Precedence: bulk
FATWA ITU MEMANG AVONTURIR POLITIK
Bung Johnly dan bung Heru,
Saya tidak terkejut ketika AM Fatwa mengeluarkan pernyataan protes
kepada Matori Abdul Jalil saat turun bersama MPI untuk menolak
pertanggung-jawaban B.J.Habibie. Sejak awal kemunculannya di PAN, Fatwa
adalah wajah yang tidak membahagiakan. Saya jadi teringat Prof.
Dr. Arief Budiman, dalam sebuah diskusi bersama komunitas mahasiswa di
Salatiga, November 1998 yang lalu. Pendapatnya mengenai PAN diakui secara
jujur dan tegas. Dari segi platform partai berlambang matahari ini bagus.
Ini bisa dimaklumi karena juru masak di balik dapur partai ini bukan orang
sembarangan, khususnya dari segi kapasitas intelektual yang banyak
bermunculan dari kampung-kampung akademis. Nama-nama seperti Amin Rais,
Faisal Basri, Th. Sumartana, Arif Ariaman, dsb. adalah bukan orang yang
baru di kenal publik. Tetapi yang mengejutkan, menurut Arief Budiman dan
juga banyak kalangan, adalah kemunculan AM Fatwa di salah satu Ketua PAN.
Bahwa PAN kemudian mengundang image banyak kalangan sebagai representasi
Amin Rais yang berbasis Muhammadiyah menurut saya hal yang lumrah. PKB
pimpinan Matori Abdul Jalil bahkan lebih tegas dari itu. Ini semata-mata
menunjukkan bahwa dunia perpolitikan kita selama ini belum sepenuhnya
melepas ikatan-ikatan kultural yang selama ini cukup efektif bisa
diandalkan sebagai basis dukungan (ini kalau hitung-hitungan soal
massa).
Sosok Fatwa adalah sebuah pemandangan kontras di tengah-tengah para
begawan ini. Tetapi, konon (ini juga kabar angin), figur salah satu ketua
PAN ini justru dibilang yang paling rajin di antara pengurus partai
lainnya. Dia nyaris tidak pernah absen setiap rapat partai. Tetapi susahnya
juga dia suka ngomong kepada pers tentang sesuatu yang di luar pandangan
organisasi.
Misalnya, pada saat Amin Rais (Ketua Umum PAN) berusaha menunjukkan
partainya sebagai partai reformis dengan menolak koalisi dengan Partai
Golkar yang disebut-sebutnya sebagai partai pro status quo, Fatwa justru
berkata sebaliknya. Ini justru menjadi duri dalam daging.
Kalau integritasnya diakui sebagai orang yang konsisten dan tidak apolitis
barangkali tak menjadi persoalan. Paling-paling orang menanyakan, "AM Fatwa
siapa, Fatwa who ?", kalau memang dia tak dikenal publik sebelumnya. Tetapi
karena rapot sejarahnya telah banyak orang tahu dikenal sebagai sang
avonturir dan oportunis, maka atas nama moral politik keberadaannya juga
dipertanyakan.
Di sisi lain memang PAN adalah fenomena unik dalam sejarah politik
Indonesia. Dalam tubuh kepemimpinan PAN banyak muncul wajah-wajah baru yang
sebelumnya belum pernah terjadi interaksi antara satu sama lain. Ini yang
membedakan antara PAN dengan partai-partai yang lain yang secara umum masih
memiliki kaitan sejarah dan alur pemikiran secara idiologi yang saling
bersentuhan. Seorang Faisal Basri yang keturunan NU minimal masih memiliki
garis kultur dan pemikiran sebagaimana laiknya jamaah di lingkungan
Nahdiyyin. Tetapi (mungkin) dengan terpaksa harus memahami alur pikir
Amin Rais atau Fatwa yang garis kulturalnya dekat dengan Muhammadiyah.
Ketika masing-masing bertemu dari berbagai unsur dan menyatu secara plural
ini masih membutuhkan proses penyesuaian yang panjang.
Untuk prospek ke depan komunitas partai yang plural begini memang sangat
dibutuhkan. Massa tidak juga lagi merasa terikat pada sejarah kultural yang
selama ini menjadi andalan hampir semua partai. Tetapi masyarakat sudah
lebih pada pertimbangan-pertimbangan rasional untuk memilih partai yang
dinilai lebih profesional.
Dalam konteks ini PAN adalah partai modern yang harus bekerja keras untuk
kebutuhan jangka panjang dan berperan membangun masyarakat yang rasional.
Tentu banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Singkirkan dari sekarang
figur-figur avonturir dan oportunis, seperti Fatwa, yang hanya menjadi duri
dalam daging partai, sebelum daging itu membusuk dan dijauhi banyak orang.
Selagi masih sangat memungkinkan untuk memperbaiki rumah ya bung Faisal
tidak perlu membikin rumah baru. Cukup kayu-kayu yang disarangi rayap-rayap
saja yang
perlu disingkirkan dari rumah megah itu.
Saya malah setuju AM Fatwa bukan hanya diprotes, tetapi juga harus di-
tarik dari DPR (lebih baik lagi kalau dikembalikan sebagai rakyat biasa),
karena masih banyak orang yang lebih kredibel dan bermoral untuk menduduki
posisi yang dumuliakan rakyat ini. Kalau sudah duduk di wakil rakyat, yang
perlu diingat adalah dia bukan lagi bekerja kepada pemberi garansi, tetapi
harus bekerja untuk rakyat. Oleh karenanya bukan saja rakyat yang sempat
membesarkan PAN yang berhak kecewa, tetapi seluruh rakyat. Ini tidak boleh
dibiarkan berlanjut.
Akbar Abraham
----------
> From: SiaR News Service <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: SiaR-->SURAT PEMBACA: Re SiaR-->SURAT PEMBACA: PROTES FATWAHARUS
DIPROTES!
> Date: 25 Oktober 1999 17:16
>
> Precedence: bulk
>
>
> PROTES FATWA HARUS DIPROTES!
>
> Bung Heru Hendratmoko yang sedang kecewa,
>
> Saya sangat mendukung Anda: bahwa protes A.M. Fatwa kepada Matori Abdul
> Djalil memang pantas untuk diprotes. Semua dalil yang Anda kemukakan (ada
> empat buah), yang mengalasi protes Anda kepada A.M. Fatwa, adalah benar.
> Tetapi, saya tidak sekecewa Anda dalam memandang PAN. Soalnya, sedari awal
> pembentukannya, saya sungguh-sungguh ragu: "Bisakah air dicampur dengan
> miyak?". Dapat pulakah seorang moralis diciptakan hanya dalam semalam?
>
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html