Precedence: bulk
FAKSI SIAPA YANG MENEMBAK YUN HAP?
JAKARTA, (TNI Watch! 28/9/99). Setelah Yun Hap (mahasiswa Fakultas
Teknik UI) tewas tertembak di depan Kampus Universitas Katolik Atma Jaya,
pada Jumat malam lalu (24/9), petinggi dari TNI dan Polri, berpikir keras,
bagaimana mencari dalih, bahwa pelakunya bukan aparat keamanan. Begitu
bernafsunya para petinggi tersebut untuk mengelak dari tanggung jawab,
sampai-sampai mereka (Kapolri dan Kapolda Metro Jaya) mengeluarkan
pernyataan yang sama sekali tidak masuk akal, bahwa penembaknya dari mobil
sejenis kijang, bukan dari tentara yang sedang berkonvoi malam itu.
Argumen yang pada dasarnya sudah tidak masuk akal itu semakin
runtuh, setelah Tim Pencari Fakta Independen (TPFI), yang dimotori oleh Dr
Hermawan Sulistyo (Mas Kiki), mengemukakan temuan-temuan lapangan yang
sangat akurat, dan masuk pada logika publik. Pada pokoknya hasil temuan TPFI
tersebut adalah, yang menembak Yun Hap adalah tentara yang malam itu sedang
konvoi melintas di depan kampus Atma Jaya.
Hasil temuan TPFI tersebut, kontras dengan argumen-argumen pejabat
TNI dan Polri, yang amburadul, tidak logis, dan sulit dipercaya publik.
Termasuk argumen dari Kapuspen Hankam/TNI Mayjen TNI Sudradjat, bahwa yang
menembak adalah prajurit yang sedang stres. Kalau sedang dalam kondisi
stres, mengapa tidak diistirahatkan lebih dahulu di barak.
Adalah sesuatu yang membahayakan, jika seorang prajurit stres tetap
bertugas, dengan dipersenjatai pula. Bukan mustahil dia akan menembak sesuka
hati, sebagaimana yang sudah terjadi di Semanggi baru-baru ini. Seorang
prajurit stres sepatutnya memang tidak bertugas, karena akan membahayakan
orang lain. Jangankan orang lain, seperti Yun Hap atau Jumadi (bocah
pengamen), tidak mustahil komandan mereka sendiri pun akan ditembak pula.
Mungkin Anda masih ingat ketika Komandan Detasemen 81, Letkol Inf
Adel Gustimigo tewas ditembak oleh anak buahnya sendiri, Letda Sanurip dari
Grup 1 Kopassus, di Timika, pada April 1996 yang lalu. Ketika itu pernyataan
resmi yang keluar adalah, Letda Sanurip sedang stres karena terserang
malaria. Yang sesungguhnya terjadi adalah, Letda Sanurip memang stres, tapi
bukan karena wabah malaria. Letda Sanurip stres, karena sakit hati yang
terpendam pada Letkol Adel Gustimigo. Menurut seorang sumber di Kopassus,
Letda Sanurip merasa diremehkan oleh Letkol Adel, dan ini berarti adalah
sebuah penghinaan.
Masih lebih bagus adalah apa yang pernah dilakukan Kol Inf Johanes
Supit (AMN 1971), yang bunuh diri, juga karena stres. Mengapa lebih bagus?
Lebih bagus karena ia "hanya" menembak dirinya sendiri, tidak menembak orang
lain. Setidaknya, tindakan bunuh diri Kol Supit hanya merugikan diri sendiri
(dan keluarganya), tidak membahayakan orang lain. Kol Supit yang saat bunuh
diri (1996), sedang menjabat Wakil Komandan Satgas Intel BIA, dikabarkan
tidak dapat mengatasi tekanan, karena jabatan di dunia intelijen memang
rentan stres.
Pada kesempatan lain, Mayjen TNI Sudrajat memohon permakluman
publik, bahwa memimpin prajurit itu tidak mudah. Pernyataan ini juga tidak
masuk akal, kalau memimpin anak buah sendiri saja tidak mampu, bagaimana
bisa memimpin orang lain? Orang lain itu maksudnya adalah masyarakat luas.
Komponen dalam masyarakat itu bermacam-macam, ada kelompok yang sangat
kritis, seperti mahasiswa dan cendekiawan.
Kalau mengendalikan prajurit yang diasumsikan sangat patuh saja
tidak mampu, bagaimana mungkin pimpinan TNI bisa mengendalikan komponen
kritis dalam masyarakat, yang sudah terbiasa berdebat dan berdialog mengenai
berbagai hal? Sederhananya begini, memimpin orang "bodo" (prajurit-prajurit
itu yang rata-rata berpendidikan rendah) saja sulit. Bukankah jauh lebih
sulit memimpin orang-orang pintar, semacam mahasiswa, atau figur seperti
Amien Rais, Gus Dur, Akbar Tanjung, Yusril Ihza Mahendra, Arbi Sanit, Faisal
Basri, Kwik Kian Gie, dan lain-lain yang umumnya "rewel" dan sulit diajak
kompromi.
Lalu apakah ada keterkaitan antara tindakan brutal aparat terhadap
mahasiswa, dengan konstelasi politik di atas? Ini kita bisa runut dari
pernyataan Gus Dur, sesaat setelah "Peristiwa Semanggi" tempo hari, bahwa
yang bersikap keras terhadap mahasiswa adalah bukan TNI sebagai institusi,
namun hanya bagian tertentu saja dari TNI. Ungkapan Gus Dur ini meski
terkesan klise, namun kalau yang bicara Gus Dur, terasa ada nuansa lain.
Yang dimaksud Gus Dur adalah, bahwa memang ada faksi-faksi di tubuh
ABRI, di luar faksi Wiranto. Ada yang berpendapat, ucapan Gus Dur itu
merupakan trik Gus Dur untuk bermain mata dengan Wiranto, karena Gus Dur
sudah berangan-angan menjadi Presiden, meski dukungan dari "Poros Tengah"
masih gamang.
Terlepas dari penafsiran soal kepentingan Gus Dur, secara implisit
Gus Dur ingin mengatakan, ada faksi lain yang ingin mensabotase faksi
Wiranto. Faksi mana itu? Siapa lagi kalau bukan "faksi Prabowo". Meski sudah
setahun lebih, Prabowo bermukim di Yordania, tapi melalui orang-orangnya,
kuku "faksi Prabowo" masih cukup mencengkeram di lingkungan TNI. Salah satu
indikasinya adalah, peristiwa penembakan di Semanggi itu. Jadi pasukan yang
menembak Yun Hap, adalah pasukan di bawah kontrol "faksi Prabowo".
Meski begitu, taruhlah bila benar yang menembak Yun Hap adalah
tentara dari "faksi Prabowo", bukan berarti Wiranto bisa lepas tanggung
jawab. Soal faksi-faksi dalam TNI, itu adalah urusan intern TNI sendiri.
Bagi publik yang menembak adalah militer, tidak peduli dari faksi mana.
Karena di mata publik, entah itu "Faksi Wiranto", "Faksi Prabowo", atau
faksi-faksi yang lain (kalau ada), semuanya adalah sama, semuanya adalah
militer, dengan tradisinya yang khas, yakni kekerasan. ***
_____________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html