Precedence: bulk TENTANG "ONZE PRESIDENT" surat utk ken setiawan di negri kincir Ken, anakku yang tercinta, Maaf, sudah beberapa hari emailmu tentang soal tersebut pada pokok di atas, belum sempat aku jawab. Padahal, sejatinya, justru pertanyaan yang penting. Maka, perhatikan sekarang jawabanku di bawah ini. Tapi harap kau baca dengan pemikiran yang cermat (aku tahu benar, kau bisa untuk itu). Karena jawabanku ini merupakan tanggapan yang, harus aku akui, aku kemukakan secara spontan. Aku yakin, kalaupun keliru tanggapanku ini, Gus Dur dan Mbak Mega - yang arif itu - pasti tidak akan menjadi gusar karenanya. Ken, Beritamu bahwa dosenmu sejarah menyebut Gus Dur sebagai "onze president" sungguh pernyataan spontan yang simpatik. Aku tidak kenal pribadi dengan dosen itu. Maka aku cuma mengharap, semoga reaksi yang hangat itu benar-benar keluar dari sikapnya yang bersaudara terhadap Indonesia. Bukan sikap yang timbul dari sisa-sisa lama, ketika Indonesia dilihat sebagai "yunior" yang patut disayang dan dielus-elus oleh sang senior. Itu sisi pertama beritamu yang menggembirakan. Karena dia seorang dosen sejarah tentu pernyataan itu bukan muncul dari pemikiran seorang awam belaka. Maka, Ken, barangkali, kalau kau ada waktu, bagus sekali kalau kau minta waktu padanya untuk berwawancara. Sederhana saja yang bisa kautanyakan: Mengapa Anda gunakan kata "onze president". Apa alasan Anda, dan bagaimana hari depan "onze president" itu. Ken sayang, Sisi kedua beritamu yang juga penting, ialah (seperti kaukatakan) bahwa "reaksi Leiden positif". Ini tentu saja menarik. Karena semua orang tahu: Leiden ialah universitas tertua di Belanda, yang - selain itu - termasuk universitas paling bergengsi di dunia. Sekarang aku mau menjawab pertanyaanmu. Sesudah kau mendengar reaksi Leiden dan dosenmu sejarah, engkau bertanya: bagaimana pendapatku? Ya, aku akan menjawab pendek saja, tapi mudah-mudahan bisa dijadikan bahan ngobrol di antara teman-temanmu. Mungkin juga dengan dosenmu itu. Ken, Satu hal yang perlu diingat. Terpilihnya duet Gus Dur - Mbak Mega, menurut aku, merupakan hasil maksimal dari bangsa Indonesia yang berada di tengah-tengah, dan berusaha keluar dari, kemelut berkepanjangan dan berdimensi amat luas itu. Kurang dari itu berbahaya bagi eksistensi negeri dan bangsa, lebih dari itu tidak atau belum mungkin. Karena itu, dengan pengertian demikian itu, aku pun menerima duet pimpinan nasional GD-MG tersebut tanpa bercadang. Sekarang bagaimana dengan kabinet yang disusunnya? Terus terang aku tidak kenal "pribadi" masing-masing menteri, kecuali satu atau dua orang saja. Karena itu, jika aku harus berpendapat, pendapatku bukan berdasar pada pribadi masing-masing, tapi berdasar pertimbangan umum dengan mengingat situasi dan kondisi Indonesia yang melahirkan perkembangannya yang demikian itu. Ken, begini: Semula aku terkejut karena "gemuknya" kabinet, dan - terasa - sepertinya ada pos-pos yang sedikit dipaksakan demi "koalisi nasional"- demi lengkapnya "warna-warna pelangi". Aku lalu teringat pada sejarah masa lalu, ketika Bung Karno menyusun "kabinet seratus menteri", segera sesudah terjadinya peristiwa G30S tahun 1965 itu. Kabinet Gus Dur - Mbak Mega memang masih jauh dari jumlah seratus. Tapi bahwasanya gemuk, jelas satu dan sama penyebabnya. Yaitu, karena hasrat hendak merangkul semua, kecuali terhadap mereka yang jelas-jemelas tidak lagi dikehendaki rakyat. Agar dengan demikian terciptalah satu kekuatan bersama guna menangggulangi krisis yang berkepanjangan secepat-cepatnya. Ya, rakyat memang sudah terlalu capek. Semua sudah mendambakan kedamaian, agar bisa mencari nafkah dengan aman. Tidak terancam tendangan sepatu dan peluru nyasar! Kabinet "ana-ini-ayo-hing" ini tentu akan membawa resiko. Yaitu: Efisiensi tidak akan penuh, jika tidak dipimpin oleh program yang jelas, terinci dan tegas. Sejatinya kegemukan dan susunannya yang demikian itu juga pencerminan dari suara-suara yang banyak bergalau di masyarakat, sejak sebelum Gus Dur dan Mbak Mega terpilih. Yaitu suara-suara yang menyatakan hasrat akan adanya "rekonsiliasi nasional". Apa itu batasan "rekonsiliasi" dan, lebih sempit lagi, "rekonsiliasi nasional"? Lalu, sesudah itu terjawab, antara siapa dengan siapa, atau apa dan apa, yang harus direkonsiliasikan? Ken, Begitulah jawabanku sementara. Nanti kita perpanjang lagi? Sementara itu, tolong pertanyaanku di atas kau ikut tanggapi. Karena dengan begitulah kita menyumbang masukan pada Gus Dur dan Mbak Mega - pimpinan nasional pilihan rakyat. Hersri Setiawan.- ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
