Precedence: bulk


TERUS-MENERUS MEMPERKUAT ORGANISASI.

"bangunlah kau, wahai putra- putri dewata 
 songsonglah fajar timur yang sudah menyala"
(Omar Khayyam, "Seratus Satu Kwatrin",Orph�e, La Diff�rence,Paris
1997,hlm 3).


Walaupun baris-baris di atas ditulis oleh Omar Khayyam, penyair dan
pemikir Persia pada abad ke-XI yang lalu, tetapi jika kita menengok ke
keadaan sekarang, maka terssa beris-beris teresbut masih relevan bagi
kehidupan kita hari ini. Betapa tidak! Walaupun zaman kegelapan Orba
telah tumbang namun warna hitam masih menguasai pojok-pojok tanahair dan
kampung halaman di sana sini. Karena tigapuluh dua tahun kekuasaan
suharto yang dilanjutkan oleh muridnya Habibie telah berakhir, tidak
serta merta tanahair dan kampung halaman menjadi terang benderang dan
bersih dari kegelapan, serta cakar-cakar beracun para pengikutnya.
Terpilihnya Gus Dur sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil
presiden, tidak lebih dari awal periode baru seperti terbitnya fajar di
timur yang belum segera menghalau kegelapan dan kabut malam.

Cakar- cakar beracun dan kegelapan Orba Suharto dan Habibie masih
bergentayangan dimana-mana baik di kota-kota, di kampung-kampung jauh di
hulu di sungai-sungai ataupun di hutan-hutan kita. Mereka masih bisa
membunuh dan mencelakakan. Karena itu sedikitpun kita tidak boleh
mengendorkan kewaspadaan sebab sangatlah pasti mereka tidak akan mau
dengan suka rela meninggalkan begitu saja "sorga duniawi" yang mereka
peroleh dan nikmati melalui sistim Orba bersimbah darah selama tiga
puluh dua tahun lebih. Seorang penyair Tiongkok pernah mengingatkan agar
sekali-kali jangan membiarkan musuh yang terpojok bisa menyusun kembali
kekuatan dan balik menyerang maka oleh karena itu penyair tersebut
menulis "kejar musuh yang terpojok". Sedangkan Lu Sin, pengarang
Tiongkok tahun 1930-an berkata " Anjing yang sudah jatuh ke sungai,
jangan biarkan dia naik. Sebab jika dia bisa naik ke tebing kembali, dia
akan menggigit lebih dahsyat. Jalan terbaik menghadapinya adalah
mengambil batangan kayu dan memukulkannya ke kepala anjing tersebut".

Terpilihnya Gus Dur- Mega, sebagai pemimpin Republik ini, tidaklah lebih
dari terbitnya fajar sedangkan kita tidak tahu bagaimana keadaan
selanjutnya, siang dan malam setelah fajar mengitari bumi tanah air.
Sekalipun siang-malam yang bakal tiba susul- menyusul seiring dengan
timbul-tenggelamnya matahari masih menyimpan jutaan teka-teki tapi
setidak-tidaknya ia memberikan syarat dan peluang baru yang layak kita
gunakan sebaik-baiknya serta melombanya untuk terus- menerus memperkuat
dan memperluas rakyat bawah dan tertindas di daerah seluruh aliran
sungai di bawah satu program pemberdayaan yang jelas dan terarah. Dengan
demikian massa bawah dan yang paling bawah mampu menjadi tuan atas nasib
diri dan kampung halamannya serta kuasa menghalau sisa-sisa kegelapan.
Dengan cara ini pula partisipasi massa bawah dalam berbagai bidang bisa
diujudkan. Merekapun dengan cara ini mampu menjadi kekuatan pengawas
yang tangguh yang tidak bisa diabaikan baik terhadap kekauatan sipil
ataupun militer dengan cara ini nilai-nilai republiken bisa ditegakkan
secara nyata. Kita mampu mencegah otoriterisme, militerisme dan
kesewenang-wenangan, termasuk menghapuskan praktek-praktek KKN kemudian
melahirkan elit kekuasaan baru yang tumbuh dari bawah, melawan politik
uang, menegakkan kehidupan manusiawi di kampung-halaman. Hanya dengan
terus- menerus memperkuat organisasi massa bawah dan tertindas kita bisa
mengenyahkan kekuatan gelap baik yang berseragam maupun yang tidak dari
kampung halaman, hutan-hutan dan sungai-sungai kita. Dengan memperluas
dan memperkuat organisasi, kita mampu membangun kehidupan manusiawi:
fajar timur menyala yang sesungguhnya!

Terpilihnya Gus Dur-Mega menghadapkan pada kita pada gunung-gunung
pekerjaan mendesak yang mau tidak mau patut didaki. Berorganisasi,
memperkuat dan memperluas organisasi massa bawah dan tertindas di
mana-mana adalah cara kita menjawab tantangan-tantangan itu secara
nyata. Ide, nilai-nilai junjungan, program, organisasi, akhirnya menjadi
kemutlakan untuk merebut kehidupan manusiawi dan menjadi tuan atas nasib
diri. Tantangan-tantangan mendesak di atas adalah macan yang patut kita
tangkap. Berani dan sanggupkah kita menangkap harimau itu di sarangnya?
Jawabannya terpulang kepada kita semua, kepada seluruh Masyarakat Adat
Dayak. Jangan menyebut diri seorang Dayak, turunan Panimba Tasik,
Panetek Gunung, jika tak sanggup mendaki gunung dan menangkap harimau di
sarangnya!

Palangka Raya, 21 Oktober 1999.

Redaksi SAHEWAN TAJAHAN
Organ Yayasan Hatantiring
Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke