Precedence: bulk
CITRA TNI TERPURUK, WIRANTO TETAP BANGGA
JAKARTA, (TNI Watch!, 5/10/99). Salah satu butir "Perintah Harian
TNI", --dikeluarkan sehubungan dengan Hari TNI ke 54-- berbunyi: agar
anggota TNI menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Ini adalah untuk
kesekian kali, Wiranto memberi perintah agar prajurit di lapangan
menghormati HAM. Namun tetap saja anak buahnya di lapangan "membangkang",
dengan berbagai tindakan melanggar HAM seperti tetap menembaki rakyat dan
mahasiswa. Atau memang TNI sendiri (termasuk panglimanya) pada dasarnya
memang tidak paham apa itu HAM? Jadi ketika Wiranto berpidato soal HAM, itu
hanyalah untuk pemanis saja.
Wiranto malah balik menyerang mahasiswa, bahwa aksi atau demo mereka
sangat brutal. Secara implisit Wiranto ingin menegaskan, karena brutal,
mahasiswa jadi layak untuk ditembak. Jalan pikiran ini menunjukkan Wiranto
tetap keras kepala, meski citra TNI sedang hancur-lebur.
Sebagai Panglima, Wiranto ingin membesarkan hati anak buahnya. Di
kala tak ada pihak lain yang memuji TNI, siapa lagi yang akan memuji, kalau
bukan pimpinannya sendiri. Bagi para prajurit yang sedang berpanas-panas
lapangan, sedikit perhatian dari pimpinan, sudah cukup sebagai penawar dahaga.
Jika pidato kali ini, memberi tekanan khusus pada masalah HAM, bisa
jadi memang pemahaman Wiranto tentang HAM mulai berkembang. Dalam rangka
menghadapi pemeriksaan Komisi Tinggi HAM - PBB, banyak perwira mulai
mempelajari masalah HAM secara instan.
Namun itikad baik mereka untuk mendalami masalah HAM, sudah
terlambat. Karena jumlah pelanggaran yang terlampau tinggi, tidak cukup
diimbangi hanya dengan itikad mendalami masalah HAM. Mau tidak mau, para
perwira yang masuk daftar terperiksa harus berhadapan dengan komisi tinggi HAM.
Kalau Wiranto tetap konsisten membangun kebanggaan korps di kalangan
anak buahnya, itu adalah upaya terakhir dari TNI, untuk sedikit menyisakan
eksistensinya. Karena secara umum Indonesia telah runtuh di semua sektor,
tak ada lagi kebanggaan sebagai bangsa. Yang ada adalah hinaan dan nista
dari seluruh penjuru dunia.
TNI turut andil --bahkan mungkin yang terbesar-- menjadikan
Indonesia sebagai negeri yang hina. Untuk membangun kembali citranya yang
runtuh hingga titik terendah, TNI mungkin butuh waktu setengah abad lagi.
Ini kalau kita ukur dengan usia TNI sekarang (54 tahun). Selama setengah
abad lebih, tak ada sumbangan berarti dari TNI untuk peradaban, pembangunan
moral kemanusiaan. Yang ada hanyalah rongrongan TNI terhadap sumber daya
ekonomi, dan penindasan terhadap rakyatnya sendiri.
Tampaknya apresiasi rakyat Indonesia terhadap TNI juga runtuh. Sosok
TNI dipandang tak lebih hanya sebagai tukang pukul. Baju yang rapi, disertai
tanda jasa dan atribut berkilau, tetap tak mampu menarik simpati rakyat.
Kini yang tetap bangga terhadap anggota TNI, sebatas ayah, ibu, istri, anak
dan kerabat dekat si anggota. Jangan-jangan kerabat dekat pun mulai risi,
jika di antara mereka ada yang menjadi anggota TNI. Karena tak sanggup
menahan malu, karena ulah kerabat mereka yang kebetulan anggota TNI.
Ulang tahun TNI kali ini memang terasa "istimewa". Selain memperoleh
pandangan sinis dari dunia internasional, dan bangsa sendiri, TNI juga
memperoleh "kado" berupa kedatangan pasukan Interfet. TNI memperoleh "teman
bermain" yang kurang berkenan, yaitu pasukan Australia dan Gurkha.
Kedatangan pasukan multinasional sungguh aib bagi TNI. Karena TNI yang
biasanya sangat leluasa di seluruh tanah air, kini dibuat tak berkutik, di
wilayah yang sangat dibangga-banggakan sebagai hasil perjuangan TNI: Timor
Timur.
Pasukan multinasional mungkin "lawan tanding" yang sepadan bagi TNI.
Kita teringat suara massa ketika aksi-aksi mahasiswa di Semanggi beberapa
waktu lalu: "Lawan tuh tentara Australi, beraninya sama bangsa sendiri." ***
_______________
TNI Wacht! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html