Precedence: bulk
PROTES KERAS ATAS KEKERASAN TERHADAP WARTAWAN DI TIMOR TIMUR
Kampanye putaran terakhir pro-otonomi untuk jajak pendapat di Timor Timur
pada Kamis (26/8) diwarnai berbagai tindak kekerasan. Selain dikabarkan
telah menewaskan empat orang, beberapa wartawan, baik dari dalam (antara
lain dari harian Kompas dan RCTI) maupun luar negeri, juga dilaporkan telah
menjadi korban kekerasan. Sejumlah�jurnalis yang tengah bertugas mendapat
perlakuan kasar,�sementara polisi yang bertugas menjaga keamanan tampak
tidak berbuat banyak. Mereka membiarkan pelaku kekerasan tersebut berlalu
begitu saja.
Korban-korban yang berhasil dihimpun Perwakilan AJI di Dili, antara lain:
Cornelis KA Khayam (Kompas) terluka kakinya akibat tembakan-- ia selamat
berkat mengenakan rompi anti peluru yang ia kenakan, dalam rompi itu
bersarang lima butir peluru. Korban lain adalah Beawiharta (fotografer
Reuters) luka di kaki kena peluru, Rien Kuntari (Kompas) ditodong milisi
Aitarak, Jaka (Antara) dipukul anggota Aitarak, Dicky (RCTI) dan Albert
Kuhon (SCTV) terkena pukulan, Eski Suyanto (Voice of Human Rights) ditodong
polisi dan diancam akan ditembak dan Mindo (Radio Nederland) mengalami hal
yang sama, ditodong senjata.
Sebelumnya, pada 25 Agustus, wartawan majalah Time John Stanmeyer dan
asistennya Heriyanto juga telah diserang milisi Aitarak pimpinan Eurico
Guterres ketika mereka sedang mengambil gambar anggota milisi yang membawa
senjata api. Selain berusaha merampas perlengkapan mereka, para anggota
milisi yang marah juga berusaha menyerang kedua wartawan itu dengan pisau.
Akibat penyerangan itu, Heriyanto menderita luka-luka cukup serius.
Teror juga dialami wartawan foto Kompas Eddy Hasbi yang begitu mendarat di
Dili pada 15 Agustus langsung mendapat ancaman dari seseorang yang mengaku
bernama Supri dari Satuan Gugus Intelijen (SGI) dan Domingos Martins.
Menurut mereka, Eddy Hasbi pernah membantu kelompok pro-kemerdekaan di masa
lalu. Dan karena itu, Eddy Hasbi diminta untuk segera datang ke kantor
polisi setempat.
Teror dan tindak kekerasan yang dialami para wartawan tersebut sekali lagi
menegaskan tidak adanya upaya serius dari pihak aparat keamanan, Polri dan
TNI, yang mendapat mandat PBB untuk menjaga keamanan di kawasan Timor Timur.
Menanggapi berbagai situasi tersebut, Aliansi Jurnalis Independen menyatakan:
1. Mengecam tindak kekerasan yang selain mengakibatkan jatuhnya korban jiwa
warga, juga telah mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan jurnalis.
2. Mendesak Polri segera mengusut dan menangkap para pelaku tindak kekerasan
yang beberapa di antaranya terlihat jelas di layar televisi.
3. Menuntut Polri untuk lebih serius menjaga keamanan di wilayah ini dan
tidak menyia-nyiakan mandat yang sudah diterima dari PBB
4. Mendukung sepenuhnya upaya para jurnalis di Timor Timur yang secara
profesional berusaha menyebarluaskan berita ke seluruh dunia.
Jakarta, 26 Agustus 1999
Ketua AJI
Lukas Luwarso
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html