Precedence: bulk SITUASI DILI 1/9/99 - 21:00 Pemuda pro-kemerdekaan dan pengurus CNRT terus menjadi sasaran tindakan brutal milisi. Menurut beberapa anggota milisi, tindakan itu mereka ambil sebagai balas dendam atas kematian salah seorang anggota Aitarak tanggal 29/9 lalu. Kapolda Kolonel Timbul Silaen sore ini mengatakan bahwa polisi akan bertindak tegas, tapi kenyataannya tidak satu pun anggota Aitarak yang dibawa ke pengadilan. Sebaliknya Joao da Silva yang didakwa membunuh anggota Aitarak itu sekarang sudah ditahan di Polda Timtim, dan akan diproses ke pengadilan. Tindakan membiarkan anggota milisi Aitarak dan BMP yang sampai sore tadi sudah membunuh sekurangnya enam orang penduduk, memperlihatkan dengan jelas dukungan polisi pada milisi pro-integrasi. Media massa, terutama SCTV, RCTI dan TVRI membantu mendistorsi keadaan dengan terus menyiarkan adanya 'bentrokan antarkelompok' di kota Dili. Kondisi di lapangan membuktikan bahwa yang terjadi sama sekali bukan bentrokan, melainkan pembunuhan, penculikan, pembakaran rumah, dan tindak kekerasan brutal lainnya oleh milisi pro-integrasi. Tidak adanya aparat yang bergerak semata-mata memperlihatkan dukungan, kalau bukan keterlibatan mereka. Sekitar pukul 16.45 milisi mengobrak-abrik pemukiman di wilayah Mascarenas, dekat markas UNAMET. Penduduk yang tidak tahu-menahu alasan serangan memberi perlawanan seadanya dengan lemparan batu, sehingga terkesan seperti 'bentrokan antar kelompok'. Perlawanan itu tidak lain adalah langkah terakhir karena Polri yang bertanggung jawab atas keamanan di Timor Lorosae tidak mengambil tindakan apa pun. Setelah melakukan pembakaran sejumlah rumah di wilayah itu, milisi pro-integrasi terus bergerak maju mengejar para pemuda yang lari menyelamatkan diri. Seorang pemuda yang lari ke kantor UNAMET diberondong dengan tembakan. Para petugas Polri hanya berdiri menonton dari jauh, dan tidak mengambil tindakan apa pun untuk mencegah apalagi melucuti senjata yang digunakan milisi. Padahal beberapa hari lalu, Kapold Timtim sesumbar bahwa pihaknya akan menahan semua orang yang terlihat berkeliaran membawa senjata apa pun. Tembakan dari milisi Aitarak disambut dengan lemparan batu oleh warga yang mati-matian mempertahankan diri. Dari lapangan dilaporkan bahwa setidaknya dua orang tergeletak karena tertembak di dekat Mataduoro, sekitar 200 meter dari markas UNAMET. Warga kota Dili pelan-pelan mulai membentuk sistem pertahanan untuk mencegah masuknya milisi. Di beberapa ujung gang terlihat para pemuda berkumpul membawa pentungan kayu dan bersiap siaga. Sementara itu jalan-jalan tertentu dikuasai milisi Aitarak yang menurut pengamatan didampingi oleh anggota militer berpakaian sipil. Sekitar 250 warga kota Dili dan sejumlah wartawan masih berlindung di markas UNAMET. Kehidupan mereka terancam karena gerombolan milisi menjaga sudut-sudut jalan di sekitar markas itu, sementara petugas Polri tidak berusaha melakukan apa pun untuk mengusir mereka. Sebuah mobil yang keluar dari markas UNAMET sekitar pukul 20.00 kembali dihadang oleh milisi Aitarak di dekat Gereja Katedral Dili. Belum ada keterangan lebih lanjut tentang nasib para penumpang. Warga sangat menyesalkan sikap UNAMET yang masih terus-menerus mengatakan bahwa Polri yang bertanggung jawab atas keamanan di Timor Lorosae, karena terbukti dari sekian banyak kejadian, Polri tidak melakukan apa-apa, malah cenderung membiarkan dan terlibat dalam aksi brutal milisi pro-integrasi. "Berapa lagi korban yang harus jatuh karena UNAMET tidak bersikap tegas?" adalah pertanyaan yang berulangkali muncul saat ini. Sekitar pukul 21.00 gerombolan milisi masih terlihat berjaga di sekitar Balide dan Mascarenas. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
