Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN DI BUMI LORO SA'E (12)

Dear Joko dan Riri, 

Eh, aku nggak jadi piknik lho. Neneknya Manda sakit dan dirawat di rumah
sakit. Sampai saat ini aku masih tinggal di rumah mereka. Setelah itu aku
akan berangkat ke Surabaya untuk beberapa hari. Susah bener ngumpulin bahan
hasil penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu. Entah sampai kapan aku
bisa menuliskan kembali semua bahan itu.  

Aku masih terus mencoba menghubungi beberapa teman yang tercerai-berai
setelah Bumi Lorosae dibumihanguskan. Beberapa di antara mereka menitipkan
catatan singkat tentang pengalaman mereka pada kawan yang lain, yang lain
menghubungi aku via telepon, hanya untuk mengabarkan bahwa dia berhasil
menyelamatkan diri dari serbuan milisi dan tentara yang mencoba membunuhnya.
Ada teman lain mengabarkan, ketika menyelamatkan diri ke wilayah yang
dianggap aman,  ia mengajak serta 12  anak, yang berasal dari berbagai
keluarga. Mungkin saja ayah dan/atau ibunya telah meninggal atau anak itu
terpisah dari keluarganya. Duh! Sampai saat ini tak ada seorang pun yang
bisa memastikan berapa orang yang mati, dihilangkan secara paksa, atau yang
berada di pengungsian akibat serangan dari aparat bersenjata itu. Dan berapa
orang lagi yang harus kehilangan suami, istri dan anak-anak? 

Sampai saat ini aku tetap tak bisa mengerti, apakah para pelaku kejahatan
itu manusia atau iblis. Baru saja aku mendengar kabar, ayah salah seorang
temanku ditembak di dalam rumah lalu dibacok dan rumahnya dibakar. Teman
yang lain mengalami hal yang hampir serupa. Ayahnya ditembak dan ketika
diduga meninggal, mayatnya di masukkan begitu saja ke dalam lubang, tapi
ketika diketahui  masih bergerak-gerak, lelaki itu dibacok terus sampai
akhirnya tak berkutik. Saat mendengar berita itu aku tak sanggup
berkata-kata. Manusiakah mereka itu? Menurut kalian, hukuman apa yang tepat
untuk mereka?

Aku hanya sanggup menghela nafas panjang ketika aku membaca catatan
pengalaman beberapa teman ini. Bagiku, nama mereka itu menjadi tak penting.
Bukan demi keselamatan mereka tapi menurut aku pengalaman mereka jauh lebih
penting dibandingkan siapa mereka itu satu demi satu. Teman-temanku ini satu
demi satu berhasil meninggalkan Bumi Lorosae, beberapa hari setelah aku
dipaksa pergi dari sana. Aku tak ingin memaksa kalian untuk mempercayai
serpihan-serpihan pengalaman mereka. Mereka ini telah menjadi salah satu
dari sekian banyak saksi dari kebrutalan semua aparat yang bersenjata, di sana. 

Kalian tentu masih ingat, beberapa hari sebelum pengumuman hasil referedum
atau setelah mereka memilih, hampir semua warga Timor Lorosae telah
meninggalkan rumah mereka. Mereka pergi ke hutan, mengungsi ke
gereja-gereja, tempat-tempat biarawan, sekolah-sekolah Katholik, atau Markas
UNAMET. Tapi, kemudian mereka yang masih berada di kota itu diungsikan
kembali secara paksa oleh milisi pro Jakarta yang didukung oleh TNI ke
KOREM, KODIM, dan POLDA. Setelah berada di markas tentara itu mereka
kemudian dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya ke wilayah NTT. Aksi dari
milisi, TNI dan Polisi semakin berlanjut dengan melepaskan tembakan secara
sporadis sepanjang hari sambil membakar rumah-rumah penduduk, pertokoan dan
perkantoran, sehingga masyarakat di lokasi pengungsian mengalami gangguan
pernapasan, bahkan sebagian anak kecil mengalami sesak napas akibat asap
dari pembakaran tersebut. 

Selain itu di tempat-tempat pengungsi dijaga sangat ketat oleh milisi
Aitarak dan Besi Merah Putih. Menurut pengamatan, sementara milisi mengancam
dan menodongkan  senjata dan parang ke leher masyarakat yang dicurigai
sebagai pendukung kemerdekaan, para polisi dan TNI hanya diam seribu basa
dan malah memuji perbuatan milisi tersebut.  Beberapa teman yang berada di
tempat itu mendengar, tentara dan milisi secara tidak sengaja bercerita.
"Sebelum pemerintah Indonesia meninggalkan wilayah Timor Lorosae, maka semua
aset negara yang ada di Bumi Lorosae, baik yang bergerak maupun tidak
bergerak harus dibumihanguskan."  Menurut mereka semua aset itu adalah hasil
dari jerih payah pemerintah Indonesia. Salah seorang tentara bernama Joko
bahkan berteriak, "Kalau mau merdeka harus dari nol, jangan menggunakan
hasil jerih payah Indonesia."

Bukti dari pernyataan para milisi dan TNI tersebut telah kalian ketahui.
Bumi Lorosae yang alamnya elok itu nyaris rata dengan tanah. Tak ada
perlawanan sama sekali dari pihak pro kemerdekaan, karena mereka telah tahu
kalau ada perlawanan, maka para milisi dan TNI akan merekayasa dengan alasan
telah terjadi perang saudara atau kerusuhan. Padahal yang terjadi
sesungguhnya adalah pembunuhan, pemenjaraan, pembakaran, teror, intimidasi,
dan penculikan, yang kesemuanya itu dilakukan oleh TNI bersama milisi pro
Jakarta. 

Para pengungsi yang berada di lingkungan KOREM mengalami ketakutan dan
penderitaan yang luar biasa. Mereka ditempatkan di tengah-tengah keluarga
milisi dan keluarga TNI sambil terus diteror. Salah seorang lelaki dituduh
di muka umum untuk mengakui bahwa dirinya memasang spanduk dan poster Xanana
di desa Akadiruhun, kecamatan Dili Timur. Padahal dia bukan penduduk dari
desa tersebut. Salah seorang pengungsi dari Bairo Formosa bersama pengungsi
lain disuruh mencium dan makan tanah di depan banyak pengungsi yang ada di
kompleks KOREM tersebut pada tanggal 7 September 1999.  Pengalaman lain,
seorang anggota Kopassus yang datang ke KOREM menipu para pengungsi. Katanya
saat ini para Falintil sudah penuh di kota Dili dan sekitarnya untuk
menyerang milisi dan TNI. Namun, semua yang dikatakannya itu hanyalah isapan
jempol semata, agar para pengungsi takut karena akan menjadi korban peluru
nyasar. Maksud mereka menakut-nakuti tentu saja agar mereka segera
meninggalkan kota Dili. 

Dalam perjalanan menuju ke Atambua para pengungsi pun dicekam ketakutan yang
luar biasa. Sepanjang perjalanan sejumlah milisi berkeliaran dengan
mengendarai motor sambil melepaskan tembakan setiap kali melewati kendaraan
pengungsi. Hal itu juga terjadi di Atambua dan tempat-tempat para pengungsi
yang berada di wilayah NTT. Seperti yang terjadi di Atambua, tanggal 9
September, sekitar pukul 07.00, milisi Aitarak yang bersenjata pistol
menteror para pengungsi yang berada di sebuah rumah penduduk. Senjata
tersebut diarahkan pada para pengungsi. Alasannya, mereka adalah anggota
CNRT yang memaksa penduduk setempat memberi mereka air minum. 

Ketika salah seorang anggota milisi Aitarak dari Kompi C pos 9 ditanya, ia
menceritakan bahwa mereka begitu semangat melakukan teror dan penghancuran,
karena militer Indonesia menjanjikan akan diberi tanah, uang, dan kelak akan
direkrut menjadi anggota TNI. Disamping itu, menurut dia, masa depan
keluarga pun akan dijamin oleh militer Indonesia.  

Riri, ini cerita yang lain lagi. Beberapa jam sebelum pengumuman hasil jajak
pendapat, pada tanggal 4 September 1999 ternyata telah terjadi pembantaian
di luar kota Dili. Sekitar 45 warga dibunuh oleh gabungan milisi, yang
terdiri atas Dadurus Merah Putih, Halilintar, Hadomi Merah Putih, dan
tentara Indonesia, saat terjadi penyerangan dan penghancuran Paroki Santa
Cruz di Maliana. Dua puluh satu di antara korban adalah staf lokal UNAMET
yang bertugas  di Maliana.  Pada hari itu juga, di Kabupaten Ainaro juga
terjadi pembunuhan terhadap staf lokal UNAMET dan warga setempat.
Pembunuhan tersebut dilakukan oleh Milisi MAHIDI yang didukung oleh TNI.
Masih pada tanggal yang sama, sejak sore hari terjadi pembakaran terhadap
rumah-rumah penduduk di desa Bidau Santana, Bidau Mota Klaran, dan Bidau
Lecidere. Penduduk dari ketiga desa tersebut mulai mengungsi ke kediaman
Uskup Belo. 

Sabtu itu pada sekitar pukul 07.00 pagi para pengungsi diminta pulang ke
rumah masing-masing untuk memgambil pakaian dan makanan. Salah seorang
pengungsi, Acasio bernasib malang. Ia yang tengah menuju ke rumahnya untuk
mengambil pakaian anaknya malah ditembak dari belakang oleh milisi Aitarak.
Timah panas itu mengenai punggung hingga menembus dadanya. Korban yang
terluka parah itu mencoba melarikan diri dan akhirnya terjatuh di dekat
Jalan Raya Bidau Mota Klaran, persis di atas jembatan penghubung antara Desa
Bidau Lecidere dengan Bidau Mota Klaran. Kebetulan ada seseorang yang
melintas dan Acasio kemudian dibawa ke ICRC (Palang Merah Internasional)
untuk diobati. 

Pengalaman ini tak kalah menyedihkan. Di Desa Bidau Licidere seorang kepala
desa yang bernama Donato Soares, yang juga adalah anggota Kodim 1627 Dili,
bersama dengan anaknya Joao Soares serta seorang iparnya tewas dibunuh
milisi. Ketika itu mereka berada di dalam rumah. Sekitar pukul 09.30, milisi
bersama TNI datang ke rumah Donato, lalu mengetok pintu: "Ada perintah dari
komandan agar segera datang ke Kodim." Mendengar perintah tersebut tentu
saja dia segera keluar. Baru saja Donato membuka pintu, langsung saja
perutnya ditusuk, anaknya dibacok di bagian pantat serta iparnya ditembak
tubuhnya. Ketiga orang tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Wira Husada
di Taibesi oleh pasukan PENERBAD (Penerbangan Angkatan Darat). Akibat
situasi semakin gawat, istri Donato dan anak-anaknya tidak sempat menengok
ke rumah sakit. Namun menurut informasi dari seorang anggota KODIM, mereka
hanya memberitahukan kepada saudaranya, bahwa Donato dan iparnya telah
meninggal dunia sementara anaknya, Joao dalam keadaan kritis akibat
kehabisan darah. Di Bidau Mota Klaran kejadian juga menimpa seorang
laki-laki berusia sekitar 58 tahun. Kakinya ditembak oleh milisi Aitarak.

Pada tanggal yang sama, di Desa Bidau Macaur Atas terjadi pembantaian
terhadap 10 orang warga setempat oleh milisi Aitarak dan TNI. Dalam
penyerangan tersebut telah tewas 10 orang sedangkan 6 orang lainnya
mengalami luka-luka. Dari seluruh korban hanya seorang yang sempat
terindentifikasi. Lelaki itu bernama Andre Soares (42 tahun). Para korban
yang tewas sebagian dikuburkan oleh keluarga, sebagian lainnya dimasukan ke
dalam karung dan dibuang di jalan-jalan, sedangkan sisanya dibuang ke laut. 

Ternyata, pada tanggal 4 September lalu begitu banyak pembunuhan dan
pembantaian. Sekitar 50 warga masyarakat di Bedois, Desa Camea, Becora,
Kecamatan Dili Timur dibantai oleh Aitarak dan TNI yang menggunakan seragam
Aitarak bersama BTT setempat. "Sampai saya menulis surat ini saya belum tahu
identitas para korban," tulis seorang teman. Memang, pada hari itu tak ada
lagi lembaga atau jurnalis yang mempunyai akses ke tempat kejadian.
Pembantaian massal itu juga menewaskan semua anggota keluarga Joao, pelaku
pembunuhan terhadap dua anggota Aitarak, yaitu Plasido dan Clementino di
Becora. 

Keesokan harinya, pada tanggal 5 September rumah salah seorang tokoh CNRT,
yaitu Leandro Issac juga diserang. Namun karena saat itu lelaki berbadan
langsing itu tak berada di tempat, maka milisi yang datang membunuh seorang
perempuan yang kemudian diketahu bernama Aida Soares. Kalau aku tak salah,
Aida adalah salah seorang penyanyi yang melantunkan lagu, yang kemudian di
Bumi Lorosae dikenal sebagai UNAMET's song. Sayang, aku tak sempat
menanyakan syair lagu itu pada Manuel atau Neves. Menurut informasi, sebelum
penyerangan di rumahnya, Leandro telah diangkut oleh Polisi dengan cara
dimasukan ke dalam peti mayat. Tapi sampai sekarang belum ada kabar yang
jelas, di mana Leandro Issac berada. Masih menurut kabar, tubuh Aida Soares
dicincang secara sadis. Kemudian oleh keluarganya ia dikuburkan dengan
upacara yang sangat sederhana.

Di hari Minggu itu juga telah terjadi pembunuhan terhadap delapan orang yang
ingin meninggalkan Bumi Lorosae melalui pelabuhan Dili. Mereka  ditembak
oleh Aitarak lantaran mereka dicurigai sebagai pendukung kemerdekaan.
Penembakan itu terjadi sekitar pukul 11.30. Sejumlah milisi Aitarak
mengangkut semua mayat yang sampai saat ini tak diketahui siapa mereka itu.
Jika identitas mereka saja tak diketahui, pasti kita pun tak bisa bertanya
pada milisi Aitarak itu ke mana mayat itu dikuburkan. Sore harinya, sekitar
pukul 17.00 terjadi pula penyerangan dan pembakaran terhadap Camra
Eclesestica, Kantor Diosis Dili. Korban yang tewas seketika diketahui
sebanyak 25 orang, sedangkan lima orang lainnya mengalami luka berat dan
sempat dirawat di Kilinik Motael. Sampai saat ini tentu saja tak ada yang
tahu identitas korban dan mayat mereka dibawa kemana. Para korban itu
terdiri atas laki-laki, perempuan dan bayi.

Tanggal 6 September sekitar jam 08.00 para milisi yang tak lagi bisa
diidentifikasi, apakah mereka benar-benar milisi atau tentara Indonesia
mendatangi Asrama Susteran Canosiana di Balide.  Mereka mengancam, agar
semua pengungsi yang ada di tempat tersebut segera dikeluarkan dan
diungsikan ke Atambua atau tempat lain. Para pengungsi itu harus segera
dipaksa pindah, karena sebentar lagi semua tempat yang dihuni oleh pengungsi
akan diserang. Tapi para biarawati di sana tak bersedia memindahkan mereka,
karena tak ada jaminan keamanan. Para Suster itu tak mengiraukan permintaan
para milisi tersebut.

Pada tanggal yang sama, sekitar pukul 09.00 datang sejumlah milisi Aitarak
bersenjata M-16 di kediamanan Uskup Belo, di Lecidere. Mereka mengendarai
beberapa kendaran tampak memantau situasi sambil melakukan provokasi. Dari
dalam jelas kelihatan, mereka berusaha menyerang tapi dihadang kembali oleh
Pasukan Gabungan TNI, lima belas menit kemudian. Selang satu jam terjadi
penembakan dan pelemparan di Asrama Susteran Canosiana Lecidere. Meskipun
tembakan itu terdengar beruntun, para pengungsi di sana tak ada satu pun
yang keluar dari asrama. Dari Lecidere penyerangan kemudian dilanjutkan ke
Kediaman Uskup yang saat itu dipenuhi sekitar 3.000 orang pengungsi. Pada
mulanya, terjadi penembakan yang dilakukan secara sporadis  di luar pagar
kediaman Uskup itu. Para milisi kemudian merusak kawat pagar dan melompat
masuk sambil menembaki pengungsi  secara membabi buta.  Korban pertama dari
serangan tersebut adalah seorang anak [2 tahun], buah cinta Macario dan
Lucia yang sedang tidur pulas akibat terinjak-injak pengungsi yang panik.
Bersamaan dengan itu milisi mulai membakar kediaman Uskup sambil menembaki
para pengungsi yang berlindung di sana. 

Banyak korban mulai berjatuhan. Dari dalam kompleks itu terdengar suara
teriakan dan  tangisan dari anak-anak dan ibu-ibu, yang meminta agar milisi
itu menghentikan tembakan. Namun, permintaan itu tak digubris oleh para
milisi, bahkan mereka tetap melancarkan tembakan sambil menyeret para
pengungsi ke dalam tenda-tenda yang ada di lingkungan kediaman Uskup Belo
itu. Mendengar teriakan dan tangisan para pengungsi, Uskup Belo bergegas
keluar dari dalam rumah bersama seorang suster, yang diikuti juga oleh para
pengungsi. Saat itu sasaran tembakan langsung diarahkan kepada Uskup, tapi
saat itu Uskup diselamatkan oleh salah seorang pengungsi dengan menarik
jubahnya ke belakang, agar Uskup terhindar dari tembakan. Memang benar Uskup
Belo berhasil diselamatkan tapi timah panas itu bersarang di tembok sedalam
5 cm. 

Karena tembakan yang bertubi-tubi dan korban mulai berjatuhan, Uskup bersama
para pengungsi keluar dan berusaha  menuju POLDA atau KOREM. Tapi milisi dan
TNI malah menyuruh Uskup dan para pengungsi menuju Taman Bunda Maria
Lecidere dan tinggal di sana selama beberapa jam. Bersamaan dengan itu para
Milisi mengeluarkan para pengungsi yang berada di ICRC untuk dijemur
bersama-sama di bawah terik matahari di Taman Bunda Maria Lecidere. Saat itu
juga para milisi secara paksa mengeluarkan para pengungsi yang ada di
Susteran Canosian untuk digabungkan dengan pengungsi yang ada di sana. Dalam
suasana yang hiruk pikuk itu tampak salah seorang milisi dari Aitarak yang
dibonceng oleh TNI turun dari motor sambil mengeluarkan kata-kata jorok
dalam bahasa Tetum. Seketika itu juga sang milisi langsung mengeluarkan
Samurai yang nyaris melukai sejumlah orang, tapi ditahan oleh milisi yang
lain. Pada saat itu Uskup terlihat berdialog dengan polisi dan tentara
Indonesia, kemudian Uskup dan para suster diangkut dengan mobil tentara
menuju ke Polda. Hampir pada saat yang bersamaan, di depan para pengungsi,
seorang milisi menganiaya dengan sangkur Pr. Jose Fataparambela, SDB, pastor
asal India yang bertugas di Misao Fuiloro Lospalos. 

Seusai menyerang kediaman Uskup, datang beberapa truk  yang dipenuhi dengan
TNI dan Polri dari Kontingen Lorosae. Mereka bukannya mengamankan para
milisi, tentara dan polisi Indonesia, tapi malah mengepung para pengungsi.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para milisi untuk meminta dan mengumpulkan
secara paksa kunci mobil dan motor milik para pengungsi. Temanku itu juga
melihat sejumlah aparat, entah milisi atau tentara menghalau sejumlah
jurnalis yang saat itu berada di Hotel Turismo ke pinggir laut. Ternyata,
mereka dipaksa minum air laut. Setelah itu para jurnalis dan team ICRC
diangkut dengan kendaraan militer, entah dibawa kemana. Staf lokal ICRC yang
meninggal saat itu berjumlah 15 orang dan mayatnya juga tak diketahui
dibuang di mana. Pada saat para pengungsi dijemur dan dipaksa menundukkan
kepala, tentara Indonesia membawa masuk sebuah truk ke halaman kediaman
Uskup untuk apa lagi kalau bukan untuk mengangkut korban penyerangan yang
mereka lakukan. Tak ada yang tahu pasti berapa korban yang meninggalkan atau
luka-luka. Diduga puluhan korban jatuh dalam serangan tersebut. 

Setelah semua korban diangkut dan dibawa pergi, para pengungsi digiring
masuk kembali ke Kediaman Uskup. Para milisi itu bukannya menolong para
pengungsi tapi mereka menyerbu ke dalam kediaman Uskup dan menjarah semua
barang-barang yang mereka sukai. Saat para milisi sibuk menjarah itu,
sebagian pengungsi lari menyelamatkan diri. Sebagian pengungsi yang tidak
sempat melarikan diri kemudian diangkut ke KODIM, KOREM, dan POLDA. Sisanya
kemudian tak ada yang tahu ke mana mereka dibawa pergi. 

Duh, Tuhan. Hanya itu yang aku ucapkan, Ri. Pada tanggal yang sama juga
terjadi penyerangan Susteran Canosiana Balide oleh milisi dan tentara
Indonesia. Saat itu susteran itu dihuni ribuan pengungsi dari Desa Caicoli,
Mascarinhas dan sebagian lainnya dari Vilaverde. Dari sekian pengungsi itu
hanya tiga orang yang sempat meloloskan diri dari serangan milisi Aitarak,
Besi Merah Putih dan tentara Indonesia. Sisanya kemana? Mungkin terbunuh
pada saat penyerangan itu. 

Pada tanggal 7 September saat teman-temanku keluar dari tempat persembunyian
mereka untuk menuju KOREM. Mereka melihat sejumlah mayat di jalan-jalan saat
melintasi lapangan Pramuka dan Desa Formasa. Di tempat itu anjing dan babi
saling berebut menarik bagian tubuh para korban yang dibuang begitu saja dan
memakan mayat yang tampak sudah mulai membusuk itu. Di Desa Formasa, dekat
Lapangan Pramuka itu masih ada setumpuk mayat sekitar 5 orang. 

Joko dan Riri, aku nggak tahu kondisi mental teman-temanku saat ini. Setelah
mereka melihat begitu banyak kekejaman yang dilakukan secara sistematis oleh
milisi dan tentara Indonesia terhadap saudara sebangsa mereka. Pengalaman
teman-temanku itu ternyata belum cukup. Pada tanggal 7 September  sekitar
jam 14.00 mereka melihat seorang anggota KOREM asal Kabupaten Lospalos
ditangkap tentara di asrama tentara 744 Taibesi, karena telah mengevakuasi
sejumlah warga ke arah sektor Timur. Korban diangkut dengan mengunakan
kendaraan, kemudian korban dieksikusi oleh milisi Aitarak. Untuk membuktikan
bahwa korban telah dibunuh maka milisi itu membawa segumpal darah dan
ditunjukkan kepada PROVOST Korem 164 Wira Dharma Dili.

Menurut kesaksian teman-temanku itu, para pelaku atas semua kejadian itu
adalah TNI, milisi dan Polri. Dari seluruh pelaku banyak yang mereka kenal.
Antara lain, Gaspar asal Kecamatan Laga, Baucau; Marcelino asal desa
Akadiruhum, Dili; Domingos alias Dukote dan Sebastiao  asal Kecamatan Laga,
Baucau; Domingos asal Atsabe, Ermera; Antonio Rambo yang berasal dari Ossu,
Viqueque. "Mereka adalah anggota Aitarak pimpinan Eurico Guterres". Sebagian
dari mereka adalah anggota TNI dari Kesatuan 744, Anggota KODIM, KOREM 164
Wira Dharma. Selain mereka tentu saja masih banyak lagi, yang  dan masih
banyak lagi yang pasti tak dapat indentifikasi identitasnya. 

Sebagai sarjana psikologi, apakah kamu tak ingin membantu mereka, para koran
perang, Ri. Ajak teman-teman kamu untuk bekerja sebagai relawan di Bumi
Lorosae. Bantuan kalian tentu akan bermanfaat, paling tidak bisa menghapus
luka yang mereka derita akibat perang.  Pikirkanlah gagasanku ini. Salamku
untuk teman-teman.

Bogor, 16 Oktober 1999

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke