Precedence: bulk


PEMBUNUHAN OLEH FALINTIL DAN INTERFET HANYA ISAPAN JEMPOL

        DENPASAR, (MateBEAN, 23/10/99). Setelah memberikan kesaksian
beruntun tentang kejahatan di Timor Lorosae, milisi lagi-lagi buka kartu
tentang praktek kotor yang mereka jalankan. Ternyata memberi keterangan
palsu kepada pers adalah pekerjaan lainnya. Selama bulan September, pemimpin
PPI Joao Tavares mengklaim bahwa anak buahnya ada yang tewas dibunuh
Interfet maupun Falintil. Bahkan salah seorang di antaranya dibakar
hidup-hidup oleh Interfet.

        Cerita mengejutkan ini tentu menyulut amarah masyarakat. Dan memang
itulah tujuan membuat kabar bohong tersebut. Seorang anggota milisi memberi
pengakuan bahwa semua cerita tentang penghadangan oleh Falintil maupun
pembunuhan oleh Interfet adalah isapan jempol belaka. "Bung tahu, kami ini
dapat duit kalau ada kerja. Kalau tidak ada kerja, tidak ada uang," katanya.
Ia sekarang tinggal bersama keluarganya di sebuah hotel, dan berusaha
memisahkan diri dari gerombolan milisi yang lain.

        Tujuan menyebar cerita bohong itu untuk memobilisasi masyarakat
Indonesia agar mau memberi dukungan. "Kalau tidak ada dukungan, orang ABRI
nggak mau dukung kita. Makanya sengaja dibuat cerita macam-macam, agar uang
jalan terus," katanya polos. Ia dulu aktif di kelompok Darah Integrasi, yang
diklaim oleh Panglima PPI Joao Tavares, telah 'diculik' oleh Falintil. "Itu
nggak benar. Memang ada sebagian dari orang Darah Integrasi yang bergabung
dengan Falintil. Mereka tidak disandera tapi memang karena kemauan sendiri."

        Ia kemudian bercerita tentang pembentukan milisi Darah Integrasi
yang sesungguhnya dipaksakan oleh komandan Kodim setempat. "Kita disuruh
bikin milisi. Katanya, 'malu kan, masa tempat lain ada milisi hebat-hebat,
di Ermera nggak ada?' Jadilah kita bikin kelompok milisi. Tapi anggotanya
banyak dari pro-kemerdekaan. Begitu ada kesempatan mereka langsung lari ke
gunung bergabung dengan yang lain." Hal serupa juga berlaku untuk
kelompok-kelompok di wilayah barat, seperti Dadurus Merah Putih di Bobonaro
dan Laksaur Merah Putih di Covalima.

        Lalu, apakah semua cerita bohong itu hanya untuk dapat uang?
"Sebenarnya tidak. Ada banyak anak muda kita (milisi -red) yang mati
ditembak TNI dan Brimob. Tidak tahu apa alasannya. Nah, setelah itu komandan
kompinya datang, dan suruh kita bikin keterangan bahwa yang mati itu
ditembak Falintil atau Interfet." 

        Bukti bahwa keterangan yang mereka berikan itu palsu sederhana saja.
"Lihat saja kasus pembunuhan Brimob di Mota Ain. Dia memang dibunuh
Interfet, tapi karena pakai baju milisi mau menyusup kembali ke Memo.
Kelihatan oleh Interfet, langsung di-dor. Tapi ceritanya lain lagi. Sampai
sekarang Polri tidak mau kasih lihat mayatnya, toh?" Memang klaim bahwa
Interfet atau Falintil melakukan pembunuhan hanya sebatas cerita saja, tidak
didukung fakta-fakta apa pun.

        Mantan milisi itu juga pernah memberi keterangan palsu kepada
pimpinannya. Akibatnya seorang anak muda tak bersalah jadi korban. "Saya
cerita seolah-olah anak muda itu baru saja memukuli milisi, jadi malamnya
kita culik." Untung saja anak itu tidak sampai terbunuh, karena kebetulan
salah satu anggota milisi masih bersaudara dengannya. 

        Lain lagi pengakuan seorang anggota Aitarak tentang kejadian di
Dili. "Waktu itu katanya Falintil turun ke kota, jadi kita disuruh bersiap.
Tapi ternyata yang suka tembak malam-malam ke arah kami itu TNI sendiri.
Saya baru tahu setelah sampai di Atambua. Banyak teman dari kampung yang
cerita lihat TNI malam-malam tembak ke arah kami." Gara-gara salah informasi
itu juga anggota milisi jadi ganas luar biasa, karena merasa diserang oleh
Falintil, padahal sebenarnya ditembak TNI.

        Praktek adu domba semacam itu memang sudah lama dipakai TNI di
Timtim. Mereka sering membunuh orang, lalu menuduh orang pro-kemerdekaan
yang membunuh, sehingga keluarganya mau dijadikan milisi. Banyak anggota
milisi yang menyesal setelah tahu duduk perkara sesungguhnya. Karena itu
juga mereka memilih kembali ke Timtim dan tidak mau lagi ikut para pemimpin
mereka. ***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke