Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 35/II/10-16 Oktober 99 ------------------------------ RI1-NYA DUA: MEGA & GUS DUR (POLITIK): PDI Perjuangan mulai putus asa karena semakin menipisnya dukungan kepada Mega menjadi presiden. Partai pendukungnya, PKB belakangan mengalihkan dukungannya. PDI-P terancam tidak dapat apapun. Sebuah kejutan besar terjadi dalam dunia politik Indonesia. Partai Amanat Nasional (PAN), sebuah partai politik yang dalam Pemilu perolehan suaranya kecil, mampu mendudukan sang ketuanya menjadi Ketua MPR, Lembaga Tertinggi negara. Sementara Partai Demokrasi Indonesia (PDIP-P), partai pemenang Pemilu justru terseok-seok. Kemenangan Amien Rais atas jago Partai Kebangkitan bangsa dan sokongan penuh PDIP, Matori Abdul Jalil sebagai Ketua MPR tersebut dianggap oleh sejumlah kalangan sebagai sebuah hasil "kepintaran" Amien Rais dan kelompoknya Poros Tengah dalam melakukan lobby politik. Mereka sangat agresif dalam mencari dukungan, bahkan dari partai yang sebelumnya dihujat habis (Golkar) sekalipun. Sebaliknya PDI-P yang cenderung konservatif dan pasif. Kekalahan jago PDI-P dalam memperebutkan kursi Ketua MPR sangat menggelisahkan banyak kalangan. Mereka khawatir nasib serupa juga akan terjadi pada saat pemilihan presiden minggu ketiga nanti. Apalagi, PKB (minus Matori Abdul Jalil) telah menyatakan berdiri sepenuhnya di belakang pencalonan Abdurrahman Wahid sebagai presiden berikutnya oleh Fraksi Reformasi dengan Poros Tengahnya. Sebuah keputusan yang sama sekali tidak diingini PDI-P. Sebab sebelumnya tidak pernah terpikir bahwa Gus Dur sangat serius ingin menjadi presiden. Artinya, dengan berkoalisi dengan PKB saja, kekuatan PDI-P sangat lemah dibanding koalisi kelompok Poros Tengah, apalagi tanpa PKB. Maka para pimpinan PDI-P harus realistis dan harus lebih bekerja keras melakukan lobby dengan fraksi-fraksi lainnya. Kesombongan dan kekerasan kepala mereka karena sebagai pemenang Pemilu sudah seharusnya diakhiri. Karena bagaimana pun kemenangan 35% dalam pemilu lalu bukanlah kemenangan mayoritas (51% bisa dianggap mayoritas). Menurut informasi, saat ini orang PDI-P sedang berjibaku mencari sedikitnya 150 suara dari kelompok lain. Dukungan 100 suara untuk Akbar Tanjung dalam pemilihan Ketua DPR nanti diduga keras merupakan salah satu strategi PDI-P menarik simpati Golkar. Koalisi dengan Golkar dan UD-UG adalah satu-satunya langkah yang mungkin dilakukan untuk memperoleh dukungan. Sebab tak mungkin PDI-P memperoleh dukungan dari partai-partai Islam. Konon, targetnya PDI-P harus mampu memperoleh 50 suara tambahan dari Golkar, 20 suara TNI/Polri dan 100 utusan Daerah dan golongan. Dengan komposisi seperti itu, posisi Mega baru bisa aman. Tapi jika komposisi itu tidak terpenuhi, maka walahualam. Namun usaha PDI-P tersebut oleh sejumlah kalangan bakal tidak tercapai. Sebab, ketokohan dan kecakapan Gus Dur akan mampu menyedot suara-suara anggota MPR baik dari UG, UD, TNI maupun Golkar sendiri. "Kecuali jika yang bertanding akhirnya hanya Habibie-Mega. Maka persoalannya akan menjadi lain. Sebagian Golkar akan berpaling kepada Mega. Tapi karena Gus Dur, maka mereka memilih Gus Dur dibanding Mega," kata sumber Xpos. Sementara itu Sekjen PAN, Faisal Basri justru optimis bahwa Mega akan menang dan harus menang. Sebab menurutnya, pencalonan Gus Dur menjadi presiden, dukungannya poros tengah tidak sekuat ketika mereka pencalonan Amien Rais menjadi Ketua MPR. Sebab, menurut Faisal, hingga saat ini hanya Fraksi Reformasi (PAN-PK yang jumlah kursinya jauh lebih kecil dibanding PPP) yang resmi mencalonkan Gus Dur. Sedangkan PPP dan partai Islam lain, belum menyatakan dukungan terhadap Gus Dur. Padahal, suara Poros Tengah tanpa PPP, maka jumlahnya relatif kecil. Mungkin karena itulah, maka sikap PKB sendiri belum bulat betul mendukung Gus Dur. "Bisa saja terjadi sampai 18 Oktober nanti saat fraksi harus mengajukan nama calon, hanya ada satu (partai) dari poros tengah yang mengajukan Gus Dur. Kalau itu terjadi, PKB tetap akan memberikan dukungan kepada Megawati," tegas Ketua PKB, Alwi Sihab. Isu yang sekarang santer terdengar, bahwa di MPR sekarang sedang ingin membuat cara agar Gus Dur dan Mega kelak akan didudukkan sebagai duet pemimpin negara. Keduanya akan berbagi jabatan, menjadi presiden atau kepala pemerintahan. "Kemungkinan itu masih sedang dalam pembicaraan di MPR," kata Yusuf Muhamad, salah seorang anggota MPR dari PKB. Langkah kompromi ini dinilai oleh banyak orang akan menjadi pilihan terbaik dibandingkan dengan kalah salah satunya. Sebab, bagaimana pun PDI-P secara riil, dibanding partai lain, punya pemilih terbanyak karena sebagai pemenang dalam Pemilu. Bila kemenangan PDI-P itu tidak mendapat arti apa-apa dalam SU MPR, maka jangan salahkan bila di masa mendatang rakyat tidak ikut Pemilu. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
