Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99 ------------------------------ HABIBIE, SUDAHLAH... (POLITIK): Kubu Habibie kropos. Lawan politiknya di Golkar kuasai ketua Fraksi MPR dan akan membelot menudukung Megawati. Sementara partai-partai Islam juga telah meningalkannya. Ibarat pacuan kuda, Habibie sekarang seperti seorang joki yang menaiki kuda binal. Meloncat-loncat sulit dikendalikan. Partai Golkar, yang semula diharapkan menjadi kuda tunggangannya, telah berkali-kali mengisyaratkan akan melemparkannya dari kursi calon presiden. Beberapa kali sejumlah aktivis partai ini membuat manuver politik yang menjerambabkan Habibie ke jurang. Kasus Bank Bali, misalnya. Secara formal kepartaian, calon presiden Golkar memang masih tetap BJ Habibie namun dalam berbabagi kesempatan, Ketum Golkar Akbar Tanjung berkali-kali melontarkan kemungkinan penggantian calon presiden Golkar. Bahkan dalam pertemuan dengan sejumlah pimpinan partai lain, Akbar juga mengeluhkan akan calon presidennya. Sehingga suatu saat tercetus keluhan itu dihadapan Amien Rais dan Gus Dur. "Begini, Pak Habibie, semalam (Selasa malam) ada pertemuan antara saya, Amien Rais, dan Akbar Tanjung. Saya diminta (Akbar dan Amien) menyampaikan keberatan pencalonan Pak Habibie menjadi presiden oleh Golkar," ujar Gus Dur dihadapan Habibie, ketika Gus Dur dan pimpinan partai pemenang Pemilu menghadiri undangan makan di rumahnya, Patra Kuningan beberapa waktu silam. Informasi dari Gus Dur Cs tersebut bak geledek menyambar telingnya. Dan saking tidak percayanya, Habibie mendekat dan meminta Gus Dur mengulangi pernyataan itu karena mereka duduk berjauhan. Setelah diulang, Habibie ganti bertanya apakah itu pendapat pribadi atau partai. Semua peserta yang hadir memastikan itu sikap Partai Golkar sebenarnya. Kekagetan Habibie ini wajar, sebab pekan sebelumnya Habibie sudah memanggil para pimpinan DPP Golkar ke Patra Kuningan. Mereka dimarahi habis-habisan karena plintat-plintut dalam masalah capres, disaksikan Panglima TNI yang juga Menhankam Jenderal Wiranto, serta Menteri Sekretaris Negara Muladi, menyaksikan pertemuan itu. Habibie minta penjelasan Akbar adanya isu sekitar 40 anggota Akbar yang bakal duduk di MPR yang bakal membelot ke PDI Perjuangan. "Kalau you nggak bisa menertibkan orang-orang itu, saya sudah menyiapkan penggantinya," kata Rudy mengancam. Pasukan cadangan, kabarnya, disiapkan dari Iramasuka Nusantara (Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara), kawasan yang selama ini diakui Habibie sebagai basis dukungannya. Kegundahan kubu Habibie adalah wajar. Sebab jika bukan Golkar yang punya 120 kursi sebagai penyokongnya, maka ibarat wayang kulit hilang gapet-nya. Tambah-tambah di partai-partai Islam yang dulu menjadi pendukung pun belakangan melalui poros tengah telah membuat manuver sendiri, mereka mencalonkan Gus Dur sebagai presiden. Oleh sebab itu, kubu Habibie belakangan kerja keras, kasak-kusuk mencari dukungan baru dari Fraksi TNI/Polri, yang tanpa ikut Pemilu punya 38 wakil di MPR. Sebagai alat negosiasi, Habibie menawarkan Jenderal Wiranto sebagai wapres-nya dan juga meloloskan RUU PKB. Sementara peluang untuk menguasai suara utusan daerah juga menipis. Sebab dari 100 kursi utusan daerah, paling banter yang bisa diraup hanya separuhnya. Sehingga pada hari-hari terakhir di Senayan, kubu Mega semakin yakin bahwa jagonya pasti menang. Mereka menghitung, kekuatan anggota DPR PDIP sebanyak 153 suara, ditambah dengan utusan daerah 60 orang maka kekuatan mereka di MPR berjumlah 213 orang. Belum lagi ditambah sokongan suara dari partai Golkar yang kemungkinannya menjadi semakin besar setelah kubu Marzuki Darusman memenangkan kursi ketua Fraksi Golkar. Paling sedikit 40 suara sudah dikantongi. Selain itu, ada 51 suara dari PKB yang tetap setia walaupun diiming-imingi pencalonan Gus Dur oleh Poros Tengah. Sebanyak 60 anggota MPR/DPR (9 dari utusan daerah dab 52 produk pemilu '99) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), akhgir bulan September telah di-bai'at untuk memberikan suaranya pada Megawati Sukarnoputri dalam SU MPR. "Pem-bai'at-an itu ditempuh selain untuk menunjukkan konsistensi PKB dalam upaya membangun demokrasi, juga untuk mencegah politik uang menimpa para anggota PKB," kata Effendi, salah seorang anggota MPR dari PKB. Dalam Pemilu '99, PKB merupakan partai keempat yang memperoleh suara terbanyak setelah PDI Perjuangan, Partai Golkar dan PPP. Dalam DPR/MPR periode 1999-2004, PKB memperoleh 51 kursi DPR dan sembilan kursi lagi di MPR melalui Utusan Daerah dan Utusan Golongan. Kebulatan fraksi PKB tampaknya juga didukung oleh para kiai Nahdlatul Ulama (NU), sebaliknya mengkhawatirkan Gus Dur karena sudah terperangkap permainan politik Amien Rais Cs. Kalkulasi kasar, memang Mega lah yang akan tampil sebagai presiden. Tapi sesuatu yang pasti, dalam dunia politik kadang hasilnya berbeda. Apalagi jika isu pembelian suara yang akan dilakukan kubu Habibie jadi kenyataan, maka pupuslah sudah, harapan punya pemimpin bangsa yang punya integritas dan aspiratif terhadap hati nurani rakyatnya. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
