malah membentak-bentak mereka. Beberapa anggota Brimob terlihat 
mengacungkan senjata ke arah warga. Serangan itu baru mulai reda ketika 
ratusan pasukan Brimob turun ke lokasi dan menghalau massa pro-otonomi 
dengan tembakan peringatan. 

Dalam kejadian itu sekurangnya lima orang dilaporkan meninggal dunia, 
sementara puluhan lainnya luka-luka. Atanacio Moniz (23) meninggal dengan 
luka tembak di bagian kepala, sementara Ejildo da Costa (27) meninggal 
karena tembakan di dada. Keduanya ditembak oleh milisi Aitarak yang 
membabi-buta dalam insiden tersebut. Mereka ditembak di kawasan Becora 
bersama seorang pemuda lain yang belum diketahui namanya. Seorang lain 
diketahui bernama Apolinario (42) juga tewas ditembak, namun belum diketahui 
siapa yang melakukan penembakan. Ia tewas dalam serangan terhadap kantor 
CNRT di Lecidere. Sementara seorang korban lainnya bernama Bernardino 
Guterres (21) ditembak dari belakang oleh Brimob ketika sedang berlari ke 
arah Audian dari Bemori. 

Sementara itu puluhan warga yang ditembak dan dipukuli oleh milisi mengambil
yang luka-luka parah. Mereka disembunyikan oleh penduduk yang lain, dan sampai 
sekarang belum diketahui keselamatannya. Sementara itu, beberapa kendaraan 
milik pendukung otonomi -- di antaranya terlihat mobil Camat Dili Barat 
Clementino Branco -- berkeliling kota Dili dan menyerang penduduk yang 
bergerombol di tepi jalan. Mereka juga memukuli anak-anak kecil dan remaja 
yang kebetulan berada di pinggir jalan. Di berbagai tempat seperti Vila 
Verde, Bairro-Pite mereka mengancam penduduk dengan senjata api dan 
melepaskan tembakan ke udara. Petugas polisi yang melihat mereka tidak 
mengambil tindakan apa pun, yang membuat penduduk semakin ketakutan.

Menurut kesaksian, aksi ini juga melibatkan anggota TNI yang menggunakan 
atribut kampanye otonomi. Namun belum ada bukti yang lebih jauh seperti nama 
atau pangkatnya. Teror itu terus berlanjut sampai malam hari. Sekitar pukul 
21.00 masih terdengar rentetan tembakan di daerah Taibessi, Becora dan 
Bemori. Malam harinya seorang pemuda yang dikenal dengan nama Nuno Brewok 
(29) diculik oleh anggota Aitarak yang dipimpin oleh Carlito Badio di 
rumahnya, kawasan Bairro-Pite. Sementara itu seorang supir taksi bernama 
Joao Martins Lobo (42), warga desa Bemori, sampai saat ini belum kembali 
bersama kendaraannya. Sementara itu ratusan warga kota Dili yang merasa 
terancam lari meninggalkan rumah mereka ke Metinaro, Hera, Dare dan Tibar. 

Kekekerasan, teror dan intimidasi masih berlangsung pada keesokan harinya. 
Suasana di kota Dili masih mencekam, dan nyaris tidak ada kendaraan 
lalu-lalang. Siang hari, sekitar pukul 14.00 terlihat puluhan pendukung 
otonomi mengenakan kaos dan topi berwarna biru duduk bergerombol di kawasan 
Becora. Sementara itu di markas Aitarak di Mess Tropikal, puluhan anggota 
Aitarak terlihat menenenteng senjata. Sekitar pukul 17.30 diperoleh berita 
bahwa milisi Aitarak akan melakukan operasi mengejar para pengungsi yang 
berada di Metinaro, Hera, Dare dan Tibar pada pukul 22.00. 

Pada tanggal 28 Agustus 1999, massa berkumpul kembali di kawasan Kuluhun. 
Mereka membawa batu, parang dan senjata tajam lainnya. Sekitar pukul 10.49 
massa menghadang dan melempari mobil yang dikendarai Mayor Martono di 
jembatan Kuluhun, sehingga kaca mobil depan pecah. Mayor Martono terluka di 
pelipis kanan akibat lemparan batu itu. Beberapa menit kemudian, pasukan 
Perintis Brimob diturunkan di sana. Kemudian terjadi penjarahan di Bairo 
Piete terhadap perumahan kaum pendatang. Lepas tengah hari, seorang anggota 
Aitarak menangkap salah seorang pemuda pro-kemerdekaan di kuburan Santa 
Cruz. Kemudian dengan mengendarai truk pasukan Aitarak keliling kota. 
Kabarnya, hari itu akan ada razia terhadap siapa saja oleh pihak Polri. 
Razia selama 24 jam ini dimaksudkan untuk menyita senjata tajam tapi polisi 
memerintahkan pada para milisi, agar menyembunyikan senjata rakitan yang 
selama ini mereka gunakan. Warga yang melintasi jalanan di kawasan kantor 
gubernur mendengar bunyi tembakan dari belakang kantor gubernur itu.

Jika kalian membaca suratku ini, sepertinya aku berbakat jadi jurnalis, ya? 
Nanti kalau ada lowongan aku pasti akan melamar jadi jurnalis. Joko dan 
Riri, aku belum akan meninggalkan Bumi Lorosae. Kalian tak perlu khawatir 
meski situasi sangat tidak menentu di sini. Kami di sini tak bisa menentukan 
apakah hari ini keadaan aman atau tidak, karena kami jadi terbiasa 
mengukurnya dalam jam. Jika kalian datang ke pesta perkawinan Nina dan Rudy, 
sampaikan salamku pada mereka. Juga sampaikan salamku pada Esty. Joko, kalau 
kamu jadi pergi ke Surabaya sampaikan salamku pada Edwin dan Nita. Katakan, 
aku kangen pada mereka. 

Dili, 31 Agustus 1999

Peluk dan cium,

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke