Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 31/II/5-11 September 99
------------------------------

MUSUH WARTAWAN NO. 1

(POLITIK): Milisi pro Integrasi tidak hanya memusuhi rakyat Timtim yang pro
kemerdekaan. Mereka juga menghajar wartawan Indonesia yang lebih merah putih
dari mereka.

Serangan brutal dan intimidasi oleh milisi pro integrasi terhadap wartawan
yang meliput proses penentuan pendapat di Timor Timur, semakin menjadi-jadi.
Puluhan wartawan dalam dan luar negeri hari Kamis (2/9) meninggalkan Dili.
Mereka menumpang dua pesawat Hercules TNI itu menuju Bali dan Kupang. Dan
masih ada sejumlah wartawan lainnya yang bertahan di sana dan berharap akhir
pekan ini (4/9) bisa meninggalkan Dili dengan pesawat carteran. 

Kamis siang (2/9), milisi bersenjata itu menyerang Hotel Turismo, tempat
para staf Unamet dan wartawan menginap. Mereka memburu dua wartawan yang
diduga berkewarganegaraan Australia. Dengan senjata laras panjang di tangan
mereka menerobos memasuki hotel. Tapi kedua orang wartawan itu bisa lolos
setelah bersembunyi di suatu tempat. 

Intimidasi oleh milisi pro integrasi kepada para jurnalis Indonesia maupun
luar negeri itu berlangsung sebelum dan sesudah proses penentuan pendapat di
Timtim tanggal 30 Agustus lalu. Namun ancaman fisik maupun intimidasi
semakin menjadi-jadi seusai jajak pendapat itu berlangsung. Mereka melakukan
serangan brutal terhadap wartawan baik itu berupa pemukulan, penganiayaan
sampai penembakan jarak dekat.

Dalam kerusuhan hari Rabu (1/9), para milisi bersenjata memukuli secara
brutal sejumlah wartawan dalam dan luar negeri. Salah satu kebrutalan itu
sempat terekam televisi CNN, ketika tiga anggota milisi bersenjata memukuli
koresponden BBC untuk Indonesia Jonathan Head dengan popor senjata laras
panjang dan menendang kepalanya. Sebelumnya wartawan Kompas Cornelis Kewa
Ama Khayam yang pada kerusuhan 26 Agustus lalu di Kuluhun, juga diberondong
tembakan dari jarak dekat. Lima peluru  menerjang tubuhnya, namun ia selamat
karena memakai rompi antipeluru, sementara sebuah peluru menyerempet pahanya. 

Sementara itu Aliansi Jurnalis Independen melaporkan, beberapa wartawan yang
menjadi korban kekerasan milisi pro Jakarta di Timtim itu antara lain:
Cornelis Kewa Ama Khayam (Kompas) terluka kakinya akibat tembakan- ia
selamat berkat mengenakan rompi anti peluru yang ia kenakan, dalam rompi itu
bersarang lima butir peluru. Korban lain adalah Beawiharta (fotografer
Reuters) luka di kaki kena peluru, Rien Kuntari (Kompas) ditodong milisi
Aitarak, Jaka (Antara) dipukul anggota Aitarak, Dicky (RCTI) dan Albert
Kuhon (SCTV) terkena pukulan, Eski Suyanto (Voice of Human Rights) ditodong
polisi dan diancam akan ditembak dan Mindo (Radio Nederland) mengalami hal
yang sama, ditodong senjata. Sebelumnya (25/8), wartawati Kantor Berita
Kyodo News, Christina, di Atambua, ditodong bersama satu penumpang bus yang
ia tumpangi. Ia dipaksa mengikuti dan memuat berita kegiatan kelompok BMP
esok harinya. Uang dan beberapa kartu kredit milik wartawati itu dirampas
para milisi BMP. Pada hari yang sama wartawan majalah Time John Stanmeyer
dan asistennya Heriyanto juga diserang milisi Aitarak pimpinan Eurico
Guterres ketika mereka sedang mengambil gambar anggota milisi yang membawa
senjata api. Selain berusaha merampas perlengkapan mereka, para anggota
milisi yang marah juga berusaha menyerang kedua wartawan itu dengan pisau.
Akibat penyerangan itu, Heriyanto menderita luka-luka cukup serius.

Teror juga dialami wartawan foto Kompas Eddy Hasbi yang begitu mendarat di
Dili pada 15 Agustus langsung mendapat ancaman dari seseorang yang mengaku
bernama Supri dari Satuan Gugus Intelijen (SGI) dan Domingos Martins.
Menurut mereka, Eddy Hasbi pernah membantu kelompok pro kemerdekaan di masa
lalu. Dan karena itu, Eddy Hasbi diminta untuk segera datang ke kantor
polisi setempat.

Pada peristiwa Kuluhun, Kamis (26/8), wartawan TVRI yang lebih sering
memberitakan kegiatan pro otonomi pun mendapat sasaran amukan milisi. Kamera
videonya dibanting saat mereka mengabadikan peristiwa tersebut.

Teror dan tindak kekerasan yang dialami para wartawan tersebut mendapat
reaksi keras dari organisasi-organisasi wartawan di Jakarta. 24 organisasi
wartawan yang ada mengecam tindakan kekerasan milisi dan tidak seriusnya
Polri dan TNI dalam menjaga keamanan di Timtim.  

Dan tampaknya jika kecaman ini tidak mengubah keadaan, maka sudah saatnya
wartawan ramai-ramai berumah di Mabes TNI atau Dephankam. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke