Precedence: bulk
Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 35/II/10-16 Oktober 99
------------------------------
MENGALIHKAN IMPOR: SIAPA TAKUT?
(EKONOMI): Hubungan dagang Indonesia-Australia terancam putus. Para buruh,
produsen penyumbang devisa, dan industri wisata, yang jadi korban.
Konflik Timor Timur berlanjut ke sektor bisnis. Australia yang memimpin
pasukan Inyerfet, dianggap musuh. Dan para pengusaha, di motori orang-orang
Kamar Dagang Indonesia (Kadin) pimpinan Aburizal Bakrie, yang hanya bisa
ngimpor dan jago kandang, berlagak sok jago dengan memboikot impor produk
Australia. Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) berencana
menyetop impor Australia. "GINSI tidak khawatir memboikot produk negara itu
karena mudah mendapatkannya dari negara lain," ujar Amirudin Saud, Ketua
Umum GINSI.
Menurut data statistik dari Badan Pusat Statistik, tahun 1998, nilai ekspor
kita ke Australia mencapai US$1,533 miliar. Sedangkan impor dari Australia
mencapai US$1,76 miliar. Impor ini meliputi bijih gandum, minyak mentah,
serat kapas, kertas, benang tekstil dan tekstil. Pada 1998, Australia
merupakan negara tujuan ekspor kita pada urutan delapan, plus memberi
sumbangan devisa kita di sektor pariwisata sebesar US$669,67 juta. Jadi
total pemasukkan devisa Australia untuk Indonesia sebesar US$2,16 miliar.
Kenyataannya neracanya (perdagangan plus pariwisata) kita surplus dibanding
Australia.
Nah, anggapan bahwa kalau kita stop perdagangan dengan Australia kita yang
untung dan Australia yang rugi, jelas salah. Pertama, pemasukan devisa dari
Australia lebih besar daripada kita menyumbang devisa ke Australia. Kedua,
bagi kita (negeri miskin dengan penduduk lebih dari 200 juta, yang lagi
menderita karena krisis moneter) kehilangan devisa sebesar US$2,16 miliar
(Rp14 triliun hingga Rp16 triliun) jelas membuat ekonomi kita makin
morat-marit. Bagi Australia, negeri kaya itu, kehilangan devisa sebesar
US$1,7 miliar setahun tentu bukan masalah besar. Lagi pula mereka bisa
dengan mudah mengalihkan ekspor mereka ke negara lain.
Mengalihkan impor, seperti yang sudah dilakukan GINSI dengan menyetop impor
daging dari Australia, gampang saja dilakukan. Akan ada banyak negara
produsen daging yang berebutan menawarkan barangnya. Tapi, mengalihkan
ekspor? Boikot GINSI pasti akan dibalas Australia. GINSI tak rugi namun
bagaimana nasib para eksportir dan produsen barang ekspor kita? Tentu butuh
waktu yang panjang untuk mengalihkan ekspor, harus ada lobi-lobi, perjalanan
bisnis dan sebagainya. Biayanya mahal dan belum tentu berhasil. Sementara
produksi harus jalan terus, atau harus stop dari para produsen dan
buruh-buruhnya gigit jari. Apalagi, kini di tengah krisis moneter dan krisis
kepercayaan dunia pada Indonesia, tak gampang membujuk negara asing membeli
barang kita. Apakah ini disadari? Tampaknya tidak. GINSI yang hanya terdiri
dari para importir yang besar karena fasilitas (Bakrie dan kawan-kawan) yang
hanya menghabis-habiskan devisa itu, tak memikirkan nasib para penyumbang
devisa itu.
Memang gara-gara Indonesia bersikap keras pada Australia. Lima puluh ribu
wisatawan Australia membatalkan wisatanya ke Bali tahun ini. Jelas, ini
pukulan telak bagi industri pariwisata Bali. Mereka akan kehilangan banyak
pemasukan, sementara kekosongan turis Australia ini sulit dicari gantinya
dari negeri lain.
Produsen dan buruh gerabah di Desa Kasongan, Yogyakarta pun kena gepuk dari
perseteruan para elit itu. Mereka kehilangan penghasilan karena
barang-barang mereka terhambat terjual di Australia akibat boikot buruh
Australia. Kalau baru diboikot pembongkarannya di pelabuhan saja ekspor kita
sudah kelimpungan, apalagi kalau hubungan perdagangan distop. Siapa yang
akan menderita? Ya rakyat kebanyakan, para buruh tekstil, dan sebagainya.
Kalau impor kapas Australia distop, maka produsen tekstil harus mengimpornya
dari Amerika Serikat. Harganya bisa lebih mahal karena ongkos kirimnya pasti
lebih mahal karena jaraknya yang lebih jauh. Kalau ongkos kirimnya mahal,
maka produknya akan mahal juga. Siapa yang rugi? Jelas konsumen. Bukan
GINSI. Para elit politik dan militer yang penghasilannya tidak dari hubungan
perdagangan dengan Australia ya tak akan terasa. Dampak makronya, pemulihan
ekonomi kita jadi tersendat dan mungkin akan makin terpuruk. Sekarang mau
pilih yang mana?
Karena ketegangan hubungan RI-Australia itu, sektor tambang, juga terkena.
Perusahaan emas patungan PT Tambang Tondano Nusa Jaya dan PT Mearest Soputan
Mining yang menguasai 300 ribu hektar di Kec. Likupang dan Dimembe, Sulawesi
Utara, menghentikan operasinya. Bahkan, menurut staf teras PT Mearest, W.
Kamagi, terhitung 18 September lalu, semua buruhnya sudah sudah di-PHK.
Siapa yang rugi? Ya para buruh itu, mereka harus kehilangan nafkahnya atas
nama nasionalisme. Ini jelas menyedihkan. (*)
---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html