Precedence: bulk


KRONOLOGI PENYERANGAN KANTOR YAYASAN HAK

Kronologi Penyerangan Kantor Yayasan HAK
Tanggal 05 September 1999, pukul 21.08-21.55
Jln. Gov. Serpa Rosa T-095, Farol, Dili Barat, Timor Lorosae
Telp. (+62-390) 313323, Fax. (+62-390) 313324


TANGGAL 3 SEPTEMBER 1999
Kantor SGI (Satuan Gabungan Intelijen) di sebelah Gedung Yayasan HAK, Jalan
Gov. Serpa Rosa T-095 Dili, Timor Lorosae, sejak pagi mulai memindahkan
seluruh barang dan peralatan. Namun, pada sore harinya sejumlah orang masuk
kembali dengan membawa sejumlah barang.

TANGGAL 4 SEPTEMBER 1999
Rumah perwira AU di depan kantor Yayasan HAK mulai ditinggalkan penghuninya.

TANGGAL 5 SEPTEMBER 1999
Sekitar pukul 21.00 tampak seorang lelaki memarkir motor di dekat kantor. Ia
tampak membawa senjata api.

Hampir pada saat yang bersamaan di depan kantor lama Yayasan ETADeP, Jalan
Gov. Serpa Rosa T-028, sekitar 100 meter di sebelah kantor Yayasan HAK mulai
tampak sekitar 10 orang anggota TNI.

Dari arah timur terdengar deru sepeda motor dan mobil. Di depan kantor
melintas dua motor dan dua mobil (satu pick-up dan satunya tertutup),
kemudian dua motor itu berhenti. Dua mobil itu diparkir tak jauh dari
kantor. Terdengar suara lemparan ke arah kaca depan. Sekitar 5 orang
melompat pagar, berteriak-teriak dan kemudian menembak ke segala arah dengan
senjata api rakitan dan senjata api otomatis.

Lemparan dengan batu berukuran besar itu semakin gencar setelah sekitar 30
orang milisi datang ke kawasan kantor Yayasan HAK. Tembakan terdengar
semakin gencar. Akibat lemparan batu dan tembakan itu kaca jendela kantor di
lantai 1 dan 2 pecah berantakan. Setelah itu terlihat datang beberapa
anggota TNI dari arah rumah SGI yang terletak di samping kiri. Setelah para
milisi itu beraksi kemudian menyusul 3 unit mobil, yang masing-masing adalah
Kijang pick up berwarna putih, Kijang Super berwarna putih, dan Kijang
berwarna Hijau. Ketiga mobil tersebut berhenti tepat di depan kantor.

Tampak jelas, beberapa anggota milisi yang tidak membawa senjata api mulai
mencuri empat sepeda motor milik staf Yayasan HAK (Mega Pro, dua GL, 1
Suzuki Satria warna merah). Mereka mengangkat sepeda motor Honda Mega Pro
dan Suzuki Satria ke luar karena pintu pagar terkunci. Tapi ada dua orang
berusaha menghancurkan rantai pagar dengan palu berukuran besar. Setelah
pintu terbuka motor yang tersisa dituntun keluar. Sementara beberapa orang
mengeluarkan sepeda motor, seorang lainnya sekali-sekali melepaskan tembakan
senjata api ke udara.

Karena keempat motor terkunci, mereka merusakkan kunci agar motor bisa
dikendarai. Kemudian para penjarah berusaha mengambil motor Daihatsu. Salah
seorang dari mereka masuk mobil dan berusaha menyambung kabel agar mesin
mobil bisa bekerja. Tetapi upaya ini gagal. Sementara tembakan ke udara
dengan senapan rakitan juga disertai dengan lemparan batu ke arah gedung.

Kendaraan roda dua itu tampak mereka parkir di halaman Kantor SGI. Kemudian,
terlihat empat lelaki berbicara dengan pencuri motor itu. Tak lama kemudian
3 motor itu dikembalikan dan diparkir di depan kantor Yayasan HAK. Setelah
itu ketiga mobil Kijang itu meninggalkan kawasan Jln. Gov. Serpa Rosa
bersama sejumlah milisi Aitarak. Sisanya berjalan kaki menuju rumah yang
didiami petugas SGI. Sambil meninggalkan tempat, mereka tetap menembakkan
senjata otomatis ke atas.

Selama aksi yang berlangsung hingga pukul 21.50 saluran listrik dipadamkan.
Dan selama itu pula ada tiga anggota TNI yang mengawasi aksi penyerangan
kantor Yayasan HAK tersebut.

Sekitar pukul 23.00 baru datang pasukan Brimob dan beberapa orang berpakaian
preman di depan dan di samping Kantor Yayasan HAK. Mereka berteriak,
"Penghuninya sudah mengungsi, ya!" secara bersahut-sahutan. Setelah pasti
yang datang adalah rombongan Brimob salah seorang relawan Yayasan HAK
bertanya siapa yang datang. Setelah ada negosiasi di antara mereka, relawan
itu diminta turun. Begitu membuka pintu ia ditodong dengan senjata api
dengan alasan kalau-kalau ada serangan dari dalam.

Begitu mereka dipersilakan ke lantai 2, mereka tak menanyakan apa yang
terjadi tapi menanyakan, "Siapa ketuanya?" baru kemudian satu lelaki
berpakaian preman menanyakan, "Mana orang asing itu?"

Brimob dan lelaki berpakaian preman itu menanyakan agar dua orang asing yang
berada di kantor Yayasan HAK diamankan di Mapolda. Tapi kedua orang asing
relawan Yayasan HAK (seorang warga negara Inggris dan seorang lagi warga
negara Amerika) itu tak mau meninggalkan kantor Yayasan HAK.

Kepada petugas itu direktur Yayasan HAK meminta pengamanan kantor dan orang
di dalam kantor. Si petugas mengatakan, "Kami hanya diminta mengamankan
orang asing. Kalau Anda minta pengamanan Anda harus minta langsung kepada
Kapolda." Tiga orang pengurus Yayasan HAK segera memasuki mobil untuk
berangkat ke Polda. Tapi di pintu pagar, petugas menghalangi. Salah seorang
dari mereka mengatakan, "Semua orang harus berangkat ke Polda. Kalau tidak
mau, kami akan bawa dua orang asing itu." Direktur Yayasan HAK mengatakan
akan meminta Kapolda mengamankan seperti yang dikatakan petugas sebelumnya.
Mereka mendesak agar orang asing itu mau dibawa ke Mapolda. "Kalau tidak mau
dibawa ke Polda, Anda harus membuat pernyataan bertanggungjawab atas nasib
kedua orang asing itu," kata salah seorang dari mereka. Direktur Yayasan HAK
mengatakan, bahwa dirinya tidak bisa memaksa orang asing itu untuk ke Polda.
Kemudian ketiga orang pengurus Yayasan HAK berunding dengan para staf dan
relawan yang berada di dalam gedung. Dari luar terdengar suara atap yang
dilempari batu. Perundingan memutuskan mengikuti kemauan petugas untuk
diamankan di Polda. 

Para petugas dengan menyuruh semua orang untuk cepat-cepat pergi. Mereka
tidak memberi kesempatan untuk berbenah. Dari dalam gedung terdengar suara
lemparan-lemparan batu yang mengenai atap gedung. Petugas juga
berteriak-teriak, "Cepat! Cepat! Lainnya menimpali, "Tinggal saja! Tinggal
saja!"

Pada saat direktur, staf dan relawan keluar gedung, di jalan terlihat
sekitar sepuluh orang anggota milisi Aitarak. Salah seorang dari mereka
bahkan melakukan toss dengan seorang anggota Brimob. Tiga orang pengurus
mengendarai mobil milik Yayasan HAK dan selebihnya diangkut dengan truk
Brimob. Dalam perjalanan ke Mapolda rombongan berpapasan dengan
anggota-anggota milisi yang memberi salam kepada para anggota Brimob.

Di Mapolda, mereka ditempatkan di posko Hanoin Lorosae. Mereka melewatkan
malam itu di sana. Terlihat beberapa anggota milisi berjalan ke luar
Mapolda. Esok paginya berdatangan anggota milisi Aitarak. Di antara mereka
ada yang membawa senjata rakitan, ada yang membawa senjata tajam. Sekitar
pukul 09.00 pagi tanggal 6 September 1999 datang komandan milisi Aitarak
yang juga menjabat sebagai Wakil Panglima Pejuang Integrasi, Eurico
Guterres. Ia berpakaian loreng militer seperti anggota TNI, berbaret merah
yang dihiasi tali berwarna merah-putih, membawa senapan otomatis M-16 dan
tiga magasin peluru yang menempel pada badannya. Ia didampingi dua orang
yang juga berpakaian loreng berbaret merah membawa senapan otomatis. Salah
seorang dari mereka juga membawa granat. Ia dikenal sebagai anggota Batalyon
745 TNI yang berlokasi di Lospalos yang telah dipindahkan ke Korem.

Sekitar setengah jam kemudian, Eurico Guterres dan anak buahnya datang lagi.
Kali ini ia menghampiri Direktur Yayasan HAK dan menawarkan bantuan
pengamanan sampai Atambua. Direktur Yayasan HAK mengatakan, belum memutuskan
ke mana. Eurico Guterres mengatakan supaya tidak takut. Kemudian ia pergi
menuju mobilnya. Tetapi salah seorang anak buahnya datang memaki-maki
Direktur Yayasan HAK dan memintanya menyerahkan telepon selulernya. Eurico
Guterres melarangnya. Mereka pun pergi. 

Sekitar pukul 10.00 datang seorang milisi berpakaian loreng memakai rambut
palsu panjang. Matanya merah. Ia mendatangi orang-orang dari Yayasan HAK. Ia
marah-marah mengatakan, bahwa mahasiswa-mahasiswa yang membuat rakyat
menderita. Mereka telah disekolahkan oleh Indonesia, tetapi setelah pulang
ke Timor Timur berpolitik sehingga membuat rakyat saling bermusuhan. Melihat
sebagian dari rombongan bermuka bukan Timor Timur, ia kemudian bertanya,
"Mahasiswa?!" Dijawab, "Bukan!" Tanya lagi, "Wartawan?!" Dijawab, "Bukan!
Pekerja hak asasi" Ia pun marah-marah, "Timor Timur tidak ada HAM!" Ia
melanjutkan maki-makiannya sambil pergi. Petugas-petugas kepolisian
mendiamkan saja perbuatan anggota milisi itu.

Setelah ada kepastian bahwa rombongan pekerja kemanusiaan mendapatkan
pengangkutan keluar Timor Timur, para pekerja kemanusiaan menuju pelabuhan
udara dengan mengendarai mobil Polda. Sedang para personil Yayasan HAK
melanjutkan kerja pemantauan kondisi hak asasi manusia di Timor Timur. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke