Precedence: bulk
ISTIQLAL (13/10/99)# SEBUAH PENGKHIANATAN YANG TAK TERMAAFKAN
Oleh: Sulangkang Suwalu
Terpilihnya Amien Rais menjadi Ketua DPR lewat voting beberapa waktu
silam dianggap oleh sementara orang akan memberi harapan baru. Setidaknya
lembaga tertinggi negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang-orang eks Orde
Baru. Cuma agak lucu saja pemenangnya kok berasal dari partai "Gurem", alias
bukan pemenang dalam pemilu. Sehingga wajar menimbulkan pertanyaan: apa
latar belakangnya maka sampai terjadi hal yang demikian?
Sebuah koran harian memberitakan bocoran yang mengejutkan menjelang
sidang paripurna MPR untuk memilih pimpinan majelis. Di tengah pertarungan
seru memperebutkan posisi Ketua MPR dan DPR, muncul "kesepakatan baru"
antara partai Golkar dengan pimpinan partai-partai yang tergabung dalam
"Poros Tengah", alias gabungan partai gurem.
Mereka sama-sama sepakat untuk menjadikan Ketua Umum PAN, Amien Rais
sebagai Ketua MPR dan Ketua Umum Golkar, Akbar Tanjung, sebagai ketua DPR
Sementara Ketua Umum PPP Hamzah Haz gebagai wakil wakil Ketua DPR dan
Ginandjar Kartasasmita sebagai Wakil Ketua MPR.
Kesepakatan itu konon dibuat di hotel berbintang, sore sebelumnya
dengan dihadiri tokoh-tokoh antara lain Akbar Tanjung, M.S. Hidayat, Marzuki
Darusman dari Golkar, Amien Rais, Hamzah Haz dan beberapa tokoh Poros Tengah
lainnya.
Beberapa jam sebelum kesepakatan itu disetujui, Hamzah Haz sebenar
sudah disepakati menjadi Ketua MPR dan Akbar sebagai Ketua DPR. Tetapi
karena Amien Rais ngotot, Hamzah Haz akhirnya mengalah. Apalagi Amien
kabarnya didukung Gus Dur.
Semula Poros Tengah, sepakat untuk mengajukan Gus Dur menjadi Ketua
MPR, sementara Ketua PAN, Amien Rais menjadi Ketua DPR. Tapi akibat giat
pertemuan kompromi sembunyi-sembunyi, antara pimpinan Golkar dengan
tokoh-tokoh Poros Tengah, yang dijembatani Hamzah Haz dan Ginandjar
Kartasasmita kesepakatan tsb akhirnya mentah lagi.
Penyebab mengapa perlu ada kesepakatan baru, antara lain karena
Fraksi Utusan Golongan ( UG ) MPR, sepakat untuk mengajukan nama calon lain,
sebagai calon pimpinan MPR. Padahal sebelumnya sudah disepakati untuk
mengusulkan Gus Dur sebagai Ketua HPP.
Sebelum ada kesepakatan baru, maksudnya kesepakatan di sebuah hotel
berbintang, sebuah sumber menyebutkan Ketua Umum PAN Amien Rais belum
kebagian jabatan. Namun Amien Rais dijanjikan, begitu Akbar terpilih menjadi
RI-1 atau RI-2, jabatan Ketua DPR akan diberikan kepada Amien Rais. Tetapi
tampaknya beberapa orang tidak setuju dengan kesepakatan itu. Karena
melenceng dari keputusan semula. Akhirnya setelah diprotes, Hamzah Haz mengalah.
Sebenarnya Amien dan Hamzah punya pandangan yang sama tentang
sejumlah hal, juga dalam hal figur presiden. Mereka sama-sama menginginkan
figur presiden bukan Megawati. Sehingga terpilihnya satu diantara dua tokoh
Poros Tengah, sama-sama punya peluang untuk menjegal Mega, maka mereka
berasumsi bisa memperalat Amien dan Hamzah.
Satu hal yang perlu diperhatikan, dengan adanya kesepakatan politik
antara partai Golkar dengan tokoh-tokoh Poros Tengah yang dimotori Hamzah
tsb, posisi Matori Abdul Djalil, yang semula sudah diplot menjadi Ketua MPR
menjadi tidak jelas. Kalau dia hanya kebagian wakil Ketua MPR, wajar-wajar
saja kalau dia menolak.
Kendati muncul protes dari PDI-P dan PKB, tapi tampaknya para tokoh
Golkar tetap bersikeras.
PENDUKUNG HABIBIE BERSORAK-SORAI
Terpilihnya Amien Rais sebagai Ketua MPR membawa rasa sukacita
sorak-sorai bagi kubu Habibie. Itu tercermin dari pernyataan AA Baramuli,
Achmad Tirtosudiro dan Dewi Fortuna Anwar. Baramuli mengatakan Amien Rais
tak akan mungkin terpilih menjadi Ketua Lembaga Tertinggi Negara, kalau
tidak didukung penuh oleh Partai Golkar. Karena itu sebagai bargaining
position, sangat wajar bila Poros Tengah dan Golkar nantinya sama-sama
menjadi pendukung calon presiden dari Golkar yaitu Habibie.
Bahkan dengan tegas-tegas, Baramuli menyatakan jumlah suara yang
diberikan Partai Golkar kepada Amien Rais bukan hanya 120, tetapi 250,
termasuk didalamnya utusan Golongan dan utusan Daerah yang pro Habibie.
Achmad Tirtosudiro menyatakan dengan tegas-tegas bahwa calon partai Golkar
sampai saat ini masih Habibie. Menjawab pertanyaan" apa posisi Amien sangat
strategis untuk memuluskan Habibie", Tirtosudiro mengatakan seorang Ketua
MPR bisa membimbing pelaksanaan sidang agar berjalan baik. Dalam sidang
memang tidak ada peran perseorangan. Tapi secara psikologis bisa ada
pengaruhnya.
Sedang Dewi Fortuna Anwar mengatakan bahwa kesepakatan yang antara
Golkar dan Poros Tengah telah membuka jalan bagi proses terkristalisasinya
pencalonan dua kubu, yaitu Megawati dan Habibie.
Dan kalau dalam hal ini Golkar-Poros Tengah kompak, diyakini Pak
Habibie akan maju dengan mulus ke kursi presiden.
Majunya Amien Rais ke kursi MPR, kata Fortuna menunjukkan bahwa
kepandaian melobi bisa mengalahkan kekuatan riil yang ada di lapangan. Dalam
kehidupan politik tidak bisa kemenangan dihitung dengan cara matematis.
Orang yang tidak mau turun melobi, itu artinya belum siap berpolitik. Jadi,
bisa saja meskipun ia sudah jadi menang, belum tentu jadi pemenang dalam
final. Makanya jangan dulu menghitung ayam, kalau belum menetes telornya.
Ini sindiran yang tajam dari Fortuna kepada Megawati , yang tidak
mau turun melobi, telah menghitung ayam, padahal telornya belum menetas.
SEBUAH PENGKHIANATAN
Bertentangan dengan sorak-sorainya pendukung Habibie karena
terpilihnya Amien Rais menjadi Ketua MPR berkat dukungan suara Golkar, maka
Supratman, melalui kolom " Latar" di Rakyat Merdeka, (4/lO) antara lain
mengemukakan antara lain: Keadaan memang tak bisa diubah dalam semalam.
Karena ini bukan dongeng. Bahkan dalam sebuah revolusi semangat perubahan
tak bisa dipertahankan dalam waktu yang lama. Sebut saja, misalnya revolusi
Perancis, yang berhasil menumpas kediktatoran monarki Raja Louis. Saat itu
Napoleon Bonaparte yang berjuang atas nama reformasi dan berhasil menduduki
takhta kepemimpinan negeri Perancis, tak bisa konsisten melaksanakan amanat
reformasi. Sepuluh tahun sesudah revolusi, Napoleon Bonaparte mengangkat
dirinya menjadi raja, tak kalah diktatornya dengan orang-orang yang dia
tumbangkan.
Itu cerita hampir empat ratus tahun yang lalu. bagaimana sekarang?
Ya, sama saja. Karena apa? Karena manusia adalah binatang politik. Nafsu
kekuasaan tak bisa dimusnahkan sama sekali dan hampir ada dalam jiwa setiap
manusia terutama politisi.
Apa-apa yang kita saksikan hari-hari ini di SU MPR adalah bagian
dari sifat manusia tersebut. Kalau pun ada yang menginginkan agar
partai-partai status quo tak diberi kekuasan, itu tak lebih dari sekedar
sebuah harapan. Karena masalahnya bukan dibagi atau tak dibagi kekuasaan,
tapi bisakah kelompok non-status quo mempertahankan konsistensinya untuk
tidak melirik kelompok status quo. Dalam kasus pemilihan Ketua DPRD DKI
Jakarta, misalnya, kita melihat bagaimana TNI diberi kesempatann untuk
memimpin, oleh PDI-P.
Dalam SU MPR pun kita menyaksikan adanya kelompok tertentut yang
nota bene mengatasnamakan dirinya kelompok reformis (PAN -pen) bersanding
ria dengan kelompok status quo. Itu tak lain demi kekuasaan. Bukankah ini
sebuah pengkhianatan yang seharusnya tak termaafkan.
Pada akhirnya, kata Supratman, kelompok reformislah yang menentukan
diri mereka sendiri. Digilas atau menggilas. Dan dari situ rakyat akan
menilai siapa sesungguhnya penjahat yang sebenarnya.
MENGGILAS ATAU DIGILAS
Bertolak dari uraian Supratman di atas, maka penyelesaian
bertentangan antara gerakan reformasi dengan kelompok status quo, ialah
salah satu harus ditiadakan. Bila gerakan reformasi tidak menggilas kelompok
status quo, maka kelompok status quo akan menggilas gerakan reformasi.
Saling meniadakan.
Bagi gerakan reformasi yang sungguh-sungguh, yang konsisten dengan
pendiriannya, mereka dengan segala daya dan upaya akan menutup pintu dan tak
akan memberi peluang bagi kelompok status quo turut dalam kekuasaan. memberi
peluang kepada pihak status quo masuk dalam kekuasaan, sama artinya dengan
memberi senjata kepada lawan untuk menggilas gerakan reformasi itu sendiri.
Dan itu merupakan pengkhianatan, baik disadari atau tidak.
Tentu lain halnya bagi kaum reformis, mereka mengaku sebagai kaum
reformis, karena rakyat banyak emoh dengan status quo, yang telah menindas
mereka lebih 32 tahun. Jika mereka terang-terangan mengaku sebagai pro
status quo, tentu mereka akan diusir dari tempatnya. Mereka itu adalah
reformis munafik.
Berbagai dalih akan dikemukakan kaum reformis munafik, untuk
membenarkan langkahnya,yang memberi peluang masuknya status quo dalam
kekuasaan Apa pun juga alasan yang mereka kemukakan untuk memberi peluang
kekuasaan bagi kelompok status quo, pada intinya supaya pribadinya dapat
turut dalam kekuasaan.
Itulah yang terjadi dengan terpilihnya Amien Rais sebagai Ketua MPR
Amien Rais membuat kesepakatan dengan Golkar. Dengan dukungan Golkar, ia
menjadi Ketua MPR. Dan dengan dukungan Amien dengan Poros Tengahnya, Akbar
Tanjung dari Golkar menjadi Ketua DPR. Untuk itu Amien Rais menjegal PDI-P
dan PKB.
Demikian pula yang dilakukan PDI-P ketika berlangsung pemilihan
Ketua DPRD DKI Jakarta. PDI-P memberikan suaranya kepada fraksi TNI/Polri
untuk menjadi Ketua DPRD DKI Jakarta, dengan harapan supaya paling sedikit
38 suara TNI di MPR dapat diberikan kepada Megawati agar ia mulus bisa
menjadi Presiden. Prinsip menggilas status quo mereka korbankan, untuk
keuntungan pribadi masing-masing.
Jelas kiranya, bahwa setiap usaha yang memberi peluang kekuasaan
kelompok status quo, itu berarti kaum reformis memberikan senjata kepada
kelompok status quo, guna menggilas gerakan reformasi itu sendiri. Dan akan
memperjauh tercapainya tujuan gerakan reformasi, yaitu Indonesia baru yang
demokratis, dimana rakyat benar-benar berdaulat.
Adalah suatu ucapan yang menggelikan dari Amien Rais yang mengaku
sebagai pendekar reformasi dan demokrasi, setelah dilantik menjadi Ketua
MPR. Padahal ia bisa menjadi Ketua MPR, karena suara dukungan Golkar,
seperti dikatakan tokoh-tokoh Golkar. Dan Amien dengan Poros Tengahnya
sepakat untuk menjadikan Akbar Tanjung dari Golkar sebagai Ketua DPR.
Bagaimana bisa dikatakan pendekar reformasi, sedang dirinya memberi peluang
kekuasaan bagi kelompok status quo. Amin Rais sesungguhnya adalah pahlawan
untuk dirinya sendiri.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html