Precedence: bulk


SURAT OKTOBER

JJ. KUSNI.

Paris, oktober 1999

Dik,

seminggu lalu aku masih saja berada di indonesia di tengah gejolak
merebut kembali tanahair dari tangan tiran untuk menjadi tuan atas nasib
sendiri. perubahan berlangsung demikian cepat tetapi aku masih saja
tetap seorang pengembara tanpa ujung: pengembara dalam artian fisik dan
pencarian. dari posisi ini, dari pinisi kembaraku, maka kutulis
surat-surat ini untukmu sebab mungkin pada suatu hari jejak-jejakkupun
tak bisa kau lacak. perubahan pemegang tampuk kekuasaan tidak mengakhiri
pertarungan, justru membuatnya tambah seru dan teka-teki kehidupan pun
tidak akan usai dan tidak akan pernah usai. akupun ingin kalian selalu
bertanya, meragukan sesuatu temuan dan mencari jawabannya dengan mata
hati terbuka lebar. 


1.


dengan langkah lunglai seorang raja turun keluar istana
tak ada dentum meriam, pengiringnya pun lunglai berpakaian lusuh amis darah
oktober bulan ini waktu kembali menyaksikan keangkuhan tiran dikalahkan
ketika seluruh rakyat bangkit tak lagi rela diperintah bagai budak
setapak saja dari istana masih tertinggal bekas-bekas darah pertempuran


terbayang masih di pelupuk mata minggu lalu batu beradu peluru
penduduk mengamuk, orang-orang tertindas menantang ajal
merebut tanahair, hak tuan atas diri, merenggut kaisar dari kuda
maut berseragam terperangah melihat diri tak punya makna hilang daya 
pertarungan berdarah ini,adik, sungguh sekolah besar bagi orang senegeri 

abang becak,sopir taksi,abang ojeg,orang kampung juga orang-orang
berdasi
bukan cuma mereka, sayang, tetapi penduduk penghuni seluruh pulau
bicara anti dwi-fungsi, bicara politik, ekonomi, kkn, presiden & menteri
sejuta cara digunakan mengungkap tekad:
tanahair harus kembali ke pemiliknya, perampok harus dihalau!
perampok jangan jadikan presiden, menteri, gubernur dan panglima!


maka adikku, katakan kepada anak-anak, katakan kepada mereka
jangan lupa tanahair, jangan jadikan tanahair sarang bandit
ketika mereka minum dan ketika makan katakan kepada mereka 
nasi dan air bukan untuk membesarkan mereka jadi budak
katakan kepada mereka makan dan minum untuk jadi manusia tuan bumi 


2.

menyanyilah, adik,ikutlah menyanyi oktober ini bersama seluruh negeri
kutahu berapa dasawarsa sudah kau bersama jutaan orang yang terbunuh
kehilangan dan disiksa 
menahan nyeri luka dan duka menunggu mentari disekap awan
menyanyilah, adik, menyanyilah sayang, cobalah walau sepatah dan terbata
mungkin bibirmu gemetar tapi cobalah senandungkan sesuatu
bukti harapan manusia tak pernah dan tak gampang tumpas
bahwa malam memang selalu mempunyai ujung


3.

ketika tanahair tiga lebih dasawarsa menjadi penjara dan rumah tanahan
negeri diperintah dengan bedil alam amis darah putra-putri pulau
panarung menjadi antareja, hilang tiba-tiba dan muncul tiba-tiba
apakah yang membuat mereka bertahan terus bertarung
menjadikan setiap helaan nafas denyutan jantung
helaan dan denyut-denyut pertarungan?
kukiraq dia ini jugalah, sayang: sosok lama tak tua-tua
bernama kepercayaan pada manusia dan keadilan
sosok abadi tak tertumpaskan peluru, pedang dan siksa penjara


4.

oktober sebentar lagi lewat demikianpun tahun ini
waktu memang tidak pernah mau perduli
kitapun tak pernah berkelebihan memilikinya
matahari datang dan pergi 
timbul-tenggelam dari hulu muara sungai
adik wahai adikku, kegembiraan sering membuai lalai
sedangkan musuh yang kalah tak pernah lelap di balai-balai
maka siagalah selalu untuk tak terjebak serangan mendadak!

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke