Precedence: bulk RAKYAT TIMOR LOROSAE SAMBUT KEMENANGAN Situasi Masih Mencekam Sejak pagi kota Dili diliputi suasana mencekam. Sampai pukul 4.00 pagi masih terdengar tembakan di sekitar Pantai Kelapa dan kawasan Comoro. Beberapa warga mengaku melihat sebuah mobil Toyota Kijang pick-up berwarna biru gelap berkeliling sejak tengah malam, membawa enam orang bersenjata di atasnya. "Kita tidak tahu dari mana. Mungkin Aitarak, mungkin juga SGI," kata seorang pemuda. Ia memilih tinggal di rumah sepanjang pagi, dan menonton pengumuman melalui televisi. Malam harinya ratusan orang masih nekat mengungsi ke bukit-bukit di sebelah selatan Dili. Di tempat pengungsian berita bahwa mayoritas rakyat Timor Lorosae menolak jajak pendapat disambut gembira bercampur cemas. Masyarakat saling berpelukan seolah baru lepas dari tekanan besar yang menghimpit. Tapi beberapa menit kemudian mereka kembali terdiam memikirkan keselamatan diri yang semakin tidak menentu. "Kami tidak berani pulang, Pak. Milisi masih terus kejar kami," ujar Joao, seorang pengungsi asal Caicoli. Ia dan keluarganya berhasil selamat dari kejaran milisi saat terjadi penyerangan tepat di depan kantor UNAMET. Janji Jenderal Wiranto bahwa TNI akan menjamin keamanan, sama sekali tidak meredakan kekhawatiran mereka. Justru sebaliknya, pengiriman dua batalyon ke Timor Lorosae kemarin malam makin menambah ketakutan warga. "Buat apa mereka dikirim ke sini? Rakyat takut militer dan milisi. Dua-duanya sama saja," kata Joao. Di pelabuhan Comoro dan Lanud Dili juga terlihat kesibukan luar biasa. Ratusan keluarga anggota TNI dan Polri menunggu giliran untuk naik ke pesawat Hercules yang disiapkan TNI-AU. Kepergian mereka nampaknya mendadak dan tidak dipersiapkan. Seorang ibu di bandara Comoro mengeluh karena sejak kemarin keberangkatan keluarganya terus ditunda. "Saya sudah ngurus ini semalaman, Pak. Tapi nggak tahu gimana ngaturnya, kok saya di-delay terus," ujar istri seorang pamen di Korem 164/WD itu. Kekhawatiran dan ketegangan antara lain timbul karena kondisi yang tidak menentu. Seorang aktivis pro-kemerdekaan menilai kekacauan ini adalah tidak lain karena ulah TNI sendiri. "Siapa suruh mereka bagikan senjata kepada milisi. Sekarang mereka kebingungan untuk kontrol," katanya. Memang beberapa petugas Brimob mengaku sulit mengendalikan keadaan karena banyaknya orang sipil yang membawa senjata. "Apalagi buat mereka yang baru datang. Mana mereka bisa bedakan Falintil dengan milisi," kata seorang anggota Brimob asal Baucau. Memang strategi mempersenjatai milisi ini sekarang menjadi senjata makan tuan. Segera setelah pengumuman hasil jajak pendapat, tembakan beruntun terdengar di Mercado Lama dan Taibessi. Tak lama kemudian kembali terdengar tembakan di wilayah Santa Cruz. Sebagian masyarakat yang masih tersisa langsung menutup pintu dan jendela. "Kami cukup merayakan kemenangan di dalam hati," ujar seorang bapak yang dihubungi lewat telepon. Menurutnya wartawan sering terjebak menggambarkan situasi kota Dili kacau akibat pertikaian di antara dua kelompok. "Itu tidak benar, Pak. Saya ini dari tahun 1975 mendukung merdeka, tapi sampai sekarang tidak pernah pegang senjata," katanya. "Sampai sekarang tidak pernah ada perintah untuk serang mereka (milisi-red). Mereka itu provokasi, dan nanti kalau kami lawan, TNI yang masuk terus bilang kami yang cari gara-gara. Dari dulu sampai sekarang, masalahnya sama saja." Dari Same dikabarkan kantor UNAMET dirusak oleh milisi ABLAI. Staf UNAMET yang masih tersisa dengan cepat diungsikan ke kantor Polres. Polisi Sipil PBB yang tidak bersenjata tidak mampu berbuat apa-apa ketika gerombolan itu merangsak kantor tersebut. Belum diketahui apakah ada korban di dalam insiden itu. Sejak hari pemungutan suara para pemimpin milisi pro-integrasi yang tergabung dalam UNIF sudah mengkritik PBB karena berlaku curang. Tapi tuduhan itu ditepis oleh Presiden BJ Habibie, Panglima TNI Wiranto dan Menlu Ali Alatas. "Tidak mungkin lembaga seperti PBB berlaku curang," kata Alatas kepada pers di Jakarta. Membuat kekacauan nampaknya adalah satu-satunya pilihan bagi milisi pro-integrasi untuk tetap diakui kehadirannya. Dengan suara mayoritas (79%) tidak ada keraguan lagi bahwa rakyat ingin merdeka. "Jangan lupa bahwa angka 79% itu muncul setelah ada tekanan, intimidasi dan indoktrinasi selama 23 tahun lebih," kata seorang aktivis pro-kemerdekaan di Dili. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
