Precedence: bulk HENDARDI : SYSTEM POLITIK ORDE BARU SUMBER DISINTEGRASI BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Selasa, 28/9). Sejarah maupun kebudayaan Aceh dan Timor Timur memang berbeda, tetapi diantara keduanya memiliki pengalaman-pengalaman yang sama, yaitu pengalaman kekejaman yang dialami, sehingga apa yang dialami di Timtim juga dialami di Aceh, pengalaman kekejaman yang sama dari masyarakat-masyarakat di wilayah Indonesia ini, juga dapat mengundang suatu usaha dan gagasan untuk memisahkan diri dari Indonesia sendiri yang diakibatkan oleh suatu pengalaman kekerasan yang sama dilakukan di Timtim, karena itu hal ini harus menjadi pelajaran berharga dari persoalan di Timtim kepada wilayah-wilayah Indonesia lainnya, bahwa pengalaman kekejaman dapat membuat orang memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia, hanya sekedar untuk menghindari kekejaman itu sendiri, demikianlah komentar Hendardi, Ketua Umum PBHI Jakarta, saat menjawab pertanyaan reporter Radio Nikoya-FM, semalam di Banda Aceh. Kehadiran Hendardi di Banda Aceh, untuk menjadi salah satu nara sumber dalam Seminar Sehari Dampak Kebijakan Operasi Militer Di Daerah Istimewa Aceh, Ditinjau Dari Segi Ekonomi, Sosial, Politik, Hukum dan Psikologi, yang di selenggarakan oleh Koalisi NGO HAM Aceh, di Cakradonya Hotel Banda Aceh, Senin (27/9) bersama nara sumber lainnya, Ifdhal Kasim, pengamat ekonomi dari Jakarta, Harnold Harun wakil direktur Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh dan DR. Raja Masbar pengamat ekonomi politik Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang disiarkan secara langsung oleh Radio Nikoya 106.15 FM selama 4 jam. Hendardi mengatakan, "jika disintegrasi itu dipersalahkan kepada rakyat Timtim, itu tidak adil dan tidak logis, disintegrasi itu kalau kita lihat akar atau bersumber pada 'system politik orde baru' yang didominasi oleh militer, kita bisa pertanya mengapa rakyat Timtim memilih membebaskan diri begitu besar jumlahnya, hal itu menyangkut pengalaman kekejaman yang dialami, demikian juga ada tuntutan-tuntutan di Aceh yang meminta Referendum, itu juga menyangkut lebih pada soal pengalaman yang mereka alami, karena itu pengalaman kekejaman semacam itu, kita harus meneliti sumber dari persoalan disintegrasi itu". Menurut Hendardi, system politik orde baru-lah sumber dari pada disintegrasi itu yang mengakibatkan wilayah-wilayah yang mengalami kekejaman yang sama mencontoh Timtim. Menyinggung tentang keberadaan militer dalam kehidupan masyarakat sipil yang disampaikan dalam makalahnya, Hendardi mengatakan, Demokrasi itu adalah kehidupan masyarakat sipil, dimanapun kita mengenal negara yang hidup secara demokratis, militernya tidak berpolitik, namun di Indonesia mereka memperoleh tempat yang sangat istimewa dan didalam kerangka itu mempertahankan tempat yang mewah dalam politik Indonesia, sering kali mereka memberlakukan segala hal, menghalalkan segala cara untuk tetap mempertahankan tempat yang mewah dalam kehidupan politik sipil, dikatakan mewah, karena militer tidak saja berkuasa secara militer, juga menguasai politik dan juga menguasai ekonomi. Dalam hal tuntutan rakyat Aceh terhadap dilaksanakannya Referendum, Ketua PBHI Jakarta ini, berkomentar, ia menangkap suatu impresi yang kuat, bahwa rakyat Aceh sendiri, sebenarnya menolak kehadiran militer seketika dan selamanya yang telah menimbulkan kesengsaraan kehidupan rakyat Aceh, karena itu tahap pertama yang harus dilakukan menurutnya adalah,bukan memperbanyak Kodam-Kodam, justru harus menarik mundur militer dari tanah rencong itu, hal itu yang harus dilakukan untuk menghidari rakyat Aceh dari kekejaman-kekejaman dan memperbaiki impresi mereka tentang Indonesia sendiri, bagaimanapun tentara harus di tarik, justru polisi yang harus di pakai untuk mengawal kehidupan sipil di Aceh. (Yani). Yani, Reporter Radio Nikoya FM, Melaporkan dari Banda Aceh News Division RADIO NIKOYA 106.15 FM Banda Aceh Hit Radio Station URL: http://come.to/nikoyafm ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
