Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LORO SA'E


Dear Joko dan Riri,

Setelah aku meninggalkan Bumi Lorosae, pada 6 September lalu, ternyata
upaya pembumihangusan kawasan yang diklaim sebagai wilayah Indonesia yang
ke-27 itu telah dilakukan secara terang-terangan.  Sesungguhnya tindak
kekerasan oleh aparat bersenjata terhadap penduduk sipil sudah meningkat
sangat tajam setelah hasil referendum diumumkan. Jika para petinggi TNI
saat itu berada di sana, mereka tak lagi bisa berkilah seperti yang mereka
lontarkan di layar kaca. Sebab, hubungan antara milisi pro-integrasi, TNI
dan Polri semakin mesra. Hubungan di antara mereka semakin nyata dan
terang-terangan. 


Di jalan-jalan di kota Dili bisa kita lihat para milisi pro-integrasi
bersama anggota TNI dan Polri berkeliaran di jalan-jalan, melepaskan
tembakan ke segala arah, membakar rumah dan bangunan lainnya, serta
menjarah isinya. Rupanya ada pembagian kerja di antara mereka. Aku baru
tahu kemudian, ternyata ada yang dinamakan tim penghancur dan tim penjarah.
Milisi termasuk dalam katagori tim penghancur. Mereka mendapat bagian
menghancurkan bagunan apa saja,  sedangkan tentara dan polisi Indonesia
menjarah seluruh isinya, termasuk rumah penduduk yang ada di
kampung-kampung. Mulai saat itu mereka sudah tak lagi menggunakan akal
sehat. Mereka sudah gila dan beringas. Mereka yang dituduh mendukung
kemerdekaan, termasuk anak-anak berusia belasan tahun, menjadi korban
keganasan mereka. Seorang anak yang usianya sekitar 12 tahun tewas ditikam
hanya karena gagap ketika menjawab bentakan dari milisi pro-integrasi.
Tubuhnya disayat-sayat dan potongan tubuhnya dicampakkan di jalan. Anggota
TNI dan Polri hanya menonton adegan yang mengerikan itu. Mereka tak
mengambil tindakan apa pun.

Dari kabupaten lain pun terjadi hal yang serupa. Pemerintah Indonesia dan
milisi pro-integrasi memenuhi janji untuk menghancurkan dan
membumihanguskan Timor Lorosae seandainya otonomi ditolak. Ancaman itu
sudah dilontarkan jauh-jauh hari sebelumnya oleh para pejabat Indonesia dan
para tokoh pro-integrasi, dan sekarang menjadi kenyataan. Milisi
pro-integrasi, TNI dan Polri membabi buta, membunuh dan menjarah di
mana-mana. Ribuan orang dipaksa keluar dari kota-kota ke daerah pegunungan
atau melintas perbatasan, menuju wilayah Indonesia. Mereka yang lari ke
daerah pegunungan terancam mati kelaparan karena persediaan makanan, air,
dan sanitasi yang sangat terbatas, sementara para "pengungsi" ke daerah NTT
menjadi sasaran keganasan milisi pro-integrasi, TNI dan Polri. Ratusan
orang dikabarkan mati dalam perjalanan menuju NTT. 

Joko, selama ini kamu tahu dari koran dan majalah di Indonesia, bahwa
pemerintah Indonesia selalu berusaha menggambarkan kekerasan di Timor
Lorosae sebagai "perang saudara" antara rakyat yang menerima dan menolak
otonomi. Tapi, jika kamu berada di sana dan melihat langsung semua
kejadian-kejadian itu, kamu tahu secara pasti bahwa anggapan itu bohong
belaka. Dan rangkaian kejadian setelah referendum itu, membuat pemerintah
Indonesia tidak mungkin mengelak lagi bahwa yang terjadi di Timor Lorosae
saat ini bukan perang saudara, melainkan pembantaian yang sistematis oleh
milisi pro-integrasi, TNI dan Polri terhadap rakyat. Tindak kekerasan oleh
milisi pro-integrasi sejak bulan Februari tahun ini adalah upaya provokasi
untuk memancing reaksi dari masyarakat, sehingga dapat membenarkan argumen
"perang saudara" tersebut.

Sejak bulan Februari lalu, milisi pro-integrasi terlibat dalam aksi-aksi
kejahatan terhadap kemanusiaan yang jelas mendapat dukungan dari TNI di
Timor Lorosae. Kesaksian sejumlah anggota TNI asal Timor Lorosae yang
mangkir diri (desersi, red.) setelah situasi makin tak terkendali dalam
beberapa hari terakhir membenarkan bahwa pembentukan milisi didukung
sepenuhnya oleh TNI
sebagai organisasi. Menurut keterangan mereka, TNI dan Polri menyebut
gerombolan milisi pro-integrasi sebagai "orang kita", sementara rakyat yang
menolak otonomi luas sebagai "musuh". Kalian tahu, Komite untuk Jajak
Pendapat yang dibentuk oleh Yayasan Hak sudah berulangkali mengingatkan
tentang keberpihakan TNI dan Polri dalam proses jajak pendapat, sehingga
tidak dapat dipercaya untuk "menjaga keamanan" di Timor Lorosae. Peringatan
tersebut sekarang menjadi kenyataan, dan dunia internasional hanya menjadi
penonton atas pembasmian terhadap rakyat Timor Lorosae. 


Apa yang terjadi di Timor Lorosae saat ini adalah penerapan strategi bumi
hangus oleh pemerintah Indonesia setelah otonomi ditolak. Strategi ini
sebelumnya telah diungkapkan oleh sejumlah dokumen pemerintah yang
diumumkan oleh pers internasional maupun pernyataan lisan dari para pejabat
pemerintah dan sejumlah tokoh pro-integrasi selama jajak pendapat
berlangsung. Setelah pelaksanaan referendum pada 30 Agustus lalu, milisi
pro-integrasi mulai meningkatkan aksi-aksi provokasi di seluruh wilayah.
Dalam waktu lima hari dilaporkan sekitar 40 penduduk sipil mati dalam
aksi-aksi tersebut, termasuk di dalamnya sejumlah staf lokal UNAMET di
Ermera dan Same. Gelombang pembunuhan itu diiringi pembakaran rumah dan
penjarahan milik rakyat oleh gerombolan milisi, yang memaksa ribuan orang
meninggalkan tempat asalnya.

Joko dan Riri, pengumuman hasil referendum pada tanggal 4 September
membuktikan bahwa 78,5% rakyat Timor Lorosae menolak tawaran otonomi luas
dari pemerintah Indonesia. Pilihan tanpa paksaan ini  rupanya menjadi picu
bagi makin meningkatnya aksi-aksi brutal oleh milisi pro-integrasi dengan
dukungan TNI dan Polri. Petugas Polri yang memiliki wewenang untuk menjaga
keamanan, sekali lagi aku ulangi,  tidak mengambil tindakan apa pun untuk
mencegahnya. Dalam beberapa kasus di kota Dili terlihat anggota TNI dari
Batalyon 744 dan 745 berada dalam barisan milisi Aitarak dan Besi Merah
Putih. Menurut keterangan sejumlah petugas polisi, keterlibatan anggota TNI
inilah yang membuat Polri tidak dapat berbuat apa-apa.

Strategi bumi hangus mulai dijalankan dengan kekuatan penuh sejak tanggal 4
September. Aku baru paham dan mengerti kemudian, bahwa bunyi tembakan
beruntun sepanjang Sabtu malam hingga Minggu pagi itulah rupanya sebagai
pertanda telah terjadi pembakaran dan pembunuhan di mana-mana. Puluhan
rumah dan gedung lainnya dibakar pada tanggal 5 September, termasuk kantor
Keuskupan Dili, sementara tempat dan fasilitas umum dirusak. Ribuan orang
terpaksa mengungsi akibat gelombang kekerasan yang semakin meningkat.
Anggota milisi pro-integrasi kemudian menguasai bandara, pelabuhan,
terminal bis, dan memasang pos-pos penjagaan di sepanjang jalan darat yang
menghubungkan kabupaten satu dengan lainnya. Puluhan orang diculik dalam
"operasi sapu bersih" dan sampai sekarang tak ada yang tahu bagaimana
nasib mereka.

Aku nggak mampu membayangkan bagaimana paniknya penduduk di sana. Sebab,
penyerangan terhadap warga yang kemudian disebut sebagai pengungsi terus
meningkat setelah tanggal 4 September. Mereka adalah orang tua, perempuan
dan anak-anak. Keesokan harinya, ratusan pengungsi yang berlindung di
gedung SMA 2, yang terletak di samping markas UNAMET di Dili, menjadi
korban keganasan milisi pro-integrasi. Sekitar 50 orang dilaporkan tewas
dalam kejadian tersebut sementara ratusan lainnya luka-luka. Di kecamatan
Dili Timur, puluhan orang juga menjadi korban, termasuk seorang ibu dan
anak berusia sembilan tahun yang terperangkap di dalam rumah yang dibakar
oleh milisi Aitarak dan Besi Merah Putih. Dari beberapa daerah seperti
Ermera dan Suai ada laporan bahwa milisi pro-integrasi mengamuk dan
menyerang tempat-tempat perlindungan pengungsi. Jumlah korban belum dapat
dipastikan karena hambatan komunikasi.

Bukti bahwa rangkaian kekerasan ini adalah pembantaian terhadap rakyat
Timor Lorosae secara keseluruhan terlihat dari serangan terhadap Panti
Asuhan Seroja tempat tinggal bagi 70 anak yatim piatu, pada tanggal 6
September. Sebelumnya ada laporan bahwa tempat kediaman Uskup Dili Mgr.
Carlos Ximenes Belo dan sejumlah tempat ibadah lainnya dibakar oleh milisi
pro-integrasi dan anggota TNI. Ratusan orang yang berlindung di sana
menjadi sasaran tindak kekerasan saat berusaha menyelamatkan diri. Berapa
jumlah korban sampai saat ini belum ada yang tahu, karena saat itu yang ada
di tempat hanya aparat yang bersenjata. Mereka pasti mengatakan,
sebagaimana biasanya, korban yang meninggal hanya 2 atau 3 orang. Kalian
tentu tak bisa mempercayainya, 'kan? 

Aduh, kalian pasti semakin sesak nafas membaca suratku kali ini. Pada
hari-hari terakhir aku berada di Bumi Lorosae, aku memang tak lagi mampu
melihat pantai yang sangat indah dan langitnya yang membiru amat
menawan. Sebab, sejak tanggal 30 Agustus situasi di Timor Lorosae semakin
memburuk. Sejumlah staf lokal UNAMET dilaporkan dibunuh dan hilang diculik
oleh milisi pro-integrasi di Ermera dan Manufahi. Setelah hasil referendum
diumumkan situasi semakin tidak terkendali. Seorang polisi sipil asal
Amerika Serikat bernama Chandler ditembak oleh milisi pro-integrasi di
Liqui�a. Korban segera dilarikan ke medical centre UNAMET di Dili.
Kekerasan oleh milisi pro-integrasi itu belum cukup. Pada tanggal 5
September milisi Aitarak dan sejumlah anggota TNI terlihat mengacungkan
senjata ke markas UNAMET dan mengancam para staf yang masih berlindung di
sana. Pada hari yang sama kantor Carter Center, sebuah lembaga pemantau
jajak pendapat dari Amerika Serikat juga diserang oleh milisi
pro-integrasi, sehingga stafnya terpaksa mengungsi ke daerah pegunungan.
Pada hari itu juga sejumlah staf UNAMET diungsikan ke Darwin. Tapi dalam
perjalanan ke bandara Comoro, rombongan UNAMET dikejar oleh sebuah mobil
yang dikendarai oleh anggota milisi por-integrasi sambil melepaskan
tembakan. Kalian tahu, milisi itu duduk di atas mobil sambil mengacungkan
senjata yang siap tembak, seperti dalam film action. Gila bener!! 

Penyerangan terhadap staf dan markas UNAMET semula dianggap sebagai reaksi
terhadap kekalahan kelompok pro-otonomi dalam referendum. Sejak pelaksanaan
jajak pendapat, kecaman terhadap UNAMET dan penolakan terhadap hasil jajak
pendapat terus dilontarkan oleh kelompok pro-otonomi. Tapi kemudian kita
tahu masalah "kecurangan" dalam jajak pendapat ini hanya dijadikan alasan
untuk mengusir para petugas UNAMET dan lembaga lain dari Timor Lorosae,
sehingga tidak ada lembaga internasional yang menyaksikan kejahatan
terhadap kemanusiaan yang mereka lakukan. Dugaan ini bertambah kuat karena
pada waktu yang hampir bersamaan, milisi pro-integrasi ini juga menyerang
para jurnalis yang masih bertahan di sana, sampai kemudian diungsikan
secara paksa oleh anggota TNI dan Polri. Langkah menyingkirkan saksi ini
semakin kuat setelah pemerintah Indonesia mengumumkan situasi darurat
militer di Timor Lorosae.

Dalam keadaan tanpa hukum, di mana orang-orang bersenjata dibiarkan
memporak-porandakan seluruh wilayah Timor Lorosae, pemerintah Indonesia
justru mengambil langkah memberlakukan keadaan darurat militer. Penetapan
keadaan darurat militer yang diputuskan melalui keputusan Presiden BJ
Habibie ini diharapkan dapat mengatasi situasi kacau-balau yang terjadi di
seluruh wilayah Timor Lorosae. Benarkah demikian? Kalian tahu, penetapan
itu justru akan membuat situasi semakin parah, tidak lain karena TNI yang
selama ini terlibat dalam aksi-aksi kekerasan, teror dan intimidasi, justru
diberi wewenang nyaris tak terbatas. Bagi masyarakat Timor Lorosae
pemberlakuan keadaan darurat militer ini berarti "lampu hijau" bagi TNI
untuk melakukan apa saja terhadap rakyat Timor Lorosae. Dalam kenyataan,
setelah penetapan keadaan darurat militer tersebut, masih saja ada laporan
tentang penculikan dan eksekusi di luar hukum terhadap rakyat Timor Lorosae
oleh anggota TNI.

Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah keadaan darurat militer
memberi wewenang kepada TNI untuk membatasi kebebasan mencari dan
menyalurkan informasi. Sampai sekarang sudah ada ratusan jurnalis
internasional maupun lokal yang dipaksa untuk meninggalkan Timor Lorosae.
Kabarnya, di saat-saat terakhir hanya ada 26 orang jurnalis yang tetap
bertahan di Timor Lorosae untuk melaporkan kejahatan terhadap kemanusiaan
dan pengkhianatan terhadap proses referendum yang dilakukan pemerintah
Indonesia. Para jurnalis ini juga bekerja di bawah ancaman yang sangat
serius. Kemudian pada tanggal 5 September, puluhan jurnalis terpaksa
diungsikan ke markas UNAMET, karena tempat-tempat tinggal mereka didatangi
oleh milisi pro-integrasi. Sekali lagi, pihak Polri tidak memberikan
perlindungan apa pun terhadap mereka. 

Aksi-aksi provokasi itu mengakibatkan penduduk terpaksa meninggalkan
kampung halamannya. Sebagian dari mereka memilih berlindung di daerah
pegunungan. Kondisi mereka sudah jelas sangat memprihatinkan. Di musim
kering seperti sekarang ini, mereka pasti kekurangan air, tak ada makanan
dan fasilitas lainnya, apalagi persediaan obat-obatan. Kalian tahu, aku
mendapat kabar terakhir, mereka yang berada di pegunungan hanya bisa makan
pepaya, nangka, dan umbi-umbian. Sampai saat ini belum ada kabar yang
pasti, apakah mereka mendapatkan bantuan makanan atau tidak. Aku pun belum
tahu apakah ada lembaga yang memperhatikan apalagi mengikuti perkembangan
situasi para pengungsi ini. Kesulitan ini masih ditambah dengan ancaman
terus-menerus oleh milisi pro-integrasi, TNI dan Polri yang terus mengejar
dan berusaha membantai mereka. Pada tanggal 6 September 1999, dilaporkan
bahwa sejumlah pengungsi yang berlindung di daerah Dare terpaksa menyingkir
karena serangan terus-menerus oleh milisi pro-integrasi. Beberapa saksi
mata menceritakan bagaimana rombongan mereka diserang oleh milisi
pro-integrasi dan anggota TNI yang menggunakan senjata otomatis. Sesekali
terdengar letusan keras dari granat tangan yang dilemparkan oleh milisi
pro-integrasi. 

Para pengungsi yang menyelamatkan diri ke daerah NTT tidak lebih baik
nasibnya. Di Atambua, yang  menjadi salah satu basis anggota milisi
pro-integrasi dan sejumlah prajurit TNI yang ditarik dari Timor Lorosae,
terus terjadi pemeriksaan. Seorang kawan mengabarkan, bahwa beberapa pemuda
terlihat diangkut di atas truk dalam keadaan leher dan tangan terikat.
Sampai saat ini belum diketahui tujuan memisahkan dari rombongan pengungsi
yang lain, tapi banyak penduduk setempat yang menduga bahwa mereka yang
diculik itu telah dibunuh di tengah perjalanan. Pembantaian terhadap
pengungsi ini terjadi di bawah pengawasan TNI. Justru sebaliknya, anggota
Brimob Kontingen Lorosae secara aktif terlibat dalam seleksi untuk mencegah
sejumlah orang meninggalkan Timor Lorosae. 

Bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi ini juga dipersulit oleh aparat
keamanan. Pada tanggal 6 September, beberapa prajurit TNI bahkan
menghalangi staf UNAMET yang hendak mengambil perbekalan untuk staf lainnya
yang masih tertahan di markas UNAMET di Dili. Bantuan terhadap pengungsi
praktis tidak mungkin diberikan, karena di hampir semua jalan dibangun
pos-pos pemeriksaan. Kalian tahu, bagaimana bantuan kemanusiaan untuk para
pengungsi ini disita oleh milisi pro-integrasi. Serangan terhadap pekerja
kemanusiaan ini sudah berulangkali terjadi, termasuk terhadap pihak gereja.

Apa yang bisa kita simpulkan dari cerita di atas? Ya, kita melihat sendiri
pemerintah Indonesia yang bekerjasama dengan milisi pro-integrasi saat ini
tengah melancarkan pembantaian terhadap rakyat Timor Lorosae. Pembantaian
ini, sekali lagi bukanlah "perang saudara". Pembantaian itu juga bukan
merupakan reaksi spontan terhadap hasil jajak pendapat, melainkan upaya
sistematis yang sudah disiapkan sebelumnya dan dilakukan dengan
sepengetahuan pemerintah Indonesia. Keterlibatan anggota TNI dan Polri di
dalam aksi pembantaian ini juga tidak terbantah, sekalipun para pejabat
terus berupaya membantah kebenaran tersebut. 

Dalam surat mendatang aku ingin menunjukkan pada kalian sejumlah dokumen
buatan Pemerintah Indonesia maupun tokoh pro-integrasi yang membuktikan
bahwa upaya pembumihangusan Bumi Lorosae itu telah dirancang dengan rapih.
Dokumen itu telah beredar luas meski kemudian para pejabat itu
membantahnya. "Dengan mudah siapa saja bisa memalsu stempel dan tanda
tangan," begitu mereka berkilah. Aku masih ingat omongan Ali Alatas, dan
banyak pejabat tinggi di layar kaca, Pemerintah Indonesia tak akan
meninggalkan begitu saja Timor Lorosae, seperti yang dilakukan oleh
Pemerintah Portugal. Bisakah kita mempercayai omongan itu? Pemerintah
Portugal ketika itu memang meninggalkan begitu saja kawasan jajahannya.
Tapi mereka tak membakar semua fasilitas dan gedung di wilayah yang ketika
itu bernama Timor Portugis. 

Apa yang kemudian dilakukan oleh Pemerintah Indonesia? Membakar gedung apa
saja, membunuhi rakyat Timor Lorosae dan melakukan apa saja. Aku ingat
seorang teman, selama penjajahan Indonesia selama hampir 24 tahun, baru
kali ini semua gereja dan tempat aman milik gereja diserang dan diserbu dan
sejumlah pastor, pendeta dan suster dibunuh. Bakan Uskup Belo pun nyaris
dibunuh.  Dan, kemudian aku baru tahu ketika Pemerintah Indonesia mulai
menginvasi Timor Lorosae, tentara pun menjarah dan merampok kekayaan
penduduk. Jadi, sekali lagi aku katakan, , tentara Indonesia selain jadi
pembunuh berdarah dingin, mereka itu juga dikenal sebagai perampok dan
penjarah.  Ketika sebagian tentara Indonesia ditarik dari Bumi Lorosae, aku
yakin mereka girang karena mereka pasti juga telah mengantongi hasil
jarahannya itu sebagai oleh-oleh untuk istri, anak, pacar dan calon mertua.
Dan sebelum mereka pulang ke Indonesia, mereka menjual sisa-sisa beras,
makanan dan yang lainnya kepada penduduk Timor Lorosae dengan harga yang
selangit. Coba kalian pikir, masih layakkah mereka, tentara itu dianggap
sebagai manusia?

Kalian jangan kaget jika tiba-tiba aku jadi rajin bersurat pada kalian. Aku
seperti ingin menumpahkan banyak hal yang aku saksikan dan alami selama aku
berada di Bumi Lorosae pada kalian. Aku berharap kalian tahu apa
sesungguhnya yang terjadi di sebuah negeri yang baru saja menyatakan
kemerdekaannya. Salamku untuk teman-teman. Suatu hari nanti, kita pasti
bertemu dan ngobrol seperti biasa. Kalian jangan berlebihan mengkhawatirkan
aku, aku baik-baik saja. Cuma aku belum sanggup ketemu kalian.  Aku tahu
pasti, aku masih akan marah jika aku bertemu kalian dan menceritakan
kembali semua kejadian itu. Joko dan Riri, ini surat kedua yang aku tulis
dari wilayah Indonesia, pada 28 September 1999. 

Salam kangenku,

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke