Precedence: bulk
GARA-GARA UANG, MILISI NYARIS SALING BUNUH
SEMARANG, (MateBEAN, 19/10/99). Wajah Fernando Viera nampak kusut
sore itu. Ia baru saja menerima telepon dari penelepon gelap yang mengancam
akan membunuhnya. Ketua Yayasan Belola, yayasan yang dibentuk orang-orang
pro integrasi, itu gugup karena tidak tahu apa yang mesti diperbuat. Walau
tidak dapat mengenali suara orang yang menelepon itu, ia yakin bahwa orang
itu pasti adalah 'lawan politiknya' di Jakarta. "Kami baru saja bertengkar,
karena orang-orang Forbalot itu makan uang kami," katanya. Forbalot adalah
organisasi pemantau jajak pendapat yang dibentuk oleh Forum Persatuan,
Demokrasi dan Keadilan (PPDK), organisasi pro integrasi di Jakarta Agustus
lalu.
Sebaliknya organisasi yang dituduh menilep uang itu balik menuduh Yayasan
Belola. Mereka menuding Fernando sebagai orang yang 'gila harta dan
jabatan'. "Dia maunya enak-enak saja, terima uang dan memperkaya diri.
Sementara kami ini siap mati di lapangan, tidak terima uang," kata seorang
pengurus Forbalot yang tidak mau disebutkan namanya.
Ancaman itu memang tidak main-main. Dalam sebuah pertemuan di Jakarta akhir
September, kedua kelompok ini nyaris baku hantam. Seorang pemuda asal
Atambua menuturkan, "Mereka hampir saling baku hantam. Untung saja ada Pak
Mochtar (veteran Operasi Seroja) menengahi." Ia juga heran melihat kelakuan
kedua kelompok pro integrasi itu, karena semuanya selalu bicara tentang
persatuan dan kesatuan, tapi nyatanya di lapangan selalu baku hantam,
terutama urusan uang.
Uang memang selama ini yang menjadi tali pengikat di antara
kelompok-kelompok pro integrasi. Saat saluran uang mulai macet, pertengkaran
pun tidak dapat dihindari. Seorang pegawai Sospol Pemda Tk I Jawa Tengah
mengakui hal itu. "Mereka maunya minta uang terus. Kalau waktu awal (sebelum
pengumuman jajak pendapat), kita masih layani. Itu memang kewajiban moral
kita untuk membantu mereka. Tapi sekarang sudah kalah, mau apa lagi?" ujarnya.
Ia mengaku pernah menolak tegas beberapa pemuda yang datang untuk minta
dana organisasi. Buntutnya, ia diancam akan dibunuh. "Tidak semuanya anak
Timtim. Ada juga orang dari NTT, dan dari Jawa sini. Kelihatannya preman,
karena omongannya nggak karuan," tambahnya.
Pada pertengahan September lalu, mereka juga ditolak oleh Mendagri Syarwan
Hamid. "Tidak ada lagi dana untuk kalian. Sekarang semuanya terserah saja,
kami nggak bisa membantu lagi," katanya tegas. Seorang stafnya menjelaskan
keputusan itu diambil karena pemerintah Indonesia tidak mau mempersulit
diri. "Dari dulu kita bantu, tapi kerjanya nggak benar. Disuruh kumpulkan
orang, malah uangnya dipakai main judi, ke hotel, minum-minum. Nggak heran
akhirnya mereka kalah."
Hal serupa diakui seorang pegawai kantor Menko Polkam yang
ditempatkan di Timor Lorosae selama jajak pendapat. "Benar sekali. Dana
untuk mereka itu sampai sekian M (milyar), tapi apa hasilnya? Sekarang sudah
kalah, mau minta dana lagi. Ya, nggak bisa. Pemerintah bisa hancur benar,
apalagi situasinya seperti ini," katanya.
Penolakan di mana-mana akhirnya menimbulkan masalah besar. Seorang
pemuda yang bergabung dengan kelompok Hercules, mengakui hal itu. "Dulu para
boss (maksudnya elit pro integrasi), kasih janji macam-macam. Mau bantu ini,
bantu itu, tapi sekarang duitnya sudah habis. Anak-anak akhirnya lari
semua," katanya.
Kelompok Hercules menurutnya memang tidak mau terlibat dalam rencana
pembentukan pasukan ini. Ia bercerita bahwa sebentar lagi elit pro integrasi
itu yang jadi sasaran. "Banyak orang yang marah sama mereka, karena terlalu
banyak janji."
Para pemimpin pro integrasi dari FPDK dan BRTT memang memilih
menghindar sekarang. "Katanya mereka mau dukung dari belakang sekarang,"
ujar anak buah Hercules itu. "Nggak tahu juga maksudnya apa. Tapi yang jelas
mereka jarang kelihatan dalam pertemuan." Dari beberapa sumber diketahui
bahwa para pemimpin itu bukan hanya menghindar, tapi sudah bersembunyi.
Basilio Araujo, jurubicara FPDK kabarnya sekarang lebih memilih menginap di
hotel daripada di markas FPDK, sementara Salvador Ximenes, sekretaris BRTT,
juga menyewa rumah baru di Kalibata, Jakarta Selatan.
"Biar saja mereka sekarang. Nanti kalau pekerjaan di NTT selesai,
mereka akan kami urus semua," ancam seorang pemimpin milisi di Semarang yang
akan berangkat ke NTT. "Dulu mereka yang selalu membakar semangat kita, kok
sekarang malah lari? Nanti kita lihat, jangan dipikir perjuangan itu
enak-enak saja. Tahunya hanya bicara dan bicara, tapi nggak mau ikut
bertanggung jawab. Kami yang akan tuntut tanggungjawab mereka nanti." ***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html