Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 35/II/10-16 Oktober 99
------------------------------

SKENARIO PERANG DI TIMOR LORO SAE

(POLITIK): Kubu pro-integrasi dan pihak Indonesia sudah bersiap perang.
Tapi, Australia segera pulang rayakan natal. Jadi, mau perang sama siapa?

Tak lama setelah UNAMET mengumumkan kemenangan pihak pro kemerdekaan, saling
tembak menembak tidak pernah berhenti di bumi Timor Lorosae. Panglima
Interfet, Mayjen Peter Cosgrove sendiri dituduh oleh beberapa pihak dari
dalam dan luar negerinya tidak berusaha menciptakan situasi yang dapat
mencegah terjadinya bentrokan senjata. Kesan yang dimunculkan, Cosgrove
senantiasa memaklumatkan perang pada semua pasukan multinasional. Ia
digambarkan memiliki obsesi mengejar kemanapun milisi pergi dianggap
membuatnya lupa akan berbagai kelaziman hukum internasional. Sehingga
membuat sukarelawan internasional turut komplain.

Sebagaimana diberitakan Reuters (4/10), para sukarelawan kemanusiaan  merasa
kerja mereka jadi terhambat. Interfet, menurut para sukarelawan tersebut,
amat berlebihan memberlakukan pendekatan keamanan. Mereka kerap dilarang
memasuki wilayah-wilayah tertentu oleh Interfet dengan alasan keamanan.
"Padahal kehadiran mereka justru untuk memastikan kami dapat bekerja secara
aman, bukankah begitu?" tukas beberapa sukarelawan.

Ada pula yang mengatakan bahwa pasukan Cosgrove mulai memasuki wilayah
Indonesia. Lantaran obsesi menumpas milisi, Cosgrove dianggap nekad
memerintahkan helikopter Interfet mendarat di Pulau Kisar, Maluku.
Keberadaan mereka, konon, berdasarkan laporan intelejen Interfet tentang
lokasi pelarian milisi. 

Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyatakan protes tertulisnya kepada
Australia. Nyaris bersamaan, bentrok senjata terjadi antar milisi dan
Interfet di Suai. Akibatnya dua orang milisi tewas dan dua orang pasukan
Australia terluka. Oleh Cosgrove situasi ini digambarkan sebagai kontak
balasan terhadap serangan milisi yang mencegat konvoi pasukannya. Sementara
media massa Indonesia menyebutnya sebagai "tindakan brutal Interfet terhadap
masyarakat Suai." Masing-masing merasa paling benar.

Kedua peristiwa itu, jelas menjadi alasan pemerintah Indonesia untuk
menyatakan sikap kerasnya. Mengkomentari pendaratan helikopter di Pulau
Kisar, Mensesneg Muladi memperingatkan tentang dimungkinkannya dilakukan
pengejaran (hot pursuit). Maksudnya, militer Indonesia dapat mengejar
pesawat asing tersebut secara seketika. "Hukum internasional membolehkan itu."

Akibatnya, situasi bukannya membaik, tapi bertambah panas. Gelagat menggelar
peperangan di Timor pun semakin kelihatan. Minggu lalu dikabarkan sekitar
6.500 anggota TNI menggabungkan diri dengan Pasukan Pejuang Integrasi (PPI).
Jumlah itu menambah personel PPI yang telah mencapai 51.000 orang. Pangdam
IX Udayana, Mayjen (TNI) Adam Damiri mengelak ketika dikonfirmasi adanya
penugasan dari pimpinan TNI. Menurut Adam tindakan 6.500 prajurit itu
semata-mata keinginan pribadi.

"Pimpinan TNI tak bisa melarang prajuritnya yang memang ingin mempertahankan
wilayah itu," ujar Adam Damiri. Pangdam tidak menganggap tindakan para
prajurit itu sebagai pembangkangan perintah komandan. Berdasar perintah
resmi, semestinya seluruh pasukan TNI telah mundur dari Timor. 

Lain lagi argumentasi Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur
(Pangarmatim), Laksda Adi Haryono. Pihaknya, tengah memproses anggota korps
marinir yang memilih pro kemerdekaan. 

Skenario perang ini tampaknya bakal terwujud. Pasalnya, niatan semacam itu
juga sudah diserukan Dewan Sasak Muda Bersatu (Desak Datu), 5 Oktober lalu.
Koordinator Desak Datu, Ir L. Winengan sendiri yang menyatakannya saat
melakukan aksi di depan kantor DPRD NTB. Wilengan dan massanya juga
membagi-bagikan selebaran ajakan perang terhadap Australia serta membakar
bendera Australia dan CNRT. Desak Datu mengaku kesal dengan Australia yang
mau menjadi polisi Asia Tenggara.

Perkara kesal ini sebetulnya bukan cuma monopoli Indonesia. Mantan PM
Australia Paul Keating ikut mengecam kebijakan luar negeri John Howard atas
Timor Leste. Taur Matan Ruak, Komandan Falintil sendiri tak urung sempat
menumpahkan rasa kecewa. Pasalnya, Interfet dinilai terlalu lamban
menciptakan situasi yang menimbulkan rasa aman di Lorosae. Rakyat Timtim
belum merasakan kemerdekaan! Nasib rakyat kini seperti bergantung pada dunia
internasional.

Tugas Interfet yang dicanangkan untuk 3 tahun, misalnya. Belakangan di-cut
dengan putusan PBB membentuk UNTAET (United Nations Transition
Administration in East Timor). Sebuah pemerintah transisi bagi Timor Leste.
Sekjen PBB Kofi Annan menyatakan pembentukan Untaet lantaran terjadi
kekosongan hukum dan pemerintahan di Timor. Untaet akan mengisi kekosongan
itu sampai penyelenggaraan pemilu dan memberi pelatihan kepemimpinan.
Rencananya 1.640 personil polisi PBB dilibatkan dalam komponen pemerintahan
dan administrasi publik. Jumlah keseluruhan personil adalah 9.150 personil
termasuk pasukan perdamaian PBB.

Lantas kemana Australia dengan UNAMET-nya? Menlu Alexander Downer mengaku
bakal menarik pasukannya sebelum Natal. "Tugas kami selesai dengan masuknya
Untaet," ujar Downer. 

Tapi pernyataan selesai itu ternyata belum bagi militer Indonesia. "Bagi TNI
kasus ini masalah kebangsaan," tukas Kapuspen TNI Sudrajat mengutip Jenderal
Wiranto. Jadi mau perang dengan siapa Jenderal, Australia atau Untaet? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke