Precedence: bulk From: [EMAIL PROTECTED] Date: Tue, 26 Oct 1999 8:05:41 EDT SUBSTANSI KASUS BAGITO GROUP kASUS LAWAKAN DARI BAGITO GROUP DALAM SEBUAH ACARA DItv SWASTA INDOSIAR, Gebyar BCA yang mendapat reaksi keras dari warga NU dan lembaga NU nampaknya telah diselesaikan secara musyawarah tetapi secara substansial sangatlah mencemaskan dan menyesakan dada. Substansi dalam kasus tsb adalah adanya tekanan dan arogansi dari sebuah kekuatan massa dan adanya kesan tidak adanya sifat demokratis didalam sebuah lembaga ormas,atau NU. Lebih dari itu, nuansa demokrasi yang hendak dibangun bangsa dan negara ini rasanya tersendat dan mengecewakan rakyat, karena masih adanya tekanan dan pemaksaan dengan adanya kesan terlalu mengkultuskan dan mengsakralkan seorang pemimpin, kondisi ini memundurkan arti perjuangan demokrasi. Selain itu,tekanan dan ancaman atas profesi seseorang apalagi hanya profesi pelawak yang lebih pada segi hiburan,khususnya yang juga dilakukan oleh sebuah lembaga rasanya kok sulit diterima dalam pergaulan alam demokrasi saat ini, sehingga seharusnya nantinya lembaga tsb diberikan sosialisasi tentang demokrasi kalau tidak nantinya akan menjadi pengganggu bagi proses demokrasi bangsa ini dalam pergaulan dunia. PELAWAK adalah sebuah PROFESIONAL. Bagito group adalah sebuah kelompok profesi, dengan profesi melawak. sebuah lawakan adalah sebuah kata kata seperti puisi, sebuah nuansa sastra,sebuah karya seni yang karenanya tidak dapat diartikan secara harafiah dan eksplisit. Bahkan dalam lawakannya di TV Indosiar tsb, Bagito group sama sekali tidak menyebutkan nama dan jabatan, hanya lakon tentang Jabatan RT dan karenanya setiap kepala manusia bisa menginterpertasikan secara majemuk tentang lawakan mereka tsb. Lawakan sendiri adalah salah satu bentuk ekspresi dari kaum papa, setelah keluhan apalagi teriakan sudah tidak mampu lagi mengurangi penderitaan yang memuncak dan klimaks,maka hanya tertawalah ekspresi akir terhadap penderitaan hidup ini. Karenanya lawakan adalah hiburan dan obat yang merupakan salah satu sisi bagian kehidupan manusia,hampir setiap detik kita melakukan kekonyolan lawakan yang menggelikan bahkan setiap detik pula kita melihat kekonyolan pula yang dilakukan orang lain didalam menghadapi hidup ini. Lawakan penuh arti dan banyak arti, seperti seni pada umumnya. Mengapa harus ditekan, diancam bahkan dengan ancaman dan teguran yang beralaskan agama???? Rasanya tidaklah adil memperlakukan tokoh lawak dengan melakukan tekanan sementara dengan mata kasat kita lihat artis politik seperti Yusril Ihza Mahendra pernah berkata bahwa keinginan memajukan Gus Dur menjadi presiden layaknya seperti "petruk dadi ratu" sebuah kesinisan atas para "pelawak wayang". Mengapa komentar politis seperti ini tidak pernah mendapat tekanan, ancaman dan arogansi kekuatan masaa? Lawak adalah sebuah profesi sama seperti profesi wartawan, dokter, pengacara bahkan profesi politikus. Selayaknya untuk melihat kasus ini harus digunakan dengan kacamata profesi dan mendapat perlakuan yang adil untuk semua profesi. Kasus lawak tentang persoalan pemimpin rasanya sudah bukan barang baru, apalagi bagi seorang Gus Dur pribadi yang berkepribadian jawa timuran dengan penuh gojlokan, sesuatu yang mentradisi dikalangan warga Jawa Timur. Bahkan kita masih ingat, ketika Gus Dur mengulas tulisan bukunya tentang Suharto di Australia, Gus Dur dengan santai mengatakan bahwa Suharto itu "goblok". Sementara kita masih ingat juga, teater kompi susu yang berkeliling dikota kota besar di Jawa, bagimana Butet k dan Djaduk memerankan lakon dengan "suara suara pejabat bahkan suara cedal dari Habibie" dan Suharto...dan semua penonton puas tertawa...sebab itulah lawak dan arti lawak yang sukses adalah tertawa, mentertawai hidup ini sendiri. Sebuah koran di Jawa Timur, Jawa Pos bahkan pernah membandingkan botak kepala HaBIBIE dengan botak kepala Gorbachev dimana dipampangkan foto Habibie dengan kepala botaknya yang diadopsi dengan gambar kepala Gorbachev yang berukir silhuet pulau warna hitam...tetapi rasanya semua tak ada yang protes apalagi melakukan penekanan dan ancaman... Karenanya, tekanan, ancaman tsb (yang sudah melalui lembaga bukan lagi arus massa dimana seharusnya lembaga bisa mensosialisasikan arti demokrasi kepada massanya...) merupakan wujud reaksi dari pengkultusan dan pengsakralan akan seseorang pemimpin. Rasanya pengkultusan dan pengsakralan pada manusia apalagi itu seorang presiden bukanlah merupakan cermin bernegara dan berpolitik yang sehat, sebab seorang presiden ketika menjabat, dia bukanlah lagi seorang pemimpin kelompok tertentu apalagi kelompok agama tertentu, dia telah menjadi pemimpin seluruh bangsa tsb, yang pada akirnya setiap kepala anak bangsa mempunyai hak untuk melakukan "penilaian" atas pola kepemimpinan presidennya dan tak layaknya kelompok tertentu mengklaim sebagai "milik" mereka. Seorang presiden bukanlah pemimpin umat yang lebih homogen karenanya selayaknya pula idiom pengkultusan dan pengsakralan seperti memberi makna sebagai iai, santri, ulama, wali dll sepatutnya tidak ditempelkan. Sebab jabatan presiden adalah jabatan politik yang penuh dengan kerakusan kekuasaan horisontal dan bertanggung jawab terhadap rakyat berbeda dengan makna agama. Jabatan kiai, wali, santri dll adalah segala urusan secara vertikal yang tidak dapat dinilai atau tak ternilai dan bertanggung jawab terhadap yang Maha Kuasa. Disitu lah, substansi atas kasus pelawak bagito group tsb bagi proses demokrasi bangsa ini. salam demokrasi. (Nomen Nescio, Red,) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
