Precedence: bulk SURAT KE NEGRI KINCIR ANGIN (2) untuk Ken Setiawan Ken anakku sayang, Emailmu sudah aku baca dengan senang pagi tadi. Sekarang aku akan melanjutkan surat ke negri kincir yang kukirim untukmu kemarin. Kemarin dengan kopi untuk Mbak Widuri, juga yang kedua ini. Agar supaya aku bisa menggunakan waktukju dengan hemat. Memang, Ken. Kalau aku sedang mengayuh sepeda dari dari Breukelen ke Kockengen, desa kita, di sepanjang padang rumput luas itu - yang selalu mengingatkan aku pada hamparan sawah di kiri kanan jalan sepanjang Bantul - Sapuangin (Mangiran), aku sering membatin tentang "ketidak-adilan" Tuhan dalam membagi waktu. Mengapa kepada semua orang dibagi jatah waktu yang sama, sehari-semalam, semua dapat dua puluh empat jam. Bagaimana penggunaannya terserah masing-masing! Padahal nyatanya, banyak orang (juga yang ada di sekeliling kita, perhatikanlah) cukup sejatinya seharmal itu diberi waktu dua atau tiga jam saja. Sekedar untuk mempertahankan diri dan jenis. Lalu jatah selebihnya, kumpulkan semua itu, dan bagikan pada mereka-mereka yang dengan dua puluh empat jam seharmal sejatinya terlalu pendek. Alangkah indahnya jika bisa begitu, bukan? Ken, aku bangga padamu. Mengapa? Karena sekarang, sesudah beberapa minggu menjadi mahasiswa, engkau telah tampil di depanku sekaligus sebagai kawan diskusi. Bukan sekedar tentang bagaimana masak capcoi ala papa atau nasigoreng versri hersri, tapi kita bisa ngobrol tentang "onze president" Gus Dur, tentang papers Henk Maier dan Ben Anderson. Ah, ya. Alangkah bangga juga mamamu Ruth Havelaar, dan opamu Wim Wertheim di sana. Ken anakku, Kau tanya apa kira-kira kelemahan duet Gus Dur - Mbak Mega (GD-BM) menurutku? Barangkali ini saja: kedua-dua mereka itu tokoh karismatik yang dihormati dan dicintai rakyat banyak. Persis seperti bapak Mbak Mega Bung Karno dulu. Karenanya kecenderungan pengkultusan menjadi sangat besar. Dan, kalau itu terjadi, diam-diam Demokrasi akan pupus dengan sendiri. Ya, Ken. "Karismatik" dan "Demokrasi" memang dua hal yang tidak bisa dipersatukan. Maka, dalam realitas politik, bisa terjadi DPR akan menjadi mandul. Dibikin mandul oleh cahaya pelangi kabinet persatuan nasional itu. Pendeknya, lembaga resmi yang mestinya berfungsi sebagai pengontrol akan menjadi kehilangan dayanya sendiri. Jadi bagaimana? "DPR-Jalanan" harus tetap siaga. Pemuda, Mahasiswa dan Rakyat jangan tidur. Tetap menjadi - aku kembali pada pendapatku beberapa tahun lalu - penonton permainan yang sadar. Penonton yang sadar, artinya penonton yang selalu aktif dan kritis. Ken anakku, Kau tanya pendapatku tentang peniadaan Deppen? Lembaga yang - katakanlah - telah lekat menyatu dalam keberadaan RI itu! Barangkali alasan dasarnya memang prinsipiil dan jelas. Duet GD-BM tokoh-tokoh pembela demokrasi. Pembela HAM, khususnya hak menyatakan pendapat. Dan lahan kegiatan utama Deppen justru di sini inilah. Maka GD-BM, tidak ingin lahan itu disumbat, sadar atau tak sadar, oleh kiprahnya kekuasaan yang, notabene, selalu besar bercenderung pada watak manipulatif. Kita semua ingat bagaimana Deppen selama rejim Suharto berkuasa telah menjadi terompet dari Hari ke Hari Omong Kosong belaka. Tapi Depsos, mengapa juga disudahi? Entahlah, tapi barangkali karena dari departemen ini, di masa lalu, kebocoran terlalu besar? Ken sayang, Sudah beberapa hari ini Jakarta tenang. Ada demo-demo kecil, tapi itu justru ibarat riak yang menggelombang di tengah arus. Justru menjadi pemandangan yang semarak. Apalagi duet GD-BM juga merespon dengan simpatik. Mereka songsong para pendemo itu, mereka dengarkan suaranya, untuk dijadikan masukan guna pengambilan keputusan kebijakannya. Ada pepatah menasihati: Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah. GD-BM, tampaknya, adalah "raja-rajaY yang bersemangat "raja alim" - begitulah mudah-mudahan seterusnya! Apa yang menarik lagi aku temui di kehidupan sehari-hari? Ada satu hal. Menarik dalam arti negatip tapi. Sesudah tentara "simpan senjata" sekarang diganti oleh anak-anak di kampung-kampung. Mereka itu punya permainan baru. Main tembak-tembakan dengan pestol-pestolan serba plastik. Pelurunya bulat kecil sebesar pelor senapang penembak burung. Harga pestol itu, yang paling sederhana bentuknya, paling kecil dan paling murah harganya: delapan ribu rupiah. Kemarin aku naik metro dari Kp Melayu ke Klender, di sisiku duduk seorang ayah. Di pangkuannya anak laki-lakinya, belum lagi tiga tahun. Pulang dari "belanja" pestol plastik! Itu satu hal. Hal lain, di mulut-mulut gang di mana saja terpampang kain rentang (spanduk): "Kami warga Kampung ... menyatakan perang terhadap narkoba" (akronim baru dari: narkotika dan obat terlarang). Itulah Ken, salah satu sisi wajah masyarakat Jakarta sekarang. Sepele tampaknya. Tapi inilah produk rejim Orbaba yang militeristik dan konsumptif itu. Sampai besok! Hersri ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
