Precedence: bulk


CATATAN PERJALANAN KE BUMI LORO SA'E (17)


Dear Joko dan Riri,

Kalian tahu ya, sebagian besar rakyat Timor Lorosae diusir dari wilayahnya,
kemudian mereka menjadi pengungsi. Aku menduga, mereka sudah meninggalkan
rumah masing-masing sejak diumumkannya hasil referendum beberapa waktu lalu.
Bahkan, di wilayah Timor sendiri mereka telah tinggal di hutan setelah
mereka selesai memilih pada saat referendum, 30 Agustus lalu. Mereka yang
kemudian terpaksa tinggal di barak-barak pengungsian di Timor Barat, NTT dan
di berbagai wilayah Indonesia lainnya setelah mereka diusir dan harus
meninggalkan tempat-tempat pengungsian mereka, baik di gereja, susteran
maupun tempat lain yang mereka anggap aman. Siapa yang mengusir mereka?
Siapa lagi kalau bukan milisi yang dibantu oleh tentara Indonesia. 

Tentu saja mereka tak mungkin tinggal di wilayah Indonesia karena mayoritas
dari rakyat Timor Lorosae telah memilih untuk menolak otonomi yang
ditawarkan oleh pemerintah Indonesia. Konsekuensinya, ya mereka harus
kembali ke negaranya itu. Tapi, tak semua rakyat Timor Lorosae yang berada
di wilayah Indonesia tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sana. Misalnya,
mereka yang sudah lama bekerja di sini, tanpa pernah mendapat informasi apa
pun tentang negaranya. Rata-rata mereka dulu dibawa ke Indonesia  oleh
Tutut, anak sulungnya Suharto melalui Yayasan Tiara. Orang Timor Lorosae itu
dipekerjakan sebagai tenaga buruh di berbagai wilayah, antara lain di
Kalimantan, Jawa, dan tempat lain. Mereka terpisah jauh dengan saudara
mereka setanah air. Maka tak heran jika mereka tak saling berkomunikasi. Di
tempatnya bekerja itu ada yang tak ada surat kabar, televisi maupun radio.
Ketika mereka siap pulang ke negaranya yang sudah lama ditinggalkannya itu
mereka tak membawa apa-apa. Termasuk kekayaan mereka yang dikumpulkan sen
demi sen dan itu semua ditinggalkan untuk teman-teman mereka. Mereka
meninggalkan tape recorder dan televisi. Mereka juga tak tahu apa-apa bahwa
negaranya telah dibumihanguskan oleh tentara Indonesia bersama milisi
bentukan tentara. 

Berbeda dengan saudara-saudara mereka yang berada di wilayah Indonesia
karena terusir dari wilayahnya itu. Mereka tahu keadaan tapi tak punya
apa-apa kecuali baju yang melekat di badan, atau kalaupun membawa
perlengkapan itu pun seadanya. Nah, selama mereka di Indonesia itu mereka
tersebar di mana-mana dan sebagian dari mereka tentu saja sempat membeli
pakaian dan kebutuhan sehari-hari untuk keperluan mereka setelah tiba
kembali di Timor Lorosae.  Memang sih kalau dibandingkan dengan penumpang
pesawat komersial, bagasi mereka luar biasa banyaknya. Tapi itu tak salah
menurut aku. Kenapa? Pihak yang mengurus pengungsi memperbolehkan mereka
membeli ini dan itu. Ya, kalau mereka membeli barang yang banyak tentu
mereka punya maksud yang baik. Mereka mendengar bahwa sebungkus rokok saja
harganya Rp 20 ribu sementara sabun untuk mencuci pakaian saja berapa ribu
per gram. Susu untuk bayi? Duh, pasti nggak terbeli oleh mereka. Selama
mereka di Indonesia tentu mereka sempat berkomunikasi siapa saja yang ketika
itu berada di Dili atau wilayah lain di Timor Lorosae. Siapa sih yang tega
tak membelikan apa-apa untuk sanak keluarganya itu. Riri, aku tahu keadaan
mereka selama berada di sini karena sesungguhnya aku ingin mencari
teman-teman atau siapa saja yang pernah aku temui selama aku di Timor Lorosae. 

Lalu, siapa yang menjadi penyelenggara repatriasi bagi mereka, para
pengungsi itu? Kalian pasti tahu lembaga yang bernama UNHCR (United Nations
High Commissioner for Refugees) bersama IOM (International Organization for
Migration). Mereka lah yang memulangkan para pengungsi itu. Pemulangan
pengungsi Timor Lorosae dari wilayah Indonesia itu telah mereka lakukan
sejak 14 Oktober silam. Untuk keperluan ini, mereka antara lain menyewa
pesawat terbang untuk mengangkut pengungsi dari Jakarta, Denpasar, Surabaya,
dan Kupang ke Baucau dan kemudian ke Dili. Tapi, kendati pemulangan ini
dilakukan oleh organisasi internasional yang telah banyak makan asam garam
kegiatan serupa di berbagai belahan dunia, tapi ternyata cara kerja mereka
itu jauh dari sempurna. Sepertinya mereka tak mau peduli untuk memperbaiki
kekeliruan dan ketidak- sempurnaan yang telah mereka lakukan pada repatriasi
sebelumnya. Pihak yang mengurus pemulangan pengungsi tampak tak mau
mengerti, bahwa keberadaan mereka di wilayah Indonesia, setelah proses
referendum berlangsung bukan atas kemauan mereka sendiri. Karena mereka
terusir tentu saja selama dalam pengungsian di Indonesia mereka tetap saja
merasa was-was. Mereka terkadang ketakutan yang menurut kita aneh. Mereka
sering merasa ada yang mencari atau ada orang yang mau menangkap mereka. 

Aku memang beberapa kali berada di bandara, sekadar mengucapkan selamat
jalan pada beberapa kawan yang pernah kuliah di sini dan siapa tahu ada
kawan yang aku kenal selama aku berada di Timor Lorosae beberapa waktu lalu.
Dari sana lah aku tahu bahwa kerja dua lembaga itu amat amburadul. Seperti,
ketika mereka telah berada di bandara, pihak penyelenggara tak segera
memanggil nama-nama yang telah tercatat sebagai warga yang akan kembali ke
negaranya, yang secara de facto bukan lagi wilayah Indonesia itu. Para
pengungsi itu dibiarkan berlama-lama di teras terminal A-1 Bandara
Sukarno-Hatta. "Penyusunan daftar nama itu jelas sangat tidak sistematis.
Ada suami yang sudah dipanggil sementara istri dan anaknya masih berada di
luar," kata salah seorang pengungsi dari Dili. Padahal, jika kita simak dari
daftar nama yang disusun, mereka sudah dikelompokkan per keluarga atau
rombongan. Penyelenggara tak mau tahu bahwa di antara calon penumpang itu
ada anak-anak, bayi dan orang tua yang tentu saja rentan terhadap deru angin
malam. Bahkan di antara mereka ada yang tengah menderita sakit. 

Duh, kesel bener aku melihat kekacauan kerja mereka itu. Kayaknya, dua
lembaga itu tak menganggap pengungsi itu sebagai manusia tapi sekadar barang
bawaan. Yang kapan saja bisa diangkut atau tak ada masalah jika dibiarkan
begitu saja. Aku pengen marah, tapi aku 'kan bukan panitia penyelenggara.
Bagiku sih enak saja mereka berangkat terlambat, karena aku punya banyak
waktu ngobrol dengan teman-temanku. Tapi orang yang berbadan sehat hanya
sebagian kecil saja dari mereka yang mau kembali itu. 

Kerumitan lain adalah soal bagasi. Kenapa para pengungsi itu membawa barang
bawaan yang lebih banyak dibandingkan penerbangan komersial. Namun,
setibanya di bandara, pihak penyelenggara mengumumkan bahwa setiap orang
hanya diperbolehkan membawa barang bawaan maksimal 25-30 kilogram. Lagi-lagi
pihak penyelenggara tak bisa konsisten, padahal mereka membolehkan pengungsi
itu berbelanja dahulu sebelum pulang ke Timor Lorosae. "Kalau per orang
diminta membawa bagasi 30 kilo per orang, kenapa semua barang saya diterima
dan dimasukkan ke dalam?" tanya salah seorang dari mereka, di depan counter
check in. Lelaki tengah baya itu benar. Akan dikemanakan bagasi itu jika
ternyata overweight?

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh IOM dan UNHHCR adalah repatriasi pada
awal November lalu. Seperti pada gelombang pertama, pengangkutan pengungsi
dari tempat penampungan sementara mereka yang tersebar di Jakarta dan
sekitarnya ke Bandar Udara Sukarno-Hatta dilakukan oleh Komisi Penanganan
Pengungsi, yang terdiri atas orang-orang Timor Lorosae dibantu oleh Tim
Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) dan FORTILOS [Forum Solidaritas untuk Rakyat
Timor Lorosae]. Setelah semua pengungsi berada di teras bandara, IOM baru
memberitahu Komite Penanganan Pengungsi bahwa pemerintah Indonesia tidak
membolehkan pesawat tinggal landas. Mendengar kabar ini, Komisi Penanganan
Pengungsi segera mencari informasi yang lebih lengkap tentang duduk
perkaranya. Diperoleh informasi bahwa dari Departemen Perhubungan tidak
mengeluarkan larangan terbang. Masalahnya adalah pihak bandara tidak
mengizinkan pesawat lepas landas karena Menteri Koordinator Kesejahteraan
Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan (Menko Kesra-Taskin) yang baru belum
mengeluarkan surat izin yang diperlukan. Tapi, pihak IOM merasa tidak perlu
menghubungi lagi Menko Kesra-Taskin - instansi pemerintah yang berwenang
dalam masalah pengungsi - karena sudah ada MOU (Memorandum of Understanding)
dengan Haryono Suyono, Menko Kesra-Taskin kabinet Habibie. 

Mengetahui hal ini, TRK segera menghubungi pejabat-pejabat yang berwenang.
Sementara itu petugas-petugas IOM hanya duduk berpangku tangan. Dari Menko
Kesra-Taskin Hamzah Haz diperoleh keterangan bahwa dirinya belum mengerti
masalah karena baru satu hari menerima serah terima jabatan dengan menteri
lama. Menurut seorang pengurus TRK yang malam itu berada di Bandara
Sukarno-Hatta, TRK meminta Hamzah Haz untuk segera mengeluarkan surat kepada
pihak yang berwenang di bandara. "Tapi ini sudah jam sepuluh malam, tidak
mungkin menteri datang ke kantor untuk bikin surat. Lagi pula kabinet Gus
Dur rencananya baru besok akan membahas persoalan pengungsi Timor Timur."
Sementara para pengungsi telah berada di bandara pada 3 November, siang
hari. Karena surat tidak bisa diperoleh malam itu, terpaksa para pengungsi
bermalam di teras Terminal A. Banyak dari mereka yang tidur di lantai tanpa
alas, karena mereka tak membayangkan harus menginap di emperan bandara.
Padahal, ada banyak anak berusia di bawah lima tahun, bayi, dan orang yang
tengah menderita sakit. Jika ada keluarga yang mengantar, mereka memilih
pulang ke tempat penampungan. Tapi apa lacur. 

Siang, 4 November itu masih tak ada tanda-tanda kapan pesawat akan
berangkat. Tiba-tiba ada informasi dari pihak penyelenggara, sekitar pukul
12.15, bahwa pesawat akan berangkat pukul 14.00. Bisa kalian bayangkan apa
yang terjadi? Proses check in jadi kacau balau. Bukan saja karena waktu yang
sempit tapi juga lantaran pihak penyelenggara lamban dalam memanggil nama
dan bagasi yang tampak besar dipertanyakan, dan tak bisa dibawa. Yang paling
runyam, sebagian pengungsi baru tiba di bandara setelah pesawat tinggal
landas. Akibatnya mereka harus menunggu penerbangan berikutnya, yang menurut
rencana akan berangkat pukul 2.00 dini hari Jumat, 5 November.  

Ternyata penerbangan kedua itu lebih kacau lagi. Karena pesawat berbadan
lebar itu membawa beban terlalu berat sedang landasan di bandara Comoro
pendek, burung besi itu mengalami kerusakan yang cukup serius. Kapal terbang
carteran dari Kamboja itu ternyata tak bisa segera kembali ke Jakarta.
Namun, kerusakan ini tak segera diberi-tahukan oleh petugas IOM kepada para
pengungsi maupun pihak Komisi Penanganan Pengungsi. Mulai pukul 19.00 para
petugas IOM memproses keberangkatan seperti biasa. Tapi pada sekitar pukul
21.00 mereka terlihat santai, tidak tergopoh-gopoh seperti biasanya. Setelah
ditanya oleh salah seorang relawan Indonesia yang menangani registrasi,
mereka mengatakan bahwa pesawat terbang masih di Denpasar dan kemungkinan
baru datang pukul 10.00 tanggal 6 November. Lagi-lagi para petugas IOM tak
berusaha memberitahukan hal ini kepada para pengungsi. Untungnya para
relawan berinisiatif menjelaskan keterlambatan ini dengan hati-hati kepada
para pengungsi. Anggota TRK yang berada di bandara beranggapan konsekuensi
keterlambatan ini pasti sudah diantisipasi oleh IOM. 

Ternyata dugaan itu meleset. Pada 6 November sampai pukul 8.30 para
pengungsi tak ada tanda-tanda mendapatkan sarapan. Sementara petugas IOM pun
belum tampak batang hidungnya. Lalu, seorang petugas dari PT JAS, aku nggak
tahu singkatan apa ini,  mendatangi relawan yang stand by di sana, "Saya mau
menginformasikan, bahwa makan pagi yang telah dipesan apakah jadi
disediakan. Tapi kami harus mendapatkan konfirmasi dari salah seorang dari
tiga petugas IOM yang berwenang." Salah seorang relawan berinisiatif memesan
makanan ini setelah dia menghubungi seseorang, seandainya pihak IOM tak
menyediakan makan. Sekitar pukul 09.00 seorang petugas IOM datang malah
marah. "Saya sudah memesan makanan, mengapa kamu memesan lagi," kata petugas
asal Thailand tersebut. "Lihat saja, sudah jam sembilan makanan belum
datang, orang-orang sudah lapar, dan lagi banyak bayi dan anak-anak di
sini," kata seorang relawan. Soal makan itu tak lantas selesai begitu
pesanan datang. "Sisakan untuk staf kami," begitu pesannya. Pihak IOM pesan
pada para relawan yang membagikan boks, hanya satu boks per orang. Dia pun
menghitung berapa yang tersisa. "Pengungsi yang terdaftar hanya 275 orang,
sementara saya memesan lebih dari 300 boks." Ketidakpercayaan ini tentu saja
membuat sejumlah relawan tersinggung. Daripada tidak dipercaya, seorang
relawan yang berang, "Coba Anda cek dari ujung sini ke ujung sana. Mereka
hanya mendapatkan bagian satu boks per orang." Dia tetap ngotot bahwa
seharusnya makan pagi tersisa beberapa boks. Usut punya usut kenapa ada yang
belum mendapat bagian? Eh, konsumsi yang dibawa untuk staf mereka ternyata 1
boks besar, yang isinya lebih dari yang dia minta. Nah! Aku hanya bisa
mengurut dada ketika salah seorang temanku menceritakan kejadian hari Jum'at
pagi itu.

Daripada ricuh gara-gara soal makanan, TRK kemudian mengambil inisiatif
untuk menyediakan makan siang dan malam untuk mereka. Juga mengambil
dispenser dari Jakarta mengingat banyak ibu yang ingin membuatkan susu untuk
anaknya tapi tak tersedia air panas. Segala fasilitas untuk keperluan
pengungsi yang terlantar itu akhirnya disediakan oleh TRK. Bahkan, hanya
sekejap saja para petugas dari IOM itu berada di bandara sementara tak ada
informasi kepastian pesawat berangkat. Menyebalkan sekali ya. 

Jam demi jam berlalu tanpa  ada kepastian. Ini yang membuat pengungsi resah.
Mereka mulai mencari informasi sendiri lewat handphone yang mereka bawa.
Informasi ternyata simpang siur. Ada yang mengatakan, pesawat yang pertama
mengalami kecelakaan. Ada kabar lain, pesawat itu tak bisa kembali ke
Indonesia karena sayapnya patah. Yang lebih mengerikan lagi, ada berita yang
didengar, entah dari mana, pesawat itu tak diizinkan kembali ke Jakarta. Ada
yang mengatakan, mereka tak jadi berangkat. Begitu seterusnya. Dan, pihak
IOM hanya tutup mulut. Kalau mereka hanya diam saja bagaimana relawan yang
membantu mengurusi pengungsi itu bisa menjawab, ya. Sejak siang, ketika aku
berada di bandara, aku sempat ngobrol dengan salah seorang staf IOM. Dia
bilang, kami terus berkoordinasi dengan petugas kami di sana. Entah di mana
yang dimaksud "sana" itu. Aku pun nggak tahu apakah mereka punya hati dan
nurani ketika menyaksikan anak-anak mulai merengek, ada yang sakit. Terus
terang aku sempat panik ketika anaknya Tomi, sahabatku itu mulai sering
demam. Tak ada dokter yang stand by di sana. Kalaupun Piere itu harus dibawa
berobat, bagaimana kalau nanti ketinggalan pesawat. Selama aku menunggui
anak si Tomi itu aku punya waktu untuk ngobrol dengan si staf itu. Entah apa
sebabnya, dia mulai bertanya, "Kenapa ya  mereka mau merdeka padahal
pemerintah Indonesia sudah membantu Timor Timur?" Seperti meledak hati dan
kepalaku mendengar pertanyaan seperti itu. Aku tak mau berkhotbah pada dia,
tapi tak selayaknya pertanyaan itu diajukan ketika dia tengah membantu
repatriasi pengungsi yang akan kembali ke Timor Lorosae. 

Informasi yang benar akhirnya datang juga. Bukan dari pihak IOM tapi berasal
dari salah seorang petugas bandara yang memberitahukan informasi kapan
pesawat landing di Cengkareng. Mendengar informasi ini Komisi Penanganan
Pengungsi segera mengadakan pertemuan untuk mengantisipasi persiapan segala
sesuatu sejalan dengan penundaan keberangkatan pesawat. Itu berlangsung pada
Jum'at, 5 November 1999, sekitar pukul 19.00. Pihak IOM tak bisa lagi
menolak ketika mereka didesak oleh pihak Komisi Penangan Pengungsi agar
segera menjelaskan pada calon penumpang. Mereka tak lagi bisa berkelit.
Padahal sejak pagi mereka masih arogan, "Pesawat akan segera datang. Jangan
khawatir, kami terus berkoordinasi dengan pihak kami di sana." Itu saja yang
bisa mereka sampaikan. Memang, pihak IOM tak kooperatif. Mereka tak pernah
menganggap kehadiran Komisi Penanganan Pengungsi yang justru membantu
sebagian besar tanggungjawab mereka. Mereka pun tak mau tahu soal mekanisme
pengambilan bagasi ketika pengungsi tiba di tempat transit, di Timor
Lorosae. TRK mendapatkan informasi langsung dari Dili bahwa pengambilan
bagasi di sana kacau luar biasa, karena semua orang ingin segera mengambil
barang bawaan mereka. Ketika hal ini diinformasikan pada pihak IOM, salah
seorang staf malah menjawab, "Bagaimana mungkin Anda bisa menghubungi orang
di Dili?" Informasi ini tentu bukan isapan jempol belaka. Salah seorang
teman yang sudah berada di Dili memberitahukan lewat telepon satelit.
Mereka meminta tim yang mengurus pengungsi itu mengatur mekanisme yang
sederhana bagaimana pengambilan bagasi. Seorang teman usul, biarkan saja
mereka mengatur sendiri bagaimana cara termudah pengambilan bagasi mereka.
Syukurlah, mereka berhasil membentuk tim untuk itu. Semoga saja tim ini
bekerja dengan efisien. Sayang temen-temen relawan di Jakarta belum mendapat
kabar bagaimana mereka mengatur pengambilan barang bawaan mereka itu.

Keluhan lain dari Dili adalah begitu tiba di sana, lelah dan lapar. Tapi tak
ada seorang pun yang menyediakan kue atau minum untuk mereka. Mungkin saja
lembaga yang mengurus pengungsi itu tak terpikir atau memang tak mau tahu.
Tapi salah seorang relawan sempat mendengar keluhan mereka, bahwa dana
mereka terbatas. Kalau memang demikian, bisa saja kita bertanya, perlu dana
berapa banyak sih untuk menyediakan sekadar snack dan air mineral dalam
gelas? Kalau benar demikian, ya itu semua karena kerja mereka saja yang
tidak sistematis. Artinya, mereka tak mau memikirkan apa yang sesungguhnya
amat pengungsi perlukan setibanya di tanah airnya. 

Singkat cerita, akhirnya pihak IOM mengumumkan soal penundaan penerbangan
itu menjadi Minggu, 7 November pada dini hari. Para pengungsi yang telah
lelah dan letih itu tak lagi bisa berkata-kata. Ketika ada calon penumpang
yang mengusulkan, kenapa tidak mencarter pesawat lain kalau ternyata pesawat
yang akan membawa mereka masih rusak, pihak IOM hanya menjawab, "Kami tidak
punya dana untuk itu." Apa mau dikata. Mereka hanya bisa pasrah.  Kalian
tahu, ketika sedang terjadi debat soal pemberangkatan ini, Piere bocah
berusia 4 tahun itu melepas sepatunya lalu melemparkan pada boss IOM itu.
Tak seorang pun yang menyuruh Piere. Tapi ini menunjukkan bahwa anak kecil
pun kesal dan marah atas perlakuan semena-mena itu. 

Apakah pihak IOM peduli atas segala fasilitas yang harus mereka adakan
karena keterlambatan itu? Pihak Komisi Penanganan Pengungsi lah yang
tunggang langgang. Mengatur segala keperluan untuk mereka itu secara
mendadak. Tim relawan menyediakan pakaian dalam untuk semuanya, susu untuk
anak-anak, snack dan menyediakan teh serta kopi. Lagi-lagi petugas IOM
segera meninggalkan bandara, untuk kembali ke hotel, mungkin. Dan mereka
bisa tidur nyenyak di dalam kamar yang sejuk dan berkasur empuk. Mereka
melupakan begitu saja bagaimana nasib para pengungsi yang terlantar di bandara. 

Hari Minggu, 7 November akhirnya tiba juga. Satu demi satu mereka dengan
wajah lelah dan pasrah meninggalkan bangsal di ruang check in menuju ke
ruang tunggu. Dengan terseok-seok mereka membawa barang-barang yang mereka
tenteng. Saat itu memang aku masih berada di sana, bukan karena apa-apa tapi
karena terlanjur berada di sana. Sekalian saja aku ingin mengucapkan selamat
jalan pada mereka, yang akan kembali. Sekitar pukul 03.00 dini hari pesawat
itu terbang mengangkasa menuju Timor Lorosae. Beberapa menit kemudian,
Komisi Penanganan Pengungsi baru tahu bahwa ada 127 bagasi mereka yang tak
mungkin diangkut oleh pesawat tua itu. Tapi, pihak IOM tak menjelaskan pada
mereka kapan dan di mana barang bawaan yang tentu sangat mereka butuhkan itu
bisa diambil.  Kalau ditanya, mereka pasti akan menjawab, barang itu akan
dibawa bersama penumpang yang akan berangkat selanjutnya. Tapi kapan itu
akan terjadi? Dan sekali lagi mereka tak mau tahu apa saja isi bagasi yang
tak terbawa itu. Aku bisa membayangkan, betapa panik mereka begitu tahu ada
sejumlah barang yang tertinggal di Jakarta. Lalu, jika isinya adalah barang
untuk kehidupan mereka sehari-hari bagaimana? Mungkin saja ada susu untuk
anaknya, mungkin saja ada pakaian untuk oleh-oleh atau kebutuhan lain. Dan
sekali lagi pihak IOM tak mau tahu �.

Joko dan Riri, itulah sekelumit cerita ketika aku mengantar mereka kembali
ke Timor Lorosae. Duh, sengsaranya mereka itu � Sampai di surat mendatang,
ya. Kalau aku tidak malas, aku akan tulis beberapa surat sekaligus sebelum
aku berangkat ke Medan dan Aceh. Itu kalau aku tidak malas lho �

Jakarta, 14 November 1999
Salam kangenku,

Pratiwi

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke