Precedence: bulk PROTES AM FATWA HARUS DIPROTES! Interupsi dan protes anggota DPR/MPR dari PAN, AM Fatwa, beberapa hari lalu terhadap Wakil Ketua MPR dari PKB Matori Abdul Djalil sungguh merupakan hal yang memuakkan. Fatwa protes karena Matori ikut memberikan orasi pada saat para profesional muda berdemonstrasi di depan gedung BEJ. Tak cuma interupsi dan protes, Fatwa bahkan mengancam akan membawa Matori ke Dewan Etik DPR -- sesuatu yang belum ada saat ini. Sebagai orang yang "terperosok" memilih PAN pada pemilu lalu (saya tertarik dengan platformnya yang muluk dan futuristik), saya betul-betul dibuat tidak mengerti dengan ulah Fatwa yang sok konstitusional. Sebab, menurut saya, sikap Matori justru merupakan cerminan wakil rakyat yang benar. Dia tahu realitas politik apa yang sekarang sedang terjadi di luar gedung DPR/MPR. Lepas dari kualitas calon presiden yang diajukan -- posisi moral politiknya yang menegaskan "pemenang pemilu harus diberikan kesempat pertama untuk mengajukan calon presidennya" merupakan pelajaran moral politik yang mesti dibela. Dalam konteks ini lah Nursyahbani benar, tugas wakil rakyat tidak terbatas hanya di dalam gedung DPR/MPR. Dan secara konsisten, Ketua Umum PKB ini sudah menunjukkannya kepada kita. Sikap Matori jelas bertolak belakang dengan Fatwa yang, menurut saya, sama sekali tak punya etika politik. Pertama, ia membuat batasan sendiri tentang peran wakil rakyat yang per definisi justru salah total. Kedua, ia telah "nyinyir" memprotes Matori dalam forum yang sama sekali tak relevan dengan isi protesnya. Ketiga, ia telah berlaku lancang mencampuri urusan internal partai lain. Keempat, ia telah mengkhianati platform politik partainya yang sudah ia setujui atau setidak-tidaknya telah mengkhianati pemilihnya yang termakan janji-janji muluk PAN pada saat kampanye. Elit PAN -- terutama yang duduk di kursi DPR/MPR, ternyata bukan kumpulan kaum reformis. Mereka cuma kaum oportunis. Penampilan para anggota DPR/MPR dari PAN secara keseluruhan memang sangat mengecewakan. Amien Rais terbukti sudah tak bisa dipegang omongannya: mulai dari sikapnya terhadap Soeharto dan Habibie (juga terhadap Golkar), janjinya untuk menjadi oposisi, sampai berbagai manuvernya dalam soal pencalonan presiden. Dan kini ditambah Fatwa, orang paling oportunis bahkan di mata anggota Petisi 50 di mana ia dulu bergabung, yang memprotes Matori hanya gara-gara Ketua Umum PKB ini tak setuju duet Habibie-Wiranto -- paket yang jelas-jelas ditolak kaum reformis. Sebagai pemilih PAN, saya menganggap PAN sudah finished. Karena itu saya sarankan kepada bung Faisal Basri, Bara Hasibuan, Santoso, dan siapa pun pengurus PAN yang tidak jadi anggota MPR/DPR segera mengundurkan diri. Kalau Anda masih ingin berpolitik secara bermoral, segera deklarasikan sebuah partai politik baru -- mungkin lima tahun mendatang Anda bisa berkompetisi dan menang. Saya yakin, tak ada lagi yang bisa Anda harapkan dari partai yang didominasi kaum oportunis ini. Segera tinggalkan mereka, sebelum Anda ditinggalkan massa pendukung Anda. Heru Hendratmoko (seorang pemilih PAN yang merasa tertipu) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
