Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 33/II/19-25 September 99
------------------------------

DANA PAS-PASAN PASUKAN PERDAMAIAN

(POLITIK): Di balik reaksinya terhadap Timor Timur pasca-referendum, PBB
ternyata tak solid. Pemilihan Australia sebagai pimpinan pasukan perdamaian,
menandakan PBB sedang berhemat.

Di bawah pimpinan Mayjen Peter Cosgrove dari Australia, Pasukan Perdamaian
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya jadi datang ke Timor Timur.
Kepastian ini menyusul "undangan resmi" Presiden BJ Habibie dan persetujuan
rapat Dewan Keamanan PBB di New York beberapa waktu lalu (15/9). Dasar
bertindaknya adalah Bab 7 Piagam PBB yang membolehkan pengiriman pasukan
bersenjata "melakukan hal-hal yang dianggap perlu" untuk memulihkan hukum
dan ketertiban. "Sungguh jarang, PBB bisa mengambil keputusan secepat ini,"
ujar Jeremy Greenstock, Duta Besar Inggris untuk PBB menanggapi persetujuan
Dewan Keamanan tersebut. Keputusan ini sekaligus meredakan tekanan
bertubi-tubi dunia internasional pada Indonesia sehubungan dengan situasi
Timtim pasca jajak-pendapat yang kacau-balau.

Cepatnya respon PBB terhadap sikap terbuka pemerintah Indonesia, seperti
memberi kesan bahwa organisasi antar bangsa ini sudah sangat siap dan
efektif. Padahal, tidaklah demikian kenyataannya. Bagi mereka yang jeli,
pasti akan bertanya-tanya: mengapa PBB memberikan tongkat kepemimpinan
pasukan perdamaian pada Australia -padahal, hubungan antara Indonesia dan
Australia saat ini sedang memanas? Jika Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan,
ingin mempertahankan citra peacekeeping forces, semestinya ia peka terhadap
hal ini. Ia bisa saja menunjuk Thailand yang relatif lebih diterima
Indonesia, atau negara netral lainnya, ketimbang menerima konsekuensi
terburuk putusnya hubungan diplomatik Australia-Indonesia. Kapuspen TNI
Mayjen Sudrajat, dengan tegas telah menyatakan menolak keterlibatan
Australia sebagai pasukan perdamaian -apalagi memimpin pasukan tersebut.
Lalu mengapa PBB sampai pada keputusan tersebut? Ada apa sebenarnya?

Sebetulnya, sudah bukan rahasia lagi, bahwa PBB punya persoalan internal
yang hingga kini mempengaruhi kinerjanya sebagai sebuah organisasi besar.
Yang terbesarnya -apalagi kalau bukan- soal keuangan (Negara-negara yang
selama ini menjadi kontributor dana utama bagi PBB, sekarang mulai enggan
menyuntikan dana. Padahal, PBB punya banyak sekali bidang pekerjaan yang
butuh dana tak sedikit). Untuk operasi pasukan perdamaian saja, rata-rata
kebutuhan dananya bisa mencapai US$1 milyar per tahun. Bahkan pada 1995,
pernah mencapai US$3 milyar.

Dalam kasus Timor Timur, Amerika Serikat yang diharapkan berperan besar,
terkesan ogah-ogahan memberikan dukungan. Pentagon telah menyatakan hanya
akan memainkan "peran pendukung". Mereka cuma menyiapkan 100 orang tentara
dan pesawat terbang tipe C-17 dan C-130 untuk mengangkut alat-alat berat,
serta berjanji menyediakan perangkat komunikasi jarak-jauh dan informasi
intelejen. AS punya beberapa alasan untuk itu. Pertama, meskipun merupakan
kontributor dana terbesar di PBB, AS masih punya utang sebesar US$1,5 milyar
di lembaga itu. Kedua, mereka lebih berkonsentrasi menjaga perbatasan
wilayah Korea Utara dan Korea Selatan, yang belakangan kembali 'memanas'.
Ketiga, intervensi militer AS ke beberapa negara yang selalu memakan biaya
besar, berkali-kali dikecam di dalam negeri sendiri. Di samping, AS memang
tak punya kepentingan langsung terhadap Timor Timur.

Sikap AS yang setengah hati ini, tentu berbahaya bagi PBB. Sebab, justru
dari AS-lah PBB bisa berharap akan mendapat tambahan dana untuk kelancaran
operasi. Data PBB dan Bank Dunia menunjukkan, dari US$1,3 milyar budget PBB
saat ini, 25%-nya merupakan kontribusi Amerika Serikat. Sementara, negara
lain kecuali Jepang (18%), kontribusinya di bawah 10%. Negara Eropa yang
memberikan sumbangan terbesar adalah Jerman (9,6%), Perancis (6,5%), Italia
(5,4%), Inggris (5,1%). Selebihnya, kurang dari 3%. Sementara umumnya negara
dunia, hanya mampu memberi sumbangan di bawah 1% (Cina sebagai anggota tetap
Dewan Keamanan pun hanya sebesar 0,9%).

Kecenderungannya, memang makin banyak negara yang mulai enggan menyuntikkan
dana bagi PBB. Bahkan, untuk mendapatkan anggaran yang sekarang berjalan,
menurut The Economist, mesti dilalui dengan cara "tawar-menawar sampai harga
terendah." Pasalnya, sekitar 15 negara kaya yang selama ini menyumbang ke
PBB, sudah mulai menganggap PBB tidak efektif menjalankan banyak tugas
sekaligus.

Kalau kini banyak negara yang sangat concern dengan masalah di Timtim, itu
tak dengan sendirinya berarti mereka akan menyediakan anggaran yang besar
bagi operasi pasukan perdamaian PBB. Di samping adanya perjanjian Indonesia
dengan Portugal, memang tak mudah bagi PBB untuk mengumpulkan negara-negara
yang sepenuhnya mendukung -termasuk dalam segi pendanaan- bagi operasinya.

Kalau ada negara yang begitu ngotot ingin mengirimkan 4.500 pasukannya (dari
7.000 yang dibutuhkan PBB) ke Timtim, tentu ini akan meringankan beban PBB.
Apalagi jarak negara tersebut sangat dekat dengan target operasi yang
berarti bisa menekan biaya semurah-murahnya. Tampaknya, jelas sudah alasan
mengapa Australia ditunjuk sebagai pimpinan pasukan perdamaian PBB di
Timtim. Hemat biaya! 

Pertanyaannya, benarkah keputusan kontroversial ini bisa meredakan keadaan
situasi, tidak saja di Timtim, tapi juga di Indonesia? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke