Precedence: bulk CATATAN PERJALANAN DI BUMI LOROSAE (4) Dear Joko dan Riri, Jangan kaget ya karena aku sudah mengirim kabar lagi untuk kalian. Dengan menuliskan apa yang aku rasakan, ternyata membuat aku jadi agak rileks. Tapi jangan kalian bayangkan selama aku di sini, aku jadi selalu tegang. Aku dan teman-temanku masih saja bercanda sebagaimana biasa, seperti yang kalian tahu selama kami berada di Jakarta. Tepatnya, melalui surat ini aku bisa mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi di sini. Hari Senin 30 Agustus akhirnya tiba juga. Hari itu adalah hari yang amat bersejarah bagi rakyat Timor Lorosae, karena mereka menunggu tibanya hari ini, saat untuk menentukan masa depan mereka selama hampir 24 tahun. Sejak pagi-pagi aku, sebagaimana biasanya nebeng temen-temenku yang memantau ke beberapa 'sentru vota nian' atau polling station. Kali ini kami hanya keliling kota Dili. Hari ini kami tak mungkin bisa bepergian ke beberapa kabupaten meskipun ingin ke sana, bukan saja karena banyak kerusuhan di beberapa tempat di luar kota Dili. Coba tebak kenapa? Karena kendaraan umum sangat sulit didapatkan dua atau tiga hari sebelum referendum ini. Bahkan penduduk kota Dili pun sulit mendapatkan kendaraan umum. Taksi yang selalu berlalu-lalang pun sudah dicarter oleh para jurnalis maupun observer. Jujur saja aku sangat terharu ketika menyaksikan rakyat Timor Lorosae berbondong-bondong ke sentru vota nian. Mereka, laki-laki dan perempuan, tua dan muda berjalan kaki. Aku menduga mereka mengenakan pakaian yang terbaik. Bahkan di beberapa tempat aku menyaksikan laki-laki yang mengenakan jas, padahal siang itu begitu terik di sini. Saat aku mau beranjak dari rumah, Ronaldo datang. Sebelum ia berangkat menuju polling station ia ingin menunjukkan pesan dari Xanana Gusmao. Aku ingin kalian tahu apa pesan Presiden CNRT itu: "Mari Kita Membebaskan Tanah Air Kita, Timor Lorosae yang Tersayang Rakyat Timor Lorosae yang tersayang dan berani, Hari ini, tanggal 30 Agustus, merupakan hari yang berarti dalam sejarah kita dan dalam perjuangan pembebasan kita. Hari ini, rakyat Timor Lorosae akan melaksanakan hak asasinya untuk menentukan nasib sendiri. Hari ini kita, dihadapan masyarakat internasional, akan menentukan nasib, masa depan, pembebasan dan kemerdekaan kita. Meskipun tidak mudah, kita berhasil mengatasi segala kesulitan, segala penderitaan, pertumpahan darah, rasa duka dan kesedihan. Saya tahu bahwa hari-hari terakhir ini sulit, sangat sulit. Akan tetapi, saya menghimbau kepada seluruh rakyat untuk mencari di dalam dirinya tetes-tetes terakhir keberanian dan ketabahan. Marilah kita memilih, mari kita semua memilih. Kita tidak perlu takut. Kini Timor Lorosae tergantung kepada keberanian dan keyakinan yang kita buktikan pada hari ini. Hari ini merupakan untuk selamanya hari terakhir penderitaan panjang kita dan hari ini juga kita akan menegaskan kedaulatan kita sebagai bangsa. Marilah kita memilih, mari kita semua memilih! Tidak perlu kita takut. Untuk mengakhiri saya ingin menghimbau kepada semua orang Timor Lorosae untuk segera pulang ke rumah masing-masing setelah memilih. Saya memerintahkan kepada para pemuda agar mengendalikan emosinya, agar tidak melakukan aksi-aksi provokasi dan tidak mudah terpancing oleh provokasi dari pihak lain. Saya menyadari bahwa beberapa pemuda telah kehilangan kontrol dan hal ini tidak dapat dibenarkan. Todal dapat ditolerir terjadinya lagi pertumpahan darah dan kematian di Timor Lorosae. Pemuda kita harus memainkan peranan politik dalam mengendalikan situasi. Pemuda kita harus bertanggungjawab untuk membantu menghindari pertumpahan darah lebih banyak di Tanah Air kita. Rekonsiliasi harus sejati dan harus dilaksanakan dengan semangat dan jiwa. Melalui kata dan perilakunya, beberapa penanggungjawab di dalam organisasi perlawanan kita telah menghambat pengertian yang sebenarnya tentang proses rekonsiliasi. Hal ini tidak dapat dibenarkan. Sekali lagi saya menghimbau kepada seluruh rakyat agar memilih dan agar ikut menciptakan suasana ketenteraman bagi seluruh rakyat! Mari kita memilih. Mari kita membebaskan Tanah Air kita, Timor Lorosae yang tersayang" Tapi antusiasme rakyat Timor Lorosae pagi itu bukan semata-mata karena pesan dari Kay Rala Xanana Gusmao. Aku melihat, mereka seperti mendapatkan kekuatan yang luar biasa untuk meninggalkan rumah masing-masing. Di semua pusat pemungutan suara itu mereka dengan sabar menanti giliran untuk memilih: apakah menerima otonomi atau menolak otonomi yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia. Mereka menanti dalam antrean yang panjang, di bawah panasnya matahari. Mereka seperti melupakan rasa haus dan lapar. Tak ada yang meninggalkan tempat barang seinci pun. Di Kecamatan Hera, sekitar 15 kilometer dari Kota Dili, mereka harus berjalan kaki karena sejak seminggu sebelum referendum itu tak ada kendaraan yang melintasi kawasan itu. Bahkan, masyarakat di sana sangat sulit untuk pergi ke pasar. Begitu juga di Kecamatan Metinaro. Banyak rakyat yang sudah meninggalkan rumah sejak jam 01.00 dini hari. Mereka berjalan kaki, tak lagi peduli pada rasa kantuk. Rakyat Timor Lorosae tak lagi peduli ancaman dari pihak tertentu sebelum referendum itu dilaksanakan. Kalian tahu 'kan, empat hari sebelum tanggal 30 Agustus telah terjadi kerusuhan di beberapa tempat di Kota Dili, maupun di beberapa kabupaten. Ketika aku bertanya pada mereka di beberapa tempat sentru vota nian, jawaban mereka nyaris sama. "Kami tidak takut pada teror dan intimidasi. Kami sudah biasa mendengar suara tembakan. Hari ini sangat berarti bagi masa depan kami, masa depan rakyat Timor Lorosae." Jawaban ini bukan terucap dari pemuda atau pemudi yang jadi aktivis di kampus. Juga bukan aku dengar dari Manuel, Neves atau Jose. Bukan pula dari mulut Ronaldo. Tapi diucapkan oleh sejumlah oom dan tante yang telah beranjak tua. Aku agak tersentak mendengar jawaban dari "mana", sebutan bagi kakak perempuan yang duduk di bawah pohon sambil menyusui anaknya. Ia mengaku akan menanti antrean yang panjang dengan sabar. Mana Alice, nama perempuan itu berucap, "Kami, rakyat Timor itu pemberani, tak pernah takut. Kalau harus mundur, itu untuk maju kembali dua langkah. Kami bukan bangsa yang penakut." Ya, rakyat Timor Lorosae memang telah mempertaruhkan nyawanya untuk tanggal 30 Agustus 1999 lalu. Tahu enggak, aku sebenarnya bermaksud menceritakan apa yang aku lihat langsung pagi itu. Tapi sungguh ajaib, berkomunikasi lewat saluran telepon itu jadi teramat sulit. Apalagi yang namanya hubungan lewat telepon seluler. Tiba-tiba saja telepon nggak jadi sulit nyambung ke mana-mana. Awalnya aku pikir, karena banyak jurnalis yang melaporkan liputannya, tapi ternyata bukan. Banyak jurnalis radio yang mengaku sulit melaporkan ke kantornya. Hari itu kalian bisa saksikan kan liputan televisi swasta? Joko dan Riri, aku mendapat surat dari Luluk. Kalian masih ingat dia 'kan? Sebagaimana kalian, dia juga bertanya tentang banyak hal. Meski dengan susah payah aku menjawab sejumlah pertanyaan dari teman-teman, tapi aku senang sekali. Karena dengan dilangsungkannya referendum ini ternyata membuka mata dan hati banyak orang, mereka jadi menyadari apa yang sebenarnya terjadi di Timor Lorosae ini. Kadang ketika aku menulis surat untuk kalian, aku seperti tengah menulis paper ketika kita kuliah dulu. Bagaimana kejadian yang sesungguhnya, apakah seperti yang digambarkan oleh teve, tanya Luluk. Beberapa hal memang digambarkan seperti kenyataannya, tapi beberapa hal lain tak ada beritanya. Aku nggak tahu apakah itu disebabkan jurnalisnya tak ada di tempat itu atau memang ada sensor di setiap media mereka. Teror dan intimidasi masih tetap saja marak di halaman setiap polling station. Kalau bukan ada orang yang masih mengenakan simbol dari kelompok pro-otonomi maupun pro-kemerdekaan. Tapi sepanjang yang aku tahu, banyak bener yang menggunakan kaos, payung atau ikat kepala dari kelompok pro-otonomi. Selain itu, di beberapa tempat masih saja ada aparat yang berpakaian preman. Putra daerah yang menjadi tentara atau polisi hari itu secara resmi tidak bertugas tapi penduduk kan tahu apa pekerjaan mereka. Ya, sama saja karena penduduk tetap saja ngeri meski mereka berpakaian preman. Ternyata, operasi serangan fajar juga dijalankan di sini. Ada yang membagikan beras dan uang. Maksudnya jelas sudah. Mereka minta agar rakyat memilih untuk menerima otonomi. "Ah, terlambat aksi mereka," kata temanku. Menurut aku, kalau mereka mau mengambil simpati rakyat ya kenapa selama ini menteror rakyat, ya. Ketika aku tanya pada rakyat yang akan memilih, jawaban mereka sederhana saja, "Kami tahu mana yang buruk dan mana yang baik." Kalian pasti masih ingat pada April lalu Kota Dili juga diserang setelah penyerbuan sebuah gereja di Liquica, 40 kilometer dari Dili. Tapi, penyerangan yang kemarin terjadi memang segera terkabarkan ke luar karena begitu banyak jurnalis yang meliput. Berbeda dengan kejadian di Dili, lima bulan lalu itu. Dari para jurnalis itulah kita sebenarnya bisa tahu apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Tapi mereka sering menuliskannya sebagai "baku hantam antar kelompok". Padahal, seorang jurnalis foto menceritakan, ketika terjadi kekerasan itu, jelas-jelas terjadi penyerangan oleh pihak yang satu terhadap pihak yang lain. Dan pihak kepolisian tak berbuat apa-apa. Kenapa ya tidak berani menulis, bahwa peristiwa itu merupakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat, siapa pun dia yang memegang senjata terhadap rakyat. Kenapa tidak dikatakan terjadi kekerasan terhadap penduduk sipil oleh kelompok yang bersenjata? Kalau di Kota Dili saja kekerasan terjadi seperti itu, lalu bagaimana kejadian yang sebenarnya di hampir setiap kabupaten? Kita tak bisa tahu bagaimana mereka diteror, diintimidasi dan dianiaya. Bahkan dibunuh secara semena-mena. Yang aku tahu jarang jurnalis yang berani meliput ke kabupaten, apalagi jurnalis lokal. Seorang teman yang baru saja pulang dari Maliana mengatakan, ketika ada kerusuhan di sana, orang UNAMET segera berkemas-kemas. Artinya apa? Semua orang takut, bahkan bisa dikatakan sangat ketakutan. Bahkan ketika kantor UNAMET di Maliana diserang beberapa bulan lalu, polisi malah tertawa ketika melihat orang asing itu meninggalkan tempat itu. "Kalau takut ya jangan ke Timor Timur," komentar aparat yang melihat staf UNAMET meloncat pagar. Meskipun demikian aku tak berani mengatakan bahwa tinggal di Kota Dili itu lebih aman dibandingkan di kabupaten. Sehari setelah referendum itu, aku bersama teman-teman mencari tahu apa yang tengah terjadi di Ibu Kota Timor Lorosae itu pada waktu malam. Jam baru menunjukkan pukul 19.30 tapi jalanan senyap, bukan lengang. Di beberapa jalan seperti telah dikuasai milisi Aitarak. Ketika kami melintasi jalan yang sepi itu ternyata ada satu truk berhenti, dan tampak sejumlah pemuda meloncat turun. Entah dari mana mereka. Hampir di sepanjang jalan selalu saja ada pemuda yang bergerombol di kegelapan malam. Kami sesungguhnya juga berminat membeli paun [dibaca: paung, yang artinya roti] tapi rumah di sebuah kampung itu telah menutup rumahnya rapat-rapat. Yang aku tak bisa mengerti, belum dua jam dari penutupan referendum, aku menyaksikan kaum perempuan dan anak-anak yang tinggal di kawasan Becora berbondong-bondong meninggalkan rumahnya. Mereka membawa tikar, termos nasi, air dan apa saja yang bisa dibawa sebagai bekal. Ke mana mereka pergi? Penduduk yang ketakutan akibat ada kabar, kawasan mereka akan diserbu malam setelah referendum itu harus mengungsi ke hutan, di sekitar Dili. Ya, Tuhan, mereka lari pontang-panting mendengar suara tembakan, entah dari mana. Kalian tahu, tak lama setelah bunyi tembakan itu dua truk polisi melintasi jalanan di kawasan itu, sambil tertawa dan melambaikan tangan pada penduduk yang menunggu di pinggir jalan. Dan, ketika aku menulis surat ini, sekitar pukul 10 malam waktu Jakarta, aku mendengar beberapa kali tembakan beruntun. Aku nggak tahu dari mana tembakan itu diletuskan. Aku pun nggak tahu siapa yang ditembak. Kabarnya, tembakan itu terus saja terdengar sampai pagi hari. Sepinya Kota Dili bukan terjadi ketika referendum telah dilaksanakan dengan sukses. Kalian tahu kan bahwa 98.6 persen rakyat Timor Lorosae telah menggunakan haknya. Tapi selama masa kampanye pun Dili seperti kota mati, seperti nggak ada denyut kehidupan. Apalagi kalau kelompok pro-otonomi yang mengadakan kampanye, tak seorang penduduk sipil berani keluar rumah, apalagi bepergian ke pusat pertokoan. Kampanye pro-otonomi yang paling brutal adalah kampanye di hari terakhir masa kampanye. Hampir seluruh peserta adalah milisi yang mendukung otonomi. Pendukung mereka sangat mudah dikenali: mereka berrambut cepak, postur tubuhnya kekar. Bagaimana penduduk sipil berani menonton kampanye kelompok pro-otonomi ya, kalau kampanye selalu berarti akan ada teror dan kemudian terjadi kekerasan. Seorang jurnalis mengatakan, tampaknya kelompok pro-otonomi ingin pamer massa. Mereka tak ingin kalah meriah dibandingkan kampanye dari kelompok pro-kemerdekaan sehari sebelumnya. Kebetulan aku masih berada di luar kota ketika tengah berlangsung kampanye yang meriah dan tertib itu. Di sini aku hanya ingin menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Hari Kamis tanggal 26 Agustus, adalah jadwal kampanye terakhir kelompok pendukung otonomi. Sejak malam sebelumnya, milisi Aitarak mulai beroperasi merampas kendaraan milik penduduk kota Dili, terutama mobil bak terbuka dan kendaraan berplat merah. Perampasan kendaraan ini terus berlangsung sampai pagi hari ketika kampanye akan dimulai. Hampir semua kendaraan milik pegawai kantor pemerintah dirampas dan pemiliknya dipaksa untuk ikut kampanye pro-otonomi. Pukul 09.30 masih terlihat milisi Aitarak merampas kendaraan apa pun yang lewat di sepanjang Jalan Colmera menuju kantor gubernur. Sebagian kendaraan langsung dipakai anggota milisi dan pendukung otonomi lainnya, sementara beberapa lainnya dibawa ke markas Aitarak di Mess Tropikal. Sekitar pukul 10.00 massa berkumpul di depan kantor gubernur, lalu mulai pawai keliling kota Dili. Dalam pawai itu terlihat sejumlah ratusan anak kecil, dan orang-orang Atambua, Flores, Bali dan Jawa. Menurut keterangan para pemantau di lapangan, asal mereka bisa diketahui dari bahasa yang digunakan, dan sebagian memang dikenal sebagai warga pendatang di kota Dili. Di sepanjang jalan para pendukung otonomi ini memaksa penduduk yang berdiri menonton untuk ikut. Seorang pemilik bengkel di Fatuhada asal Bali juga dipaksa dan diberi kaos, tapi menolak. Beberapa saksi mata melihat milisi pro-otonomi (kemungkinan Besi Merah Putih) membawa beberapa pucuk senjata rakitan di dalam kendaraan. Beberapa di antaranya bahkan secara terbuka menenteng senjata di pinggang mereka. Ketika lewat di desa Kuluhun dan Becora, mereka merobek gambar-gambar CNRT dan Xanana Gusm�o yang dipasang di pinggir jalan. Namun warga hanya menonton karena takut melihat peserta pawai dalam jumlah banyak membawa senjata. Sekitar pukul 11.30 pawai mulai bergerak dari kantor gubernur menuju Lapangan Pramuka. Di sana ada ribuan orang yang sudah menunggu, dan pemantau juga melihat orang-orang dari luar Timor Lorosae dalam kerumunan itu. Beberapa saksi bahkan melihat anggota TNI (dari pos-pos BTT) yang bergabung di sana menggunakan atribut kampanye pro-otonomi. Beberapa di antaranya menggunakan kain penutup wajah agar tidak dikenali. Diperkirakan sekitar 5.000 orang hadir dalam kampanye terbuka itu. Di lapangan Pramuka, massa mendengarkan pidato-pidato dari para juru kampanye. Ketua BRTT Francisco Lopes da Cruz berpidato menjelaskan apa itu otonomi, dan menekankan bahwa dalam jajak pendapat tidak ada istilah menang atau kalah. Ketua Aliansi Sosial-Politik Timor Timur Armindo Mariano Soares sebaliknya memberi perintah kepada milisi untuk siap perang. "Dari Alfa (Lautem) sampai Sakunar (Ambeno), harus siap perang," katanya. Sedangkan Ketua FPDK Domingus Maria das Dores Soares, mengatakan otonomi adalah yang terbaik. Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) Jo�o Tavares menyebut dirinya sebagai Panglima Perdamaian, tapi selalu mengatakan bahwa menolak otonomi sama saja dengan menolak perdamaian. Sementara itu Komandan Aitarak Eurico Guterres mengatakan siap melancarkan perang gerilya jika otonomi ditolak. Dalam kampanye itu juga diumumkan kehadiran milisi dari 13 kabupaten, antara lain Besi Merah Putih (Liqui�a), Laksaur Merah Putih (Covalima), Halilintar (Bobonaro), Darah Integrasi (Ermera), Aitarak (Dili), Tim Saka (Baucau), dan masih banyak yang lainnya. Dari Lapangan Pramuka massa mulai bergerak untuk pawai keliling kota Dili. Tapi ternyata kelompok pro-otonomi ini melanggar kesepakatan yang dibuat tentang rute pawai. Menurut JJ Simbolon dari Polda Timtim, pawai itu melanggar kesepakatan agar tidak melewati basis-basis pro-kemerdekaan, begitu yang ditulis harian The Jakarta Post (27/8). Dalam pawai terlihat ratusan kendaraan plat merah dan kendaraan TNI yang digunakan oleh massa kampanye. Keributan dimulai ketika pawai itu melewati kantor CNRT di Audian. Massa pawai meneriakkan kata-kata kotor menghina CNRT dan Xanana Gusmao, sambil melempari dan merusak tanda-tanda gambar yang terpasang di sana. Di depan kantor UNAMET mereka mencaci-maki dengan kata-kata kasar. Ketika melewati Kuluhun massa pro-otonomi kembali melakukan pengrusakan terhadap gambar CNRT dan Xanana Gusm�o. Mereka mengancam para pemuda yang kemudian menghindar dan melarikan diri. Saat itulah milisi pro-otonomi dan aparat keamanan melepaskan tembakan. Massa pro-integrasi juga merusak antara lain rumah milik Gilarmino Gracia dan Lai Nee Cho. Sebuah motor Honda GL Pro DF 2474 AA milik Elezio Vidigar dibawa lari oleh massa. Aksi brutal itu baru berhenti ketika pasukan Brimob sampai di lokasi. Tapi entah kenapa, tidak lama kemudian pasukan Brimob meninggalkan lokasi, dan suasana di Kuluhun kembali tegang. Ribuan pemuda keluar dari rumah-rumah mereka berdiri bergerombol di pinggir jalan. Penduduk yang sudah marah melihat tindakan milisi pro-otonomi dan sikap Brimob yang membiarkan mereka beraksi, akhirnya berkumpul di sekitar Kuluhun dan Audian. Sekitar pukul 14.00 mereka langsung menghadang sebuah mikrolet yang mengangkut massa pro-otonomi. Seorang penumpang yang menggunakan kaos berwarna merah turun dari mikrolet dan disambut dengan tusukan di dada. Korban kemudian dilarikan oleh dua orang suster ke Klinik Motael. Mikrolet itu melarikan diri dan di kampung-kampung warga pun mulai bersiaga dan membunyikan tanda bahaya. Keadaan makin tegang ketika warga mendengar bahwa kantor CNRT di Lecidere juga dirusak oleh massa pro-otonomi. Sekitar satu jam kemudian, polisi mulai memblokade jalan menuju Kuluhun dengan menempatkan puluhan personel di sana. Beberapa saat kemudian terlihat sebuah jip berwarna kuning mengangkut tujuh orang anggota Aitarak. Mereka melepaskan tembakan ke udara yang membuat penduduk lari berhamburan. Mobil itu kemudian menerobos blokade polisi dan anggota Aitarak melepaskan tembakan membabi-buta ke rumah yang memasang gambar CNRT. Mereka kemudian menyerbu kantor FPI/CNRT, menurunkan bendera CNRT dan membakarnya. Jendela dan pintu kantor ditembaki sampai rusak. Para pemuda pro-kemerdekaan bergegas meninggalkan tempat, tapi beberapa di antaranya sempat menjadi korban pemukulan. Menurut keterangan beberapa saksi mata, aparat Brimob yang berjaga-jaga di lokasi tidak berusaha menghalau para pengacau. "Ada yang malah menyuruh mereka masuk ke dalam," ujar seorang saksi. Beberapa warga yang melihat kejadian itu memprotes sikap polisi, tapi seorang perwira Polri yang hadir di lokasi malah membentak-bentak mereka. Beberapa anggota Brimob terlihat mengacungkan senjata ke arah warga. Serangan itu baru mulai reda ketika ratusan pasukan Brimob turun ke lokasi dan menghalau massa pro-otonomi dengan tembakan peringatan. Dalam kejadian itu sekurangnya lima orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya luka-luka. Atanacio Moniz (23) meninggal dengan luka tembak di bagian kepala, sementara Ejildo da Costa (27) meninggal karena tembakan di dada. Keduanya ditembak oleh milisi Aitarak yang membabi-buta dalam insiden tersebut. Mereka ditembak di kawasan Becora bersama seorang pemuda lain yang belum diketahui namanya. Seorang lain diketahui bernama Apolinario (42) juga tewas ditembak, namun belum diketahui siapa yang melakukan penembakan. Ia tewas dalam serangan terhadap kantor CNRT di Lecidere. Sementara seorang korban lainnya bernama Bernardino Guterres (21) ditembak dari belakang oleh Brimob ketika sedang berlari ke arah Audian dari Bemori. Sementara itu puluhan warga yang ditembak dan dipukuli oleh milisi mengambil yang luka-luka parah. Mereka disembunyikan oleh penduduk yang lain, dan sampai sekarang belum diketahui keselamatannya. Sementara itu, beberapa kendaraan milik pendukung otonomi -- di antaranya terlihat mobil Camat Dili Barat Clementino Branco -- berkeliling kota Dili dan menyerang penduduk yang bergerombol di tepi jalan. Mereka juga memukuli anak-anak kecil dan remaja yang kebetulan berada di pinggir jalan. Di berbagai tempat seperti Vila Verde, Bairro-Pite mereka mengancam penduduk dengan senjata api dan melepaskan tembakan ke udara. Petugas polisi yang melihat mereka tidak mengambil tindakan apa pun, yang membuat penduduk semakin ketakutan. Menurut kesaksian, aksi ini juga melibatkan anggota TNI yang menggunakan atribut kampanye otonomi. Namun belum ada bukti yang lebih jauh seperti nama atau pangkatnya. Teror itu terus berlanjut sampai malam hari. Sekitar pukul 21.00 masih terdengar rentetan tembakan di daerah Taibessi, Becora dan Bemori. Malam harinya seorang pemuda yang dikenal dengan nama Nuno Brewok (29) diculik oleh anggota Aitarak yang dipimpin oleh Carlito Badio di rumahnya, kawasan Bairro-Pite. Sementara itu seorang supir taksi bernama Joao Martins Lobo (42), warga desa Bemori, sampai saat ini belum kembali bersama kendaraannya. Sementara itu ratusan warga kota Dili yang merasa terancam lari meninggalkan rumah mereka ke Metinaro, Hera, Dare dan Tibar. Kekekerasan, teror dan intimidasi masih berlangsung pada keesokan harinya. Suasana di kota Dili masih mencekam, dan nyaris tidak ada kendaraan lalu-lalang. Siang hari, sekitar pukul 14.00 terlihat puluhan pendukung otonomi mengenakan kaos dan topi berwarna biru duduk bergerombol di kawasan Becora. Sementara itu di markas Aitarak di Mess Tropikal, puluhan anggota Aitarak terlihat menenenteng senjata. Sekitar pukul 17.30 diperoleh berita bahwa milisi Aitarak akan melakukan operasi mengejar para pengungsi yang berada di Metinaro, Hera, Dare dan Tibar pada pukul 22.00. Pada tanggal 28 Agustus 1999, massa berkumpul kembali di kawasan Kuluhun. Mereka membawa batu, parang dan senjata tajam lainnya. Sekitar pukul 10.49 massa menghadang dan melempari mobil yang dikendarai Mayor Martono di jembatan Kuluhun, sehingga kaca mobil depan pecah. Mayor Martono terluka di pelipis kanan akibat lemparan batu itu. Beberapa menit kemudian, pasukan Perintis Brimob diturunkan di sana. Kemudian terjadi penjarahan di Bairo Piete terhadap perumahan kaum pendatang. Lepas tengah hari, seorang anggota Aitarak menangkap salah seorang pemuda pro-kemerdekaan di kuburan Santa Cruz. Kemudian dengan mengendarai truk pasukan Aitarak keliling kota. Kabarnya, hari itu akan ada razia terhadap siapa saja oleh pihak Polri. Razia selama 24 jam ini dimaksudkan untuk menyita senjata tajam tapi polisi memerintahkan pada para milisi, agar menyembunyikan senjata rakitan yang selama ini mereka gunakan. Warga yang melintasi jalanan di kawasan kantor gubernur mendengar bunyi tembakan dari belakang kantor gubernur itu. Jika kalian membaca suratku ini, sepertinya aku berbakat jadi jurnalis, ya? Nanti kalau ada lowongan aku pasti akan melamar jadi jurnalis. Joko dan Riri, aku belum akan meninggalkan Bumi Lorosae. Kalian tak perlu khawatir meski situasi sangat tidak menentu di sini. Kami di sini tak bisa menentukan apakah hari ini keadaan aman atau tidak, karena kami jadi terbiasa mengukurnya dalam jam. Jika kalian datang ke pesta perkawinan Nina dan Rudy, sampaikan salamku pada mereka. Juga sampaikan salamku pada Esty. Joko, kalau kamu jadi pergi ke Surabaya sampaikan salamku pada Edwin dan Nita. Katakan, aku kangen pada mereka. Dili, 31 Agustus 1999 Peluk dan cium, Pratiwi ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
