Precedence: bulk


TIMOR LOROSAE: APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Situasi di Timor Lorosae semakin tidak terkendali. Setiap hari terjadi
serangan brutal oleh milisi pro-integrasi yang didukung oleh TNI di berbagai
kabupaten. Polri yang bertanggung jawab atas keamanan tidak dapat berbuat
apa-apa, walaupun sudah lebih dari 30 orang yang tewas. Seorang perwira
Polri Letkol JJ Sitompul kepada New York Times (3/9) mengatakan, "Ini adalah
permainan catur dengan 14 pemain dan 30 penonton dengan agenda yang
berbeda-beda. Dan di atas papan catur ada dua ekor anjing, yang siap
berkelahi. Kami, polisi, harus terus memisah dua anjing itu, karena keduanya
bisa menggigit polisi. Itulah filsafat saya."

Sampai saat ini banyak pihak, termasuk media massa, mengira bahwa kekacauan
di Timor Lorosae disebabkan oleh 'bentrokan antarkelompok'. Tapi, jika kita
mengamati kasus per kasus dengan teliti, maka terlihat bahwa yang terjadi
sesungguhnya aksi provokasi dan teror oleh milisi pro-integrasi dan TNI.
Keterlibatan TNI tidak dapat dibantah lagi, walaupun para pejabat pemerintah
dan perwira TNI sendiri menyangkal kebenarannya. Bukti keterlibatan itu
sudah diperoleh UNAMET dan semua lembaga pemantau, dan banyak sekali saksi
mata yang melihat anggota TNI terlibat dalam aksi-aksi milisi.

Di Dili saat ini, menurut pengakuan seorang anggota milisi Aitarak, komando
sudah sepenuhnya diambil alih oleh TNI, khususnya satuan yang disebut Satgas
Intel atau SGI. Sejak tahun 1980-an, satuan yang dirancang dan
dipelihara antara lain oleh Mayjen Zacky Anwar Makarim dan Letjen (Purn)
Prabowo Soebianto, terlibat dalam pembunuhan, penculikan, penyiksaan dan
berbagai tindak kekerasan lainnya terhadap penduduk sipil. Satuan ini juga
dikenal sebagai 'dirty trick departments' yang bertugas memobilisasi
kelompok sipil bersenjata (sekarang disebut milisi pro-integrasi). Anggota
Aitarak mengaku bahwa kelompoknya yang dipimpin oleh Eurico Guterres,
'dibantu' oleh Kapten Siburian, yang tidak lain adalah Komandan SGI.

Milisi Mahidi (Mati Hidup Integrasi dengan Indonesia) yang dipimpin oleh
Cancio Lopes de Carvalho juga memiliki sejarah serupa. Bahkan Cancio sendiri
yang pernah mengungkapkan hal itu kepada pers bahwa pada bulan Desember
tahun lalu ia menerima senjata otomatis dari Kodim 1633/Ainaro. Ketika
menyadari bahwa informasi itu sebenarnya tidak boleh diungkapkan kepada
publik, ia mengatakan bahwa senjata otomatis itu (termasuk M-16) adalah
peninggalan Portugis yang dulu diserahkan kepada TNI. Tentu saja keterangan
itu tidak masuk akal, karena tentara Portugis pada tahun 1975 tidak
menggunakan senapan M-16. Dalam operasinya, Mahidi selalu dibantu oleh
anggota TNI, seperti Serda Domingos Sarmento dan Serda Cesario Tilman,
keduanya dari Koramil 04/Hato-Ulo.

Hubungan antara milisi dan TNI ini berulangkali dibantah oleh Panglima TNI
Jenderal Wiranto dan para perwira lainnya. Para pengamat di Jakarta seperti
Letjen (Purn) Hasnan Habib mengatakan TNI sebagai institusi -- sekali lagi,
sebagai institusi -- tidak mungkin terlibat dalam organisasi maupun aksi
milisi pro-integrasi. Pemerintah Australia pernah mengatakan hal serupa,
dengan menyebut "adanya unsur yang nakal (rough elements)" di tubuh TNI.
Pihak UNAMET membuktikan kehadiran "unsur yang nakal" ini dengan memberikan
daftar para perwira dan prajurit TNI yang diketahui terlibat dalam aksi-aksi
milisi pro-integrasi.

Penjelasan 'konspirasi OKNUM TNI dan milisi' ini tidak benar. Dapat
dipastikan bahwa TNI sebagai institusi memang setuju dengan kehadiran
milisi, dan bahkan membantu mengorganisir, mempersenjatai dan membantu
mereka dalam operasinya. Di Manufahi, seorang pemimpin milisi mengaku bahwa
dalam operasinya mereka didukung oleh kelompok Nanggala (sebutan bagi
pasukan Kopassus yang beroperasi di wilayah itu). Bahkan menurutnya, karena
anggota milisi di Same terkesan kurang ganas, maka para anggota Nanggala ini
juga memberikan obat-obatan. "Setelah diberi obat, teman-teman jadi galak
sekali. Polisi juga berani mereka lawan," katanya.

Di tempat-tempat lain, khususnya wilayah barat, TNI juga merekrut orang dari
luar Timor Lorosae untuk menjadi anggota milisi. Kebanyakan berasal dari
wilayah NTT, khususnya Atambua, Kefa dan Alor. Mereka umumnya adalah
pengangguran dan kriminal di tempat asalnya, yang memang digunakan oleh TNI
sebagai informan. Hal itu diakui oleh seorang anggota milisi Besi Merah
Putih yang beroperasi di Liquica. Ia memberi keterangan bahwa sejak bulan
Mei 1999, terjadi 'reorganisasi' di tubuh BMP dengan memasukkan sejumlah
besar 'orang baru' dari Atambua, Sulawesi Selatan, dan bahkan Sumatra.
Anggota BMP itu sendiri tidak tahu dari mana mereka datang, karena
menurutnya 'semua diatur oleh Pak Leoneto Martins (bupati Liquica) dan Pak
Manuel Sousa (komandan BMP)'. 

Keterangan tentang banyaknya orang dari luar Timor Lorosae di tubuh milisi
terbukti dalam serangan milisi Aitarak dan BMP di Mataduoro tanggal 1/9
lalu. Saat terjadi serangan, anggota milisi diberi komando dalam bahasa
Indonesia, dan banyak anggota milisi yang juga berteriak-teriak dalam bahasa
Indonesia. Beberapa saksi mata mengatakan banyak 'anggota baru' dalam
barisan Aitarak sekarang ini. Mereka mengatakan 'anggota baru' ini tiba di
Dili sekitar dua bulan lalu dengan kapal laut, dan tinggal di kawasan
Caicoli serta Mascarenas. Mereka tidak banyak bicara dengan penduduk
setempat, dan juga tidak diketahui bekerja di mana. 

Ada beberapa alasan mengapa orang mau bergabung dengan gerombolan milisi
pro-integrasi ini. Pertama, karena semua anggota milisi dibayar sekitar Rp
200.000 per bulan (pengakuan milisi Aitarak, 25/8). Mereka juga diberi
fasilitas pakaian, senjata dan keperluan sehari-hari. Kedua, karena dipaksa.
Kasus pemaksaan ini terutama terjadi di Liquica oleh Kodim dan bupati
setempat. Karena banyak orang yang kemudian mundur atau melarikan diri,
komandan Besi Merah Putih terpaksa meminta bantuan TNI untuk merekrut
penduduk yang berasal dari Atambua, Alor dan Sulawesi. Cukup banyak pemuda
yang mengaku dipaksa dengan ancaman keluarganya akan dibunuh jika tidak mau
bergabung. Ketiga, karena hasutan dari tokoh pro-integrasi, TNI dan
pemerintah daerah. Rakyat ditakut-takuti bahwa mereka akan dibunuh
seandainya Timor Lorosae merdeka. Untuk membuktikan 'ancaman' itu milisi
melakukan pembunuhan dan penganiayaan dan menyamar sebagai anggota Falintil.

Tentu timbul pertanyaan, seandainya kebanyakan anggota milisi itu sebenarnya
hanya dibayar, diancam atau dihasut, mengapa mereka begitu ganas dalam
operasinya? Di kabupaten Bobonaro, seorang pemuda tewas dicincang oleh
anggota milisi Besi Merah Putih, dan hatinya diambil kemudian dimakan.
Beberapa anggota milisi mengatakan bahwa mereka sering diberi obat-obatan
(tidak jelas obat jenis apa) yang kemudian membuat mereka jadi sangat ganas.
Pengakuan itu diperoleh dari anggota milisi di Manufahi, Liquica, Bobonaro,
Covalima dan Dili. Jadi, cukup jelas bahwa penggunaan obat-obatan itu bukan
suatu kebetulan, melainkan sudah menjadi pola.

Bukan hal yang aneh bahwa TNI menggunakan obat-obat terlarang dalam
pekerjaannya. Beberapa waktu lalu mingguan Tempo pernah membongkar kasus
penangkapan seorang perwira Kopassus, yang juga anak dari KSAD Jenderal
Soebagyo HS. Kasus itu kemudian ditutup karena Polri tidak berani
menyelidiki lebih jauh dan membuat kasus ini terbongkar di hadapan publik.
Di Timor Lorosae sendiri, penggunaan obat terlarang untuk "menyemangati"
anggota milisi yang umumnya adalah anak muda usia belasan tahun, mulai
diketahui saat terjadi serangan terhadap paroki Liquica dan kota Dili bulan
April lalu.

BUKAN PERANG SAUDARA ATAU BENTROKAN ANTARKELOMPOK

Sejak kemungkinan akan adanya jajak pendapat mulai dibicarakan, kelompok
pro-integrasi yang umumnya adalah pejabat pemerintah daerah di Timor
Lorosae, sudah gencar berbicara tentang kemungkinan 'perang saudara' jika
diadakan jajak pendapat. Media massa, khususnya media lokal dan Indonesia,
memperkuat gambaran itu dengan menyiarkan berita tentang 'bentrokan antar
kelompok'. Dalam kasus pembunuhan yang jelas dilakukan oleh milisi
pro-integrasi sekalipun media massa menggambarkannya sebagai 'bentrokan'.
Tembakan sporadis yang selalu terjadi pada malam hari pun digambarkan
sebagai 'tembak-menembak', padahal semuanya dilakukan oleh milisi pro-integrasi.

Dalam beberapa kejadian terakhir, seperti di Ambeno (28/8) dan Dili (31/8),
memang ada anggota milisi yang menjadi korban. Tapi itu terjadi tidak lain
karena penduduk memberikan perlawanan seadanya, bukan karena secara aktif
menyerang. Menurut catatan masyarakat, semua 'kerusuhan' terjadi setelah
adanya provokasi dari milisi pro-integrasi yang melepaskan tembakan ke
segala arah, membakar rumah, atau menganiaya orang. Penyerangan oleh pihak
pro-kemerdekaan (dalam hal ini FALINTIL) selalu diarahkan kepada anggota
Polri dan TNI. Serangan terakhir terjadi di kecamatan Alas, ketika kantor
Koramil setempat diserbu oleh anggota FALINTIL. 

Hal lain yang memperlihatkan tidak adanya 'bentrokan' atau 'perang saudara'
adalah sikap para pemimpin CNRT yang selalu menahan diri sekalipun kantor
dan rumah mereka dibakar, dan anggotanya dibunuh di mana-mana. Panglima
Falintil Xanana Gusmao hanya sekali mengeluarkan seruan agar rakyat membela
diri agar "tidak mati seperti binatang". Seruan itu kemudian dimanfaatkan
oleh kelompok pro-integrasi dan melakukan provokasi dengan membunuh puluhan
orang pada bulan April. Semua itu dilakukan, menurut mereka, karena "Xanana
Gusmao mengajak perang". Sejak bulan November 1998 sekitar 400 orang
meninggal karena aksi-aksi brutal yang didukung oleh TNI dari belakang.

Skenario 'perang saudara' ini memang senjata yang paling ampuh untuk
melakukan kejahatan tanpa perlu takut dihukum. Dengan adanya gambaran
'bentrokan antar kelompok' TNI bisa dengan mudah terlibat tanpa perlu
khawatir dunia internasional akan mengutuk mereka karena melakukan
'pelanggaran hak asasi manusia'. Masalahnya, para pemimpin pro-otonomi
dengan senang hati membantu dengan terus mengeluarkan pernyataan dan seruan
tentang akan adanya perang saudara jika rakyat menolak otonomi. 

Dari sini kita bisa lihat ada dua kepentingan yang berjalan seiring.
Kelompok pro-otonomi ingin tetap berkuasa (artinya tidak digeser dari
jabatan dan kenikmatan yang diperoleh di bawah pendudukan Indonesia), dengan
cara menunjukkan diri memiliki kekuatan, yaitu milisi pro-integrasi. Hanya
dengan cara itu mereka akan diperhitungkan sebagai sebuah kekuatan dan dapat
menentukan perkembangan politik sehingga tidak merugikan mereka dan lebih
jauh menjamin kepentingan mereka tetap dilindungi. Sementara itu TNI melihat
bahwa skenario 'perang saudara' ini adalah satu-satunya cara untuk
mempertahankan kekuasaan di Timor Lorosae. Kalaupun nanti TNI terpaksa
angkat kaki, maka 'perang saudara' itu bisa membantu untuk cuci tangan dan
melepaskan diri dari segala kesalahan selama ini.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Setelah kita paham dengan baik bangunan konflik yang sekarang terjadi di
Timor Lorosae, maka kita bisa bicara tentang langkah-langkah yang perlu
diambil untuk membantu rakyat membebaskan diri. Saat ini, karena diminta
untuk bersabar dan menahan diri oleh para pemimpin CNRT, rakyat terus
menjadi korban kampanye pembunuhan, teror dan provokasi. Ribuan orang sudah
melarikan diri ke gunung-gunung dan menunggu situasi membaik. Tapi gejala
melarikan diri ini ternyata sama sekali tidak menyelesaikan masalah, karena
milisi pro-integrasi juga mulai menjadikan para pengungsi ini sebagai
sasaran. Semua jalan yang menghubungkan kota-kota kabupaten diblokade,
sementara pada malam hari mereka membuat operasi-operasi 'keamanan'. Belasan
orang sudah tewas dan dianiaya di pos-pos pemeriksaan yang dibuat oleh
milisi itu.

Pihak CNRT sendiri, sejak bulan Mei lalu, sepertinya mempercayakan semua
urusan ke tangan UNAMET, termasuk masalah keamanan. Sejak bulan Juni
FALINTIL sudah membangun basis-basis (acontanamento) dan membatasi gerak
pasukannya di sekitar wilayah itu. Para pemuda dan mahasiswa pun dianjurkan
untuk tidak melakukan aksi terbuka yang menurut para pemimpin "dapat
mengganggu proses pelaksanaan jajak pendapat" atau bahkan "dianggap
provokasi oleh pemerintah Indonesia". Dalam kampanye politik bulan Juli
lalu, CNRT pun lebih mengandalkan kampanye dari rumah ke rumah, ketimbang
aksi massa yang sebenarnya sangat mungkin mereka lakukan. Politik toleransi
ini nampaknya terus berlanjut sekalipun sudah begitu banyak korban yang
jatuh. Sekurangnya 180 orang tewas, ratusan lainnya luka-luka, dan puluhan
ribu orang mengungsi dari tempat asalnya karena ancaman milisi pro-integrasi
dan TNI.

UNAMET yang diharapkan dapat membantu meringankan penderitaan dan mengurangi
tekanan ternyata tidak dapat berbuat banyak. Sampai hari ini sekurangnya
empat orang staf lokal UNAMET tewas dibunuh oleh milisi pro-integrasi,
sementara puluhan lainnya hidup terancam. Staf UNAMET yang berasal dari luar
negeri pun berulangkali diserang, dan beberapa di antaranya menderita
luka-luka. Dalam serangan tanggal 1/9 milisi Aitarak dan BMP menganiaya
seorang pemuda sampai tewas, hanya beberapa meter dari gerbang markas UNAMET
di Dili. Para petugas UNAMET, termasuk Polisi Sipil dan Perwira Penghubung
Militer PBB tidak dapat berbuat apa pun untuk mencegahnya. Sampai saat ini,
UNAMET belum berhasil mendesak Polri untuk menahan dan memeriksa milisi yang
membunuh staf mereka.

Menurut kesepakatan 5 Mei 1999, masalah keamanan dipercayakan kepada
pemerintah Indonesia, khususnya Polri. Sejak bulan Mei 1999 Polri terus
mengirim pasukan Brimob Kontingen Lorosae, yang sekarang diperkirakan sudah
mencapai jumlah 20.000 personel. Jumlah aparat keamanan (termasuk TNI)
secara keseluruhan diperkirakan saat ini mencapai jumlah sekitar 35.000
sampai 40.000 orang. Jumlah yang lebih dari cukup untuk menjaga keamanan di
Timor Lorosae yang berpenduduk 800.000 orang. Tapi seperti kita lihat, saat
ini beberapa kota kabupaten sepenuhnya dikuasai oleh milisi pro-integrasi.
Polri yang seharusnya bertanggung jawab hanya diam menonton pembunuhan demi
pembunuhan berlangsung.

Dalam situasi ini yang menjadi korban adalah rakyat, yang tidak bisa
mendapat jaminan keamanan dari siapa pun kecuali diri mereka sendiri.
Memang, di beberapa tempat terjadi perlawanan, tapi inilah yang kemudian
dengan liciknya dimanipulasi menjadi 'bentrokan antarkelompok', dan
memperkuat alasan TNI dan Polri untuk tetap bertahan di Timor Lorosae.
Perlawanan yang tidak terorganisir dan tidak disertai kepemimpinan politik
yang jelas memang merupakan sasaran empuk untuk provokasi dan manipulasi
yang diorganisir oleh pemerintah Indonesia bersama perangkat pendukungnya.
Tekanan internasional sekarang ini sudah meluas tapi ternyata tidak dapat
menghentikan tindakan brutal milisi. 

Perubahan harus terjadi dari dalam, artinya kebangkitan rakyat yang akan
menentukan penyelesaian di lapangan. Tapi untuk itu perlu dukungan dari
seluruh dunia, agar pemerintah Indonesia tidak lagi bisa menggunakan kartu
'perang saudara' atau 'bentrokan antarkelompok' untuk membenarkan
tindakannya di Timor Lorosae. Rakyat Indonesia harus menuntut pemerintahan
BJ Habibie atas kekejamannya di Timor Lorosae. Hanya kombinasi antara
kekuatan rakyat Timor Lorosae yang bangkit melawan kekejaman di lapangan dan
kekuatan rakyat Indonesia untuk menekan pemerintahnya yang biadab, dapat
mengatasi situasi yang sulit ini.

Beberapa langkah teknis yang dapat segera dilakukan:

1. Menuntut pertanggungjawaban Panglima TNI Jenderal Wiranto atas
keterlibatan pasukan TNI dalam membentuk, mempersenjatai, mendanai dan
membantu milisi pro-integrasi melakukan aksi-aksinya. Panglima TNI harus
dituntut untuk menarik pasukannya yang jelas melakukan dan membantu
pembantaian terhadap rakyat Timor Lorosae.

2. Menuntut Kepolisian RI -- yang sampai sekarang masih dipercaya sebagai
penanggungjawab keamanan berdasarkan kesepakatan 5 Mei 1999 -- untuk segera
menangkap para pemimpin milisi dan tokoh pro-integrasi yang terbukti
melakukan kejahatan, seperti pembunuhan. Jika mereka tidak ditangkap, maka
terbukti keterlibatan Polri dalam permainan kotor untuk membantai rakyat
Timor Lorosae.

MENGAPA RAKYAT INDONSIA HARUS BERTINDAK?

Seperti kita lihat, satu-satunya persoalan di Timor Lorosae adalah TNI yang
tidak mau melepaskan cengkeraman dan dominasinya terhadap masyarakat. Jika
TNI lolos dari masalah Timor Lorosae (yang mereka ciptakan), maka dominasi
militer di Indonesia pun akan tetap bertahan, dan masalah demokratisasi di
Indonesia pun akan semakin panjang dan sulit. Apa yang kita saksikan
sekarang adalah TNI yang sedang sekarat, yang menurut Megawati
Soekarnoputri, sedang jatuh ke titik terendah dalam sejarahnya. Rakyat Timor
Lorosae tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi kekuasaan militer
Indonesia, karena perjuangan mereka sesungguhnya membantu rakyat Indonesia
melepaskan diri dari cengkeraman militerisme. Dengan kata lain, pembebasan
Timor Lorosae adalah langkah penting dalam perjalanan demokratisasi Indonesia.

Semua kekuatan pro-demokrasi -- buruh, mahasiswa, intelektual, yang
menginginkan melihat masyarakat yang damai, adil, dan demokratis harus turut
memperjuangkan ini. Semua kekuatan di dunia sekarang ada di belakang
perjuangan rakyat Timor Lorosae. Mereka bahkan sudah ingin melakukan
intervensi karena melihat rezim militer ini tidak dapat dibiarkan. Aneh
sekali jika rakyat Indonesia kemudian tidak melakukan apa-apa dalam proses
membebaskan diri sendiri dari cengkeraman rezim militer. 

A Luta Continua!

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke