Precedence: bulk


JJ.KUSNI.


KEPADA SEORANG SAHABAT YANG BEGITU KUKENAL DAN KEMUDIAN MENJADI PRESIDEN
TANAHAIRKU.


I.

KITAPUN AKAN MAKIN SALING MENGENAL

akankah segala darah yang tumpah menjadi sia-sia
akankah airmata menjadi tanpa makna
harapan berarti fatamorgana
aku bertanya karena kata begitu gampang dicu�kkan penguasa
karena kekuasaan memang arak paling kuat gampang memabukkan

 
sudah kukitari busur bumi tanpa penyesalan
karena cinta memang ditakar kesanggupan mempertaruhkan kepala
jika kemudian kusaksikan dan harus kulakukan masih pengembaraan
karena tidak bakal menyerah, juga tidak kepadamu, baiklah, baiklah    
kitapun makin saling mengenal 

Paris, Oktober 1999.


II.

DINGIN MUSIM GUGUR

dingin jatuh ke ubun-ubun dari laqngit musim gugur
sepanggalah saja, sayang, jaraknya dari atap
sisa musium lalu lenyap sepenggal demi sepenggal 
seperti sapaan alam tentang ketiadaaan yang kekal
serta kesia-siaan mengharapkannya


masih segar di ingatan dan panas udarapun masih maerayapi tubuh, padahal
seminggu lalu aku di indonesia di tengah segala gejolak kalah atau
mengalahkan
penduduk mandi darah menolak tirani
tiba di sini di mana aku masih belum bisa mengakhiri kembara seorang
terusir
aku saksikan juga akhirnya pada sisa usia, runtuhnya keangkuhan dua
presiden pembunuh


menatap ke timur mengamati tanahair dari balik awan musim mulai beku
ketika menyaksikan jatuh-bangunnya kekuasaan lama dan baru
sekalipun seorang sahabat dekat akankah sanggup tidak mabuk berada di
puncak kuasa
masihkah akan ingat akan segala sumber derita dan malapetaka
mengurai buhul-buhul rahasia lama dipendam dan membuka jalan ke
kehidupan manusiawi?


pengalaman dari musim ke musim sepanjang kembara belum berujung
menegurku di setiap tapak selalu waspada
cinta gampang diucapkan
tak gampang dibela sepanjang musim  
jalan licin tak gampang-gampang dititi: dialah!


sahabat, wahai sahabatku
apakah kau ingat
apapun warna pakaianku
apapun nada laguku
pakaian dan laguku masih juga bernama duka?

Paris, Oktober 1999.


III.

YA, AKU MEMANG MEMBANGUNKAN KAU DARI TIDUR LARUT MALAMMU   

ya, aku memang membangunkan kau dari tidur larut malammu
kesayangan kepada negeri mengapa mesti ditidurkan?
maka kau pun kubangunkan untuk sadar kita tengah melangkah ke ambang
baru
orang-orang kecil senantiasa kuasa memaksa tiran turun singgasana
soeharto, habibie hanyalah satu dua nama
apapun namanya besok atau lusa
mereka pun akan diturunkan


ya, ya, aku memang membangunkan kau dari tidur larut malammu
kesayangan kepadamu tanahair memaksa kita selalu waspada
keutuhannya pun selalu dipertanya

Paris, Oktober 1999

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke