Precedence: bulk


PERNYATAAN TERBUKA ISAI

Kondisi dan perkembangan terakhir di Timor Timur menimbulkan keprihatinan
yang mendalam. Keadaan ini bukan hanya berakibat dengan kian memburuknya
hubungan antara pemerintah Indonesia dengan Australia, tapi juga membuat
nyaringnya nada kebencian kedua belah pihak.

Kami lebih prihatin lagi melihat tertutupnya kesempatan bagi para wartawan
yang berniat mencari fakta yang sebenarnya di Timor Timur. Apalagi pihak
pasukan internasional, Interfet (International Force for East Timor), hanya
mengakomodasi para wartawan yang melakukan registrasi di Darwin, Australia.
Tidak adanya perlindungan dan bahkan sejumlah sikap bermusuhan yang
ditunjukkan pasukan Interfet pada para jurnalis di Timor Timur, termasuk
sejumlah wartawan asal kantor berita terkenal di dunia, justru menimbulkan
bermunculannya sejumlah berita yang sulit dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Dan, justru memperuncing hubungan antara Indonesia-Australia
yang terus memburuk selama hampir 2 bulan ini.

Karena itu, kami mengimbau pada pihak Interfet untuk segera menghentikan
sikap tidak kooperatif yang mereka tunjukkan pada para wartawan, termasuk
wartawan asal Indonesia. Pihak Interfet justru harus membantu semua wartawan
untuk mencari dan mengumpulkan fakta yang sebenarnya, hingga tak ada lagi
nada berspekulasi dalam setiap pemberitaan yang menyangkut Timor Timur. 

Selain itu, kami juga meminta agar pihak intelijen di Indonesia menghentikan
aksi penyusupan ke kalangan wartawan. Sebab hal ini selain akan merugikan
citra wartawan Indonesia pada umumnya juga akan berekses pada munculnya
laporan berbau propaganda yang akan mencoreng Indonesia di pergaulan
internasional. Biarkan para wartawan mencari kebenaran yang ada di lapangan.
Tidak pada tempatnya mengisi media dengan berbagai kabar bohong hanya untuk
mengobarkan semangat anti-Australia semata. 

Sikap bermusuhan juga ditunjukkan oleh sejumlah kelompok masyarakat yang
bukan hanya mengancam, tapi juga memburu para wartawan yang sedang bekerja
mencari berita harus segera dihentikan. Hingga kini, dua orang wartawan
telah gugur di Timor Timur. Yaitu wartawan Financial Times asal Belanda,
Sander Thoenes (30) di Dili pada 1 September 1999, dan koresponden Asia
Press asal Indonesia, Agus Mulyawan (26) di Los Palos pada 17 September
1999.  Keduanya adalah saksi bisu bagaimana wartawan yang hanya memegang
pena, blocknote dan kamera dibantai oleh kelompok bersenjata. Seharusnya
semua pihak tahu, bahwa dalam menjalankan pekerjaannya seorang wartawan
mirip dengan petugas palang merah yang bersikap netral.

Kami mengecam keras pembunuhan tersebut, Kami meminta agar pihak yang
bertanggungjawab segera mengusut, menangkap dan mengadili dan menghukum
seberat-beratnya orang-orang dan gerombolan yang dianggap bertanggungjawab
atas pembantaian tersebut. 

Jakarta, 4 Oktober 1999

ttd.
 
Goenawan Mohamad
Institut Studi Arus Informasi (ISAI)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke