Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 31/II/5-11 September 99 ------------------------------ KEKAYAAN TIMTIM MASIH TERBAGI (POLITIK): Keluarga Cendana, TNI dan sejumlah pemodal asing telah membagi habis kekayaan Timor Timur. Bagaimana nasib rakyat pasca referendum? Pro kemerdekaan dan pro otonomi kalah. Ya, kubu manapun yang menang, dalam jajak pendapat untuk menentukan nasib Timor Timur, 30 Agustus lalu, akan tetap menjadi pihak yang kalah. Mengapa? Karena secara ekonomi, kekayaan alam Timor Timur sudah habis terbagi. Gurita modal multinasional sudah lama membelit. Kekayaan bumi Lorosae sudah dibagi rata secara segitiga bersama-sama dengan Cendana plus kroni dan TNI (ABRI). Selama ini banyak pihak optimis dengan kemampuan Timor Timur memberdayakan kandungan buminya bila merdeka. Kopi Timor yang hitam pekat telah dikenal sejak jaman kekuasaan Portugal. Belum lagi sektor perikanan, kayu Cendana dan cadangan minyak mentahnya. Celah Timor menyimpan kandungan minyak dan gas bumi terbesar ke 25 di dunia. Tiap tahunnya dapat dipompa sebanyak 5 milyar barel emas hitam dari celah ini. Di luar itu masih terdapat sektor yang bisa diandalkan, semisal pertanian dan perkebunan. Namun, setelah ratusan tahun berperang menguras dan merusak sumber kekayaan tersebut, ditambah imbas krisis ekonomi yang melanda Indonesia, membuat harapan tadi kian memudar. Apalagi berbagai sumber penghidupan rakyat Timor itu sudah dikapling-kapling selama puluhan tahun. Kopi Timor, misalnya, telah dimonopoli Siti Hardiyanti Rukmana yang lebih dikenal dengan Mbak Tutut, setelah sukses mendepak Robby Sumampouw yang dibeking LB Moerdani. Sejurus kemudian Tutut berhasil menyabet pemasaran batu pualam. Titiek Prabowo dengan Yayasan HATI menyeruak di bisnis tenunan Timor. Berkongsi dengan Marimutu Sinivasan (Texmaco) dan kelompok usaha Titiek sendiri, Maharani, sebuah pabrik tenun senilai US$575 juta didirikan dengan bendera PT Dilitex. Modalnya diperoleh Titiek dari jamuan malam dana mengenang tentara-tentara integrasi 1974-1976. Direken kasar, total jenderal aset Cendana plus kroni beserta TNI di tanah Lorosae mencapai ratusan milyar dolar. Milik Tommy Soeharto saja sekitar US$800 juta. Belum Prabowo lewat Koperasi Baret Merah (Kobame) dan yayasan-yayasan milik TNI lainnya. Juga Bob Hasan yang menguasai hutan tanaman industri (HTI) seluas 30 ribu hektar. Tak cuma dari dalam negeri, pada Desember 1989, Indonesia dan Australia mengikat perjanjian mengenai Celah Timor (Timor gap). Perjanjian yang dikukuhkan dua tahun kemudian menjadi "pembagian kekuasaan". Australia diberi hak untuk melakukan eksplorasi sumber alam. Di tahun 1991 itu juga, perusahaan minyak Amerika melakukan pengeboran lepas pantai pertama. Selanjutnya Celah Timor pun dibagi-bagikan ke sepuluh perusahaan minyak dari lima negara. Baik sendiri-sendiri atau berkongsi, perusahaan-perusahaan dari Amerika, Australia, Belanda, Inggris dan Jepang meraup dolar hitam di sana. Paling tidak kini terdapat 45 sumur minyak di kawasan yang termasuk wilayah seismik Asia Pasifik dengan panjang 52 km ini. Kalau sejak kopi, tebu, kayu cendana sampai minyak sudah dihabisi, lantas sisanya apa? Padahal menurut pengamat ekonomi, Kusnanto Anggoro, dibutuhkan paling sedikit US$100 juta tiap tahun untuk membangun negeri ini. Sementara pendapatan asli daerah pada tahun 1990 saja hanya mencapai Rp3 milyar. Pendapatan per kapita untuk tahun itu tidak lebih dari Rp180.727. Waktu nilai tukar mata uang RI jeblok, otomatis pendapatan mereka anjlok. Lalu bagaimana rakyat Timor Timur bisa bertahan? Menurut Kusnanto, setelah pemerintahan sendiri terbentuk, selama dua tahun pertama mereka masih harus bergantung penuh pada bantuan luar negeri. "Kalau tidak, Timor Timur sulit untuk survive," lanjutnya. "Dua tahun itu pun barangkali prediksi super cepat." Rasanya itu memang pilihan yang masuk akal. Bagaimanapun liberalisasi ekonomi cepat atau lambat pasti akan mendekati Timor Timur, jika tidak ingin hidup terisolasi. "Coba-coba membentuk holding dengan pondasi lemah tidak akan bertahan lama." Soalnya, selama puluhan tahun perekonomian Timor Timur sudah terlanjur terkena virus pembangunan Orde Baru di bawah Soeharto. Tak perlu heran kalau kemudian muncul pernyataan tentang nasib rakyat Timor Timur kelak. Kekhawatiran paling beralasan, mereka tidak akan menjadi tuan rumah yang mengelola dan menikmati hasil buminya secara penuh. Tapi, barangkali, janganlah dulu memusingkan rakyat Timor Timur dengan kekhawatiran masa datang. Cukuplah bagi rakyat Timor Timur untuk berkonsentrasi terlebih dahulu pada upaya pemulihan keamanan dan ketertiban pasca-referendum. Soalnya, hal itu memang bukan perkara gampang. Apalagi TNI masih belum rela melepaskan Timor Timur. Bagi TNI soalnya bukan bisnis semata. Faktor psikologis militer turut menjadi sebab. Bagaimanapun sejak invasi, wilayah dan Rakyat Timor dijadikan ajang 'latihan' serdadu TNI. Termasuk sarana seleksi perwira-perwira bakal panglima. Setelah itu, baru memelihara optimisme. Mengutip Asiaweek, ada beberapa pilihan strategi menggenjot devisa bagi negara baru. Christmas Island, Fiji, Singapura, atau Hongkong menjadi contoh-contoh wilayah kecil yang bisa dijadikan input bagi model pembangunannya. Singapura yang membuka lebar wilayahnya bagi bangsa manapun termasuk model yang tidak beresiko. Meskipun posisi silang strategis yang dimiliki Singapura tak sama dengan Timor Leste, tapi itulah tantangannya. Dan tak ada negara yang bisa maju tanpa melewati tantangan. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
